Sabtu, 30 Agustus 2025

Jenazah Terpaksa Diangkut Pikap Padahal Sudah Bayar Ambulans, Keluarga di NTT Kecewa dengan RS

Cerita jenazah terpaksa diangkut dengan mobil pikap datang dari sebuah keluarga yang tinggal di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Editor: Endra Kurniawan
POS-KUPANG.COM/AMAR OLA KEDA
Jenazah Benediktus Boli Hayon saat dimuat di mobil pickup oleh keluarga. 

TRIBUNNEWS.COM - Cerita jenazah terpaksa diangkut dengan mobil pikap datang dari sebuah keluarga yang tinggal di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Padahal keluarga tersebut sudah membayar untuk jasa ambulans.

Sehingga kejadian ini membuat Keluarga almarhum Benediktus Boli Hayon kecewa teradap pihak RSUD Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Mereka merasa tidak mendapat pelayanan baik.

Jenazah Benediktus Boli Hayon terpaksa dibawa dari rumah sakit memakai mobil pikap ke Pelabuhan Larantuka selanjutnya dibawa ke Dusun Lewobele, Desa Wotan Ulumado, Pulau Adonara.

Baca juga: Mendadak Dipensiunkan, Guru di Flores Timur Diminta Kembalikan Gaji Senilai Rp 36 Juta

Anggota keluarga Benediktus Boli Hayon, Ruth Wungubelen menjelaskan, Benediktus Boli Hayon menghembuskan napas terakhir di RSUD Larantuka, Selasa (25/5) sekitar pukul 19.00 Wita.

Setelah menyelesaikan administrasi termasuk membayar jasa pelayanan ambulans, keluarga hendak mengantar jenazah Benediktus Boli Hayon ke Pelabuhan Larantuka.

Sembari menunggu jenazah diurus petugas kamar jenazah, perwakilan keluarga menemui petugas yang ada di UGD untuk menyiapkan ambulans.

Petugas meminta keluarga bersabar karena masih menghubungi sopir ambulans.

Tak berselang lama, petugas tersebut menyampaikan bahwa ambulans dipakai melayani pasien Covid-19 sehingga masih disterilkan dengan menyemprot cairan disinfektan.

"Salah satu anggota keluarga kami sempat protes. Saya sendiri juga langsung minta ke UGD. Keluarga seolah menjadi pengemis memohon kepada petugas UGD, baik sebelum maupun sesudah jenazah dimandikan agar ambulans bisa ke kamar jenazah," terang Ruth di Larantuka, Kamis (27/5/2021).

Baca juga: Polisi Amankan 100 Detenator dari Tangan Nelayan Flores Timur, Ini Modusnya

Menurut Ruth, keluarga menunggu hingga pukul 23.00 Wita. Karena tidak ada kepastian ambulans sehingga keluarga mencari mobil lain.

Pihak keluarga mendapat pikap, biasa dipakai untuk menjual air minum.

"Mobil itu biasa dipakai untuk menjual air minum ke warga. Kami terpaksa turunkan drum air lalu muat peti jenazah," ujarnya.

"Saya sebelumnya menolak saran keluarga. Masa kita pakai pikap? Apalagi sudah bayar jasa ambulans. Tapi karena tunggu sampai larut malam, terpaksa kita gunakan pikap," tambah Ruth.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan