Rabu, 3 Juni 2026

Wawancara Eksklusif

Bupati Anwar Sadat Jadikan Tanjung Jebung Barat Surga Pinang

Bupati Tanjung Jebung Barat, Anwar Sadat akan menjadikan daerahnya penghasil pinang terbaik siap ekspor. Apa kiatnya?

Tayang:
Editor: cecep burdansyah
Tribun Jambi/Sul
Bupati Tanjung Jebung Barat (kemeja putih) saat diwawancarai wartawan Tribun Jambi di ruangan kerjanya. 

TRIBUNNEWS.COM, TANJUNG JEBUNG BARAT - Beberapa waktu lalu, sebanyak 18 ton pinang Betara asal Kabupaten  Tanjung Jabung Barat diekspor ke Jeddah, Arab Saudi. Ekspor ini difasilitasi Kementerian Perdagangan RI dan Pemerintah Provinsi Jambi. Pinang Betara merupakan satu komoditas andalan di Tanjung Jabung Barat.

Untuk melihat potensi besar pinang tersebut, Tribun Jambi melakukan wawancara ekslusif bersama Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs H Anwar Sadat, M.Ag dengan tema Potensi Pertanian dan Perkebunan khususnya pinang di Tanjung Jabung Barat.

Berikut petikannya:

Potensi Pinang di Tanjung Jabung Barat ini seperti apa?

Saya kira memang Tanjung Jabung Barat ini fundamental perekonomiannnya dari pertanian, perkebunan dan perikanan. Ketika pandemi covid-19 ini ketika semua jalur-jalur perdagangan internasional, ekonomi dunia mengalami konstraksi yang luar biasa, ternyata di Tanjung Jabung Barat itu tidak berimbas.

Saya melihat daya beli masyarakat di pasar-pasar masih ramai, toko-toko masih banyak yang beli, ini menunjukan bahwa pondasi fundamental ekonomi kita cukup kuat, salah satunya pada umumnya sektor perkebunan.

Saya kira ini seharusnya menjadi upaya kita pemerintah daerah betul-betul memaksimalkan perkebunan sebagai andalan ekonomi kerakyatan masyarakat Tanjung Jabung Barat.

Kemarin, alhamdulillah saya mendampingi Pak Gubernur Jambi launching ekspor perdana pinang ke Arab Saudi. Saya sambil komunikasi dengan importir, importir itu mengatakan bahwa Arab Saudi itu setiap bulannya butuh 30 kontainer, sedangkan Provinsi Jambi hanya mampu memenuhi 18 kontainer, hampir separuhnya.

Pinang yang diekspor itu adalah pinang yang dari Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, ini saya kira membuka peluang pasar yang resmi, yang melewati kargo, melalui pelabuhan, yang dikoordinasikan dengan konjen kita yang ada di Jeddah.

Konjen kita bekerja sama dengan  Kementerian perdagangan kemudian langsung ke Konjen Jeddah yang bekerjasama dengan usaha yang ada di sana. Ini kan membuka peluang yang luar biasa, pinang kita bisa menjadi idola karena kualitas pinang kita cukup baik untuk tingkat provinsi dan sangat diminati oleh orang-orang itu (Arab Saudi).

Lahan kita ini memang tidak terlalu luas, cuma 1/3 nya, di samping tanaman-tanaman sela seperti kelapa. Jadi di satu lahan itu ada ditanami kelapa-pinang, tapi secara khusus pinang itu belum secara masif dilaksanakan oleh masyarakat kita.

Jadi, mudah-mudahan dengan adanya pasar baru dan harga pinang yang cukup tinggi, pada akhirnya sekarang masyarakat Tanjung Jabung Barat berbondong-bondong menanam pinang di lahan mereka.

Untuk lahan pertanian kurang lebih punya lahan 10 ribu hektare, kemudian untuk perkebunan kurang lebih untuk pinang ada 25 ribu hektare. Harapan kita dengan lahan yang seluas ini mudah-mudahan betul-betul dimanfaatkan untuk menanam pinang.

Apakah sebenarnya Tanjung Jabung Barat sebelumnya mampu mengekspor pinang lebih banyak lagi?

Jadi karena masyarakat Tanjung Jabung Barat ini individual accept, jadi pengusaha itu jual sendiri, bawa sendiri kemana-mana, ke Singapura atau ke Malaysia. Sehingga tidak terpantau oleh dinas perdagangan kita, dan tidak bisa menambah income PAD kita.

Sekarang kita sudah dibuka, aksesnya sudah ada, di dinas perdagangan juga sudah teregistrasi, kemudian ada pengusaha yang mau beli lewat pelabuhan, apalagi kita punya pelabuhan roro, kita maksimalkan pelabuhan kita, tinggal lagi dinas perdagangan kita bekerjasama dengan kementerian perdagangan, merekalah yang mengoneksikan dengan pengusaha-pengusaha luar negeri dan bisa langsung dijual tanpa harus melalui Provinsi Jambi.

Jika kita melalui Provinsi Jambi, yang dapat untung provinsi, itu kan melewati Pelabuhan Talang Duku, dan pelabuhan itu kan bukan punya kita, jadi PAD juga bukan untuk kita. Bahan punya kita, tapi orang yang mendapatkan manfaat dari bahan kita itu. Inilah yang menjadi tugas kita, saya kira cukup berat, tapi insyaalah mudah-mudahan pelan-pelan kita akan lakukan upaya seperti ini, sehingga petani pinang kita bisa makmur dan bisa cukup baik, dan insyaallah menambah PAD Tanjung Jabung Barat.

Bagaimana cara agar petani mau mepertahankan bertani pinangnya dan tidak beralih ke komoditas lain?

Insyaallah kita akan buat semacam peraturan bupati seperti yang kita buat pada lahan pertanian, karena lama-lama lahan pertanian kita kan sudah beralih fungsi, jadi dulu orang nanam padi sekarang sudah nanam kelapa, sawit atau pinang.

Jadi kita sudah melakukan tata ruang dan kita buat jadi lahan pertanian itu memang tidak kita benarkan lagi beralih fungsi, karena harapan kita Tanjung Jabung Barat bisa jadi lumbung padi provinsi yang akan datang, apalagi misi gubernur yang baru ini, menjadikan Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur dan Muarojambi itu menjadi food estate, artinya menjadi pemasok lokal termasuk buah-buahan dan sayur-sayuran di Provinsi Jambi.

Ke depannya kita menjadi kabupaten yang diprioritaskan untuk perkebunan dan pertanian, jadi kita melakukan intervensi jangan sampai lahan-lahan pertanian dialihfungsikan. Kedua lahan perkebunan pinang dan kelapa insyaallah mudah-mudahan akan kita revitalisasi kembali jangan sampai berubah menjadi lahan sawit.

Daerah mana saja yang menjadi potensi penghasil pinang terbanyak?

Di Tanjung Jabung Barat ini yang paling strategis masih di Betara. Di Betara itu komposisi tanahnya sudah sesuai dengan pinang, kemudian di Pengabuan, kemudian di Bram Itam, di Tungkal Ilir, ini sentra pinang kita, dan memang pinang kita ini produksinya tinggi-tinggi, dua kali lebih banyak.

Jadi kalau satu pinang yang biasa, satu tandan isinya 10-20, tapi kalau varietas Betara ini bisa sampai 40, jadi buahnya bisa lebih banyak, hasil produksinya bisa dua kali lipat. Cuma tinggal olah tanam, kita nanam pinang kan ada ilmunya, misalnya 4 meter jaraknya, kalau dekat-dekat gitu nanamnya gimana buuahnya mau bagus. Jadi mungkin nanti dengan tenaga penyuluh pertanian dan perkebunan bisa memberikan ilmunya sehingga produksi kita juga cukup baik.

Saat ini berapa rata-rata hasil pinang setiap bulannya?

Dari catatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, cukup besar. Kalau tidak salah kemarin sudah hampir ratusan ton, kita belum dapat data terakhir waktu kita ekspor kemarin, mudah-mudahan nanti ini kita minta Disperindag untuk setiap bulan menyampaikan hasil capain produksi pinang kita, karena selama ini pinang-pinang kita itu individual jualnya, jadi mereka tidak melaporkan ke Disperindag, mereka tidak melaporkan bahwa mereka akan jual dan ekspor.

Jadi akhirnya kan banyak yang belum tercatat, memang mereka ini tidak mau ya, takut bayar pajak mungkin dan sebagainya, karena harganya kita tinggi ini Rp14 ribu, Rp17 ribu, Rp18 ribu dan kualitas super bisa di atas Rp20 ribu.

Baca juga: Langkah Strategis Rektor Unair: Vaksin Merah Putih Selesai Juni 2022 (1)

Selain Arab Saudi, apakah ada target ekspor ke negara lain?

Sebenarnya sudah ada pangsa pasarnya kan seperti di India, Malaysia cuma memang kualitas yang diminta oleh Arab Saudi ini lebih tinggi, karena mereka lebih pada konsumsi, beda dengan negara-negara lain.

Bagaimana cara peningkatan kualitas pinang di Tanjung Jabung Barat?

Salah satu kelemahan petani kita ini adalah pascaproduksi. Setelah produksi mereka belah pinang, kemudian mereka serakkan dan jemur di pinggir jalan, kemudian kena hujan, ya tidak terlalu higineis, membuat kualitas pinang kita rendah jadinya.

Saya kira harus memberi kesadaran kepada petani. Kalau pinangnya berjamur, nanti pinang kita tidak laku, kalau pinang tidak laku nanti orang tidak mau beli dan ini mengakibatkan petani kita rugi.

Pada kesempatan kali ini bisa saya sampaikan kepada masyarakat Tanjung Jabung Barat, setelah produksi kita itu betul-betul diperhatikan lantai jemurnya, harus betul-betul bersih sehingga tidak mudah kena jamur, nanti kalau sudah kena jamur dan penyakit, pinang kita tidak dilirik lagi, karena tidak dilirik ya nanti susah mencari pasarnya.

Jadi ini saya kira menjadi warning  untuk petani kita jangan sampai nanti kualitasnya menurun. Sehingga harga kita pun juga jatuh, kalau sudah jatuh ya petani juga yang rugi.

Selain pinang apa yang menjadi potensi pertanian dan perkebunan di Tanjung Jabung Barat yang ke depannya bisa diekspor?

Kita kan sebenarnya punya komoditas lain, selain pinang dan kelapa ada juga kopi. Di Tanjung Jabung Barat ini ada 3.000 hektar, di dunia cuma ada di Amerika Latin, dan kopi kita ini ada yang umurnya sudah ada yang 50-70 tahun. Luar biasa kopi liberika kita ini dahan yang jatuh ke bawah jadi ranting itu masih bisa berbuah, di pucuknya pun masih bisa berbuah. Ini menjadi unik semakin banyak cabang semakin banyak buahnya, jadi berbeda dengan kopi-kopi lainnya Arabika dan sebagainya.

Kita sangat sedih sekali memang, kita tidak terlalu banyak melakukan upaya-upaya terhadap kopi. Ini menjadi PR saya, mudah-mudahan kita akan intensifkan kopi ini menjadi komoditas andalan.

Apa harapannya di sektor pertanian dan perkebunan supaya bisa makmur?

Pada kesempatan kali ini kami berharap kepada masyarakat Tanjung Jabung Barat khususnya betul-betul memanfaatkan lahan-lahan mereka dengan perkebunan karena sudah terbukti perkebunan mampu menjadi penyangga ekonomi kita di tengah kondisi pandemi Covid-19.

Harapan kami mudah-mudahan jangan memandang bahwa beberapa pohon pinang itu tidakmenghasilkan apa-apa, saya kira kalau dikeola dengan baik, kemudian betul betul dirawat insyaallah akan mendatangkan penghasilan yang cukup bagi keluarga bagi masyarakat Tanjung Jabung Barat.

Disamping itu kita juga punya kelapa, bisa juga kita tanami tanaman sela misalnya tanam laos, tanam jahe merah, dan saat ini saya sangat gencar sekali untuk mengajak masyarakat memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk memanam-tanaman sela untuk menambah income rumah tangga kita. (sul)

Baca juga: Langkah Strategis Rektor Unair, Kerja Sama dengan Kemenhan Teliti Vaksin dan Obat-obatan (2-Habis)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved