Ubah Sampah Jadi Berkah, Kisah 2 Sosok Pelestari di Bandung Topang Ekonomi Keluarga di Masa Sulit

Bukan hanya membantu mengatasi masalah sampah, namun Octopus juga tawarkan peluang kerja bagi dengan bergabung menjadi Pelestari

Istimewa
Octopus hadir berikan solusi, yaitu dengan menyediakan aplikasi untuk membantu mengatasi masalah sampah, yang memungkinkan pengguna/konsumen mengirimkan kemasan bekas pakai untuk didaur ulang menjadi produk yang bernilai jual. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha C

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan, namun juga aspek ekonomi karena banyak orang kehilangan pekerjaan. Lapangan kerja tidak tersedia karena bisnis tidak berjalan, sehingga terjadi pemutusan hubungan kerja.

Tak sedikit orang yang harus terlibat dengan utang yang mencekik leher karena tuntutan hidup untuk menafkahi keluarga dan atau pendidikan anak. Di sisi lain, sampah konsumsi di masa pandemi meningkat, misalnya akibat naiknya minat  belanja online. 

Survei LIPI pada 20 April – 5 Mei 2020 menyebut aktivitas belanja online masyarakat meningkat hingga 62% selama pandemi, di mana hingga 96% dari total jumlah paket menggunakan selotip, pembungkus plastik, dan bubble wrap. Hal ini juga meningkatkan masalah sampah, yang biasanya berujung di tempat pembuangan akhir (TPA).

Octopus hadir berikan solusi, yaitu dengan menyediakan aplikasi untuk membantu mengatasi masalah sampah, yang memungkinkan pengguna/konsumen mengirimkan kemasan bekas pakai untuk didaur ulang menjadi produk yang bernilai jual.

Bukan hanya membantu mengatasi masalah sampah, namun Octopus juga tawarkan peluang kerja bagi dengan bergabung menjadi Pelestari.

Baca juga: Misteri Jasad Bayi di Gerobak Motor Sampah, Sempat Dikira Bangkai Kucing, Polisi Telusuri Data Bumil

Dikatakan Co-Founder Octopus, Hamish Daud, Octopus Bukan saja menyediakan lapangan kerja bagi mereka yang terkena PHK, namun juga bagi Pelestari (kolektor sampah) untuk memperbaiki hidupnya dengan sistem kerja yang lebih baik.

Siti Solihat (30), ibu dua anak asal Bandung, Jawa Barat, memutuskan bergabung menjadi Pelestari 6 bulan silam dengan niat membantu memperbaiki ekonomi keluarga. Suaminya yang bekerja sebagai honorer di sebuah institusi terpaksa harus menelan pil pahit terkena dampak pandemi berupa hilangnya penghasilan bulanan. Dalam situasi sulit, Siti melihat peluang untuk membantu memperbaiki kondisi perekonomian keluarga yang tengah guncang.

“Tidak sengaja saya melihat postingan Bapak Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat) tentang Octopus pada April 2021 dan akhirnya saya coba mengikuti menjadi Pelestari.

Alhamdulillah Octopus memang sarana untuk mendaur ulang botol botol yang bisa didaur ulang, makanya saya tertarik bergabung,” tutur Siti yang sejak kecil terbiasa melihat perjuangan sang ayah, pengambil sampah dari rumah ke rumah dan harus memilah antara barang yang bisa didaur ulang dan yang tidak.

Sebelum bergabung menjadi Pelestari, Siti bekerja dengan membersihkan rumah kost dengan upah Rp 400.000 per bulan.

“Saya mulai kumpulkan sampah botol botol bekas dari rumah ke rumah maupun dari kostan tempat saya bekerja untuk dijual kembali. Saat awal bergabung menjadi Pelestari, penghasilan bulanan saya Rp 4 jutaan,” ujarnya.

Penghasilan itu 10 kali lipat dari yang biasa diterima Siti dari membersihkan rumah kost, dan tentu saja sangat berarti dalam menopang perekonomian keluarga di masa sulit.

Alasan Siti mau menjadi Pelestari, selain penghasilan yang sangat lumayan menurut ukurannya, jam kerjanya juga fleksibel.

Halaman
123
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved