Breaking News:

5 FAKTA Keluarga Dani yang Ngaku Mudik Gombong-Bandung: Sang Ibu Malu, Sengaja Jalan Kaki Cari Uang

Lima fakta keluarga Dani-Masitoh yang mengaku mudik dengan jalan kaki dari Gombong-Bandung. Sang ibu malu hingga sengaja jalan kaki untuk mencari uang

Tribun Jabar/Andri M Dani
Dani (38) dan Masitoh (36) sembari membawa dua anaknya yang masih balita nekat jalan kaki pulang mudik dari Gombong (Jawa Tengah) ke Soreang, Kabupaten Bandung karena tak punya pekerjaan setelah di-PHK di tempat kerjanya. Mereka berangkat dari Gombong pada Minggu (2/5) sore dan Jumat (7/5) siang baru sampai di Ciamis. Inilah lima fakta keluarga Dani-Masitoh yang mengaku mudik dengan jalan kaki dari Gombong-Bandung. Sang ibu malu hingga sengaja jalan kaki untuk mencari uang 

TRIBUNNEWS.COM - Inilah lima fakta keluarga Dani Rahmat (39) - Masitoh Ainun (36) yang mengaku mudik dengan jalan kaki dari Gombong-Bandung.

Kisah mudik dari pasangan suami istri, Dani dan Masitoh memantik simpati dari sejumlah masyarakat.

Mereka mengaku jalan kaki dari Gombong, Jawa Tengah menuju kampung halamannya di Bandung, Jawa Barat dengan berbekal uang Rp 120 ribu.

Dani dan Masitoh juga mengajak kedua anaknya masih berusia balita untuk berjalan kaki sejauh kurang lebih 279 Km.

Baca juga: SOSOK Dani yang Ngaku Mudik Jalan Kaki Gombong-Bandung Bawa Anak Istri, Disebut Kerap Buat Masalah

Baca juga: TERUNGKAP, Masitoh dan Dani Bukan Mudik dari Gombong-Bandung Tapi Sengaja Jalan Kaki untuk Cari Uang

Namun tak lama, terkuak fakta lain dari perjalanan 'mudik' pasangan ini.

Rupanya, mereka tidak benar-benar mudik. Mereka sengaja berjalan kaki untuk mencari uang!

Keluarga ini merekayasa cerita sekaligus menjual rasa iba agar mendapat belas kasihan dari orang-orang yang ditemui.

Bahkan ibunda Dani mengaku malu dengan perilaku anaknya serta membeberkan sikap Dani selama ini.

Berikut lima fakta keluarga Dani-Masitoh yang mengaku mudik dengan jalan kaki dari Gombong-Bandung, sebagaimana dirangkum Tribunnews.com dari Tribun Jabar:

1. Dani kerap merekayasa cerita

Viralnya kisah Dani-Masitoh yang mengaku mudik dengan berjalan kaki dari Gombong ke Bandung membuat orang-orang yang di sekitar mereka buka suara.

Mereka membeberkan seperti apa sosok Dani dan Masitoh.

Satu di antaranya adalah Ujang yang merupakan tetangga Lilis Suryani, ibunda Dani.

Ujang menyebut Dani kerap merekayasa cerita.

Dani disebut menjual rasa iba demi mendapatkan uang.

"Demi mendapatkan materi, ia menjual rasa iba itu," katanya.

Ia juga mengetahui keberadaan Dani pada pekan lalu di rumah ibunya.

Dani juga sempat bertengkar dengan sang ibu.

"Seminggu sebelumnya ada di sini dan bertengkar dengan keluarganya," katanya.

2. Dani juga kerap membuat masalah

Lilis Suryani dan Fitria Anisa (adik Dani)- Lilis Suryani, ibu Dani Rahmat, pria yang jalan kaki bersama istri dan anaknya Gombong- Bandung mengungkap fakta mengejukan dan mengaku malu mendengar kabar tersebut.
Lilis Suryani dan Fitria Anisa (adik Dani)- Lilis Suryani, ibu Dani Rahmat, pria yang jalan kaki bersama istri dan anaknya Gombong- Bandung mengungkap fakta mengejukan dan mengaku malu mendengar kabar tersebut. (Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin)

Sosok lain yang mengumbar sifat Dani adalah sang adik, Fitria Anisa.

Anisa mengatakan, kakaknya sering membuat masalah setiap kali datang ke rumah ibunya.

"Memang setiap kali ke sini kerap membuat masalah," kata Fitria.

Ia juga membenarkan sempat ada keributan antara ibunya dengan istri Dani.

Ia mengaku, tak rela karena ibunya sampai dibentak-bentak.

"Saya gak terima ibu saya digituin," katanya.

Anisa juga mengaku sempat cekcok dengan kakak iparnya, Masitoh.

Hal itu terjadi sebelum Dani, istri, dan anaknya berangkat.

Saat itu, kakaknya memang sempat bilang akan "ngagembel".

Namun, Fitria tak terlalu memedulikan ucapan kakaknya.

"Saya dan ibu tidak tahu seperti itu, saya kira balik lagi ke kontrakannya."

"Yang saya tahu mereka ngontrak, tahu-tahu viral," ucapnya.

3. Ibunda mengaku malu

Sementara itu, Lilis Suryani, ibunda Dani mengaku sudah tak tahan atas anaknya sendiri.

"Setiap ke sini ia kerap bawa masalah saja. Saya sudah capek mengurusnya harus bagaimana," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Minggu (9/5/2021).

Saking tak tahannya, warga Kampung Bojong Sayang RW 1 RT 3, Desa Pananjung, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung ini berharap, ada yang bisa memulangkan anaknya ke Medan.

Ia mengaku sudah capek karena anaknya selalu membuat masalah.

"Semoga pemerintah membantu memulangkan mereka, sebab bukannya saya tidak sayang, tapi sudah capek karena kerap membuat masalah," ujarnya.

Akibat anaknya viral jalan kaki dari Gombong ke Bandung, Lilis pun kini merasa malu berat.

"Malu banget sampai seperti itu, kalau bisa nggak usah viral. Ibu enggak pernah nyuruh seperti itu," kata ibu Dani.

Ia pun membandingkan kehidupan Dani dengan kehidupannya.

Meski sudah tua, Lilis Suryani tak sampai meminta-minta belas kasihan dari orang, seperti Dani dan Masitoh.

Ia mengaku masih mampu bekerja.

"Walau saya sudah tua, dan tak punya apa-apa, saya masih mampu kerja, menjahit," katanya.

Ia menyayangkan anak dan mantunya melakukan hal seperti sampai viral.

Ia tahunya sang anak kembali ke kontrakan.

Dani dan Masitoh disebut sempat datang ke rumahnya pada pekan lalu.

"Dia pergi lagi, gak tau seperti itu, saya tahunya mau ke kontrakannya," katanya.

Namun, pada akhirnya ia kaget karena mendapatkan kabar anak dan mantunya viral di media sosial karena mengaku jalan kaki dari Gombong ke Bandung.

4. Pengakuan Masitoh

Masitoh Ainun (36), yang viral bersama keluarganya karena mengaku berjalan kaki dari Jawa Tengah ke Bandung. Ia memperlihatkan hasil tes swab di Kantor Desa Pananjung, Kecamatan Canggunga, Kabupaten Bandung, Minggu (9/5/2021). Ternyata, bersama suami dan dua anaknya memang hidup di jalanan sudah setahun.
Masitoh Ainun (36), yang viral bersama keluarganya karena mengaku berjalan kaki dari Jawa Tengah ke Bandung. Ia memperlihatkan hasil tes swab di Kantor Desa Pananjung, Kecamatan Canggunga, Kabupaten Bandung, Minggu (9/5/2021). Ternyata, bersama suami dan dua anaknya memang hidup di jalanan sudah setahun. (Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin)

Kini setelah pihak keluarga dan tetangga buka suara, kini giliran Masitoh yang mengungkapkan hal sebenarnya.

Ia mengakui, kisahnya yang 'mudik' berjalan kaki dari Gombong ke Kebumen, tidak sepenuhnya benar.

Ternyata, pasangan ini sudah setahun hidup di jalanan dan tidak mudik dari Gombong ke Cangkuang.

Ia dan Dani sengaja membawa kedua anaknya melakukan perjalanan untuk menghidupi keluarga.

Semua berawal dari tempat bekerja Dani yang gulung tikar.

"Mesin jahit diambi bos, jadi bingung kerjaan enggak ada. Yang ngajak hidup di jalan, saya."

"Kami turun ke jalan yang penting ada buat makan."

"Ada yang ngasih kami terima, enggak ada yang ngasih, kami jalan," ujar Masitoh saat ditemui di tempat karantina, Minggu (9/5/2021).

Menurut Masitoh, sekitar seminggu lalu, mereka kembali melakukan perjalanan.

"Kami dari sini (Cangkuang) ke Cimindi naik angkot. Dari Cimindi naik kereta api ke Purwakarta."

"Purwakarta-Bandung, ongkosnya cuman Rp 7 ribu. Lalu dari Purwakarta ke Cikarang. Mulai dari Cikarang, kami jalan (kaki)," kata Masitoh.

Masitoh mengatakan, dari Cikarang, mereka menuju Cikampek, Karawang, Subang, dan Indramayu.

"Di Indramayu kami dapat tumpangan dinaikkan ke bus. Ditanya tujuannya mau ke mana, kalau sebutin jauh-jauh kasihan orang itu, jadi saya sebut yang dekat saja ke Tegal, ongkos Rp 100 ribu," tuturnya.

Setelah di Tegal, menurut Masitoh, ia dan keluarganya jalan ke Gombong, Jawa Tengah.

Dari Gombong, mereka balik lagi.

"Jadi muter, pergi dari utara, pulang lintas selatan," katanya.

Menurutnya, dia melakukan perjalanan seperti itu sudah satu tahun.

"Setahun sebenarnya kami sudah keliling Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat."

"Cuma tidak hanya sambil diam, tapi sambil cari kerja. Tapi itu namanya cari kerja susah," katanya.

5. Mengaku ingin pulang ke Medan

Masitoh juga menjelaskan, selama satu tahun berkeliling dia mengibaratkan jalan-jalan gratis,

Bila tak ada tumpangan, jalan kaki.

"Kalau tidur ada pom bensin, ya pom bensin, ada di masjid. Kan di Jawa (masjid) tak dikunci," tuturnya.

Hal tersebut dilakukan, kata Masitoh, saat anaknya yang kecil berusia empat bulan dan sekarang sudah berusia 1,5 tahun.

"Tinggal di (rumah) mertua enggak mungkin, rumahnya kecil, sempit."

"Untuk kontrakan harus jalan hidup harus jalan, daripada mencuri, gitu kan," ujar Masitoh.

Masitoh ternyata masih warga Lubuk Pakam, Medan, Sumatera Utara.

Namun kartu identitasnya hilang karena tasnya dicuri orang saat berada di Cimahi.

Begitu juga dengan kartu identitas suaminya.

"Semua tas saya diambil orang di Cimahi, dipikir mereka apa ya, padahal cuma baju saya, suami, dan anak serta surat-surat itu, KTP dan lainnya," tuturnya.

Dengan adanya kejadian viral tersebut, kakak dan orang tuanya menjadi syok.

Bahkan kakaknya yang paling besar di Medan sampai darah tinggi.

"Setelah enggak ada penyekatan lagi, InsyaAllah, kami balik ke Medan. Mau ngurusin orang tua di sana," ucapnya.

(Tribunnews.com/Sri Juliati, Tribun Jabar/Widia Lestari/Lutfi Ahmad Mauludin)

Penulis: Sri Juliati
Editor: Arif Fajar Nasucha
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved