Breaking News:

Ibu Meninggal 1 jam Usai Melahirkan, Bayi Ini Diasuh Bibi di Tenda Pengungsian, Rumah Kebakaran

Bayi baru lahir bernama Yulda Trikalisa ditinggalkan sang ibu selama-lamanya. Ibu bayi tersebut meninggal saat melahirkannya.

TRIBUN SUMSEL/PAHMI RAMADAN
Arnila (40) bibi Yulda Trikalisa saat mengendong Yulda di lokasi kebakaran di Seberang Ulu I Palembang, Senin (16/11/2020). Yulda bayi perempuan ini ibunya meninggal saat melahirkan dan saat ini terpaksa tinggal di tenda karena rumah orangtuanya terbakar. 

TRIBUNNEWS.COM - Bayi baru lahir bernama Yulda Trikalisa ditinggalkan sang ibu selama-lamanya.

Ibu bayi tersebut meninggal saat melahirkannya.

Kini ia harus dirawat oleh sang bibi di tenda pengungsian karena rumah ayahnya hangus terbakar tak bersisa.

Keluarga Yulda menjadi salah satu korban kebakaran di Jalan KH Faqih Usman, Kelurahan 1 Ulu Laut, Kecamatan SU I Palembang.

Kebakaran pada Jumat (13/11/2020) sekitar pukul 19.00 WIB itu menghanguskan banyak rumah warga hingga tak bersisa.

Pada Senin (16/11/2020), bayi tersebut tengah tertidur di dalam tenda pengungsian bersama bibinya, Arnila (40).

Ardani (35) ayah Yulda saat ditemui di Tempat Kejadian Perkara (TKP) mengatakan, istrinya meninggal satu jam setelah melahirkan anaknya Rabu (4/11/2020) malam.

Baca juga: Pacar Ogah Tanggung Jawab, Remaja Bunuh Bayi yang Baru Dilahirkan Lalu Dibuang ke Selokan

Baca juga: Remaja Ini Bunuh Bayi yang Dilahirkannya di Kamar Mandi, Kubur Lalu Ambil Lagi & Buang ke Selokan

Baca juga: Keji, Setelah Bunuh Bayi, Cewek Cibinong ini Pura-pura Terkejut saat Nonton Evakuasi Mayat Bayinya

Arnila (40) bibi Yulda Trikalisa saat mengendong Yulda di lokasi kebakaran di Seberang Ulu I Palembang, Senin (16/11/2020). Yulda bayi perempuan ini ibunya meninggal saat melahirkan dan saat ini terpaksa tinggal di tenda karena rumah orangtuanya terbakar.
Arnila (40) bibi Yulda Trikalisa saat mengendong Yulda di lokasi kebakaran di Seberang Ulu I Palembang, Senin (16/11/2020). Yulda bayi perempuan ini ibunya meninggal saat melahirkan dan saat ini terpaksa tinggal di tenda karena rumah orangtuanya terbakar. (TRIBUN SUMSEL/PAHMI RAMADAN)

"Istri saya meninggal setelah melahirkan putri saya yang ketiga ini. Istri saya meninggal akibat pendarahan yang ia derita," ujarnya Senin (16/11/2020).

Lanjut Ardani menuturkan, rumahnya hangus terbakar akibat kebakaran pada waktu itu.

"Tidak ada yang tersisa Mas, yang ada di pikiran saya hanya menyelamatkan diri dan ketiga anak saya," katanya.

Ardani menjelaskan, sudah dua malam ini ia bersama ketiga anaknya tidur di teras rumahnya.

"Hanya teras rumah kami ini yang masih bisa digunakan untuk tidur dan tempat makan kami, sudah dua malam ini kami tidur di sini. Kepanasan ya kepanasan ke hujanan ya kehujanan, hanya terpal yang kami pasang ini menjadi atap kami," ungkapnya.

Diketahui sehari-hari Ardani bekerja sebagai supir ketek.

"Sudah lama saya tidak bekerja mas, saya masih dalam keadaan kesedihan. Pertama saya ditinggalkan istri saya, kedua anak saya Yulda yang masih sangat kecil dan menerima cobaan yang begitu berat ini, namun saya tetap bersukur karena saya dan ketiga anak saya masih diberi keselamatan," ungkapnya.

Untuk makan ketiga anaknya, Ardani hanya menerima bantuan dari pemerintah setempat dan warga lainya.

"Harapan saya agar ada bantuan lainya, terutama tempat tidur untuk anak saya yang baru lahir ini. Karena dia hanya tidur di teras rumah kami yang terbakar ini, beratapkan terlapal dan saya kasihan melihatnya," tutupnya sambil mengeluarkan air mata.

Sementara itu Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial, Dinas Sosial Kota Palembang Azhari Romli mengatakan, untuk bantuan bersifat umum.

"Untuk saat ini kita mengutamakan bantuan pangan, seperti makanan, minuman dan lain-lain. Untuk bantuan sandang seperti selimut baju, kain dan lain-lain kitu tunda sementara karena kita masih berkordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi," katanya.

Lanjut Azhari menuturkan, ada tiga bantuan khsusus yang akan diberikan, pertama umum, kedua bantuan untuk bayi dan ketiga bantuan untuk lansia.

"Untuk bayi artinya kita akan memberikan bantuan pokok seperti susu, pampers, selimut dan lain-lain," tutupnya.

Baca juga: Fakta Mama Muda Bogor Bongkar Kuburan Bayi yang Dibunuhnya, Motif Hingga Ancaman Hukuman

Baca juga: Ibu Melahirkan di Emperan Toko dan Bayi Sungsang, Bidan Sedang Belanja di Pasar Langsung Membantu

22 KK Kehilangan Tempat Tinggal

Sebanyak 22 KK (kepala keluarga) yang meliputi 80 jiwa harus kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran yang menghanguskan pemukiman warga di Jalan H Faqih Usman Kecamatan Seberang Ulu 1 Palembang, Jumat (13/11/2020) malam

Setidaknya ada 8 rumah semi permanen yang hangus dan rata dengan tanah akibat kebakaran itu.

Camat Seberang Ulu 1,Mukhtiar Hijrun mengatakan, api diduga berasal dari korsleting listrik di rumah salah seorang warga.

"Api diduga dari adanya korslet di rumah Pak Leo yang menyebabkan terjadinya kebakaran dan langsung merambat ke rumah para tetangga," ujarnya saat ditemui ketika meninjau korban kebakaran, Sabtu (14/11/2020).

Tidak ada korban jiwa ataupun luka akibat kebakaran ini.

Kobaran api pertama kali terlihat di waktu magrib dan baru bisa dipadamkan sekira pukul 20.05 WIB.

"Api berhasil dipadamkan berkat bantuan warga, 9 unit mobil pemadam, dibantu 2 unit kapal penyemprot PT rangko karena memang lokasi kebakaran ini berada persis di pinggir sungai," ujarnya.

Mukhtiar mengungkapkan, sebagian besar korban kebakaran ini tidak bisa menyelamatkan barang berharga milik mereka.

Untuk itu, jajaran perangkat pemerintah setempat telah membangun posko siaga bencana dan dapur umum guna membantu kebutuhan logistik bagi korban kebakaran.

Bagi warga yang ingin membantu korban kebakaran ini, juga bisa langsung mendatangi posko siaga bencana yang didirikan di rumah ketua RT 32 Jalan H Faqih Usman Kecamatan Seberang Ulu 1 Palembang.

"Karena memang banyak warga yang hanya membawa baju di badan, mereka tidak bisa menyelamatkan barang-barang berharga. Kami selaku pemerintah setempat tentu akan memberikan bantuan yang dimulai dari mendirikan posko siaga bencana dan dapur umum. Namun bagi warga yang ingin memberikan bantuan, silahkan datang langsung kesini guna memberikan bantuan," ujarnya.

Baca juga: Aksi Heroik Dokter Selamatkan Pasien Covid-19 saat Kebakaran di RS, Dijuluki Pahlawan, Terluka Parah

Baca juga: Polisi Tambah 3 Tersangka dalam Kasus Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung

Tangis Ibu Kais Puing-puing

Kebakaran yang menghanguskan pemukiman warga di Jalan H Faqih Usman Kecamatan Ulu 1 Palembang, Jumat (13/11/2020) malam, menyisakan luka mendalam di hati para korban.

Dengan mata berkaca-kaca, Nurbaiti (34) yang merupakan salah satu korban kebakaran, tampak tak kuasa menahan kesedihannya saat mengais puing-puing rumahnya yang kini telah rata dengan tanah akibat di lalap si jago merah.

Air mata Nurbaiti makin tak tertahankan saat ibu dua anak itu mengangkat kepingan buku pelajaran milik buah hatinya yang kini sebagian besar sudah hangus terbakar.

"Saya bingung karena tidak ada yang tersisa, mulai dari baju, barang berharga sampai buku-buku anak saya juga hangus," ujar Nurbaiti seraya menghapus air matanya saat dibincangi ketika sedang mengais sisa-sisa kebakaran yang juga telah menghanguskan kediamannya, Sabtu (14/11/2020).

Tak hanya buku pelajaran dan barang berharga lainnya, kebakaran itu juga menyebabkan Nurbaiti tak bisa menyelamatkan handphone yang selama ini digunakan anaknya untuk belajar.

Mengingat saat ini sekolah-sekolah masih menerapkan sistem belajar Dalam Jaringan (Daring), menjadikan handphone sebagai salah satu benda penting bagi pelajar.

"Anak saya yang pertama, kelas 3 SMP dan yang bungsu kelas 1 SMP. Sekarang hp untuk belajar juga sudah hangus terbakar, saya tidak tahu bagaimana mereka akan belajar nantinya," ujarnya yang kembali berurai air mata.

Nurbaiti baru menyadari adanya kebakaran sekira waktu Maghrib.

Saat itu ia melihat kepulan asap hitam pekat yang tiba-tiba masuk dari celah jendela rumahnya.

Betapa terkejutnya ia, ketika membuka pintu dan melihat kobaran api sudah menggumpal serta melumat rumah tetangga tepat di depannya yang hanya dibatasi oleh jalan setapak.

Seketika Nurbaiti langsung berteriak dan memanggil kedua anaknya agar segera menyelamatkan diri.

"Saya tidak kepikiran apa-apa lagi, saat itu cuma ada saya dan anak-anak. Saya cuma mau menyelamatkan nyawa kami waktu itu," ujarnya.

(TribunSumsel.com/Pahmi Ramadan)

Artikel ini telah tayang di Tribunsumsel.com dengan judul Sedih, Bayi 11 Hari Ini Ibunya Meninggal Saat Melahirkan, Tinggal di Tenda, Rumah Ayahnya Terbakar

Editor: Miftah
Sumber: Tribun Sumsel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved