Breaking News:

Masyarakat Jabar Tuntut Gelar Doktor Dosen yang Lakukan Pelecehan Batu Lambang Peribadatan Dicabut

Dalam petisinya mereka meminta agar universitas negeri di mana dosen tersebut sempat belajar, juga mencabut gelar doktor yang telah mereka berikan

ist
Sejumlah akademisi dan para tokoh kabuyutan serta perwakilan dari komunitas adat usai menandatangai Petisi karangkamulyan di kampus Stikom Bandung, Selasa (17/11/2020) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar Arief Permadi

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Oknum dosen yang diduga melakukan pelecehan terhadap batu lambang peribadatan di  Situs Ciung Wanara di Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Oktober lalu berbuntut panjang.

Sejumlah akademisi, budayawan, dan tokoh masyarakat sepakat membuat Petisi Karangkamulyan  yang berisi sejumlah tuntutan.

Mereka meminta agar universitas negeri di mana dosen itu mengajar meninjau kembali status dosen tersebut sebagai pengajar di universitas tersebut.

Petisi Karangkamulyan mereka rumuskan dalam pertemuan yang dilakukan di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Jalan Bojongkoneng, Kota Bandung, Selasa (17/11/2020). Jang Sukmanbrata, inisiator Petisi Karangkamulyan, mengatakan dalam pertemuan, sedikitnya ada 55 orang yang mendukung petisi tersebut.

"Namun, karena mereka tinggal di luar Bandung Raya, penandatanganan kali ini hanya diwakili 26 orang saja,” ujarnya dalam rilis yang diterima Tribun, Selasa.

Ketua Stikom, Dr Deddy Djamaluddin MSc dan akademisi yang juga budayawan, Dr Etti RS, menurut Jang Sukmanbrata, ikut menandatangani Petisi Karangkamulyan ini.

Baca juga: Tenaga Pendidikan Non-PNS dari PAUD hingga Dosen Dapat Bantuan Rp 1,8 Juta

"Ada juga pengarang Aan Permana Merdeka, dan sejumlah tokoh kabuyutan serta perwakilan dari komunitas adat," ujarnya.

Baca juga: Istana Akui Pencopotan Kapolda Metro Jaya dan Jabar Arahan dari Pimpinan Tertinggi

“Perilakunya tidak menunjukkan keadaban dan etika dasar seorang doktor,” tulis mereka dalam petisinya.

Dalam siaran pers yang dikeluarkan Pasamoan Budaya Peduli Karangkamulyan (PBPK) disebutkan, pertemuan budaya yang menghasilkan Petisi Karangkamulyan  itu berlangsung secara virtual lewat grup WA Sunda-Nusantara.

Halaman
12
Editor: Eko Sutriyanto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved