Jumat, 29 Agustus 2025

Batik Karya Difabel Tawangsari Bisa Mendunia

Produk kain batik tulis hingga pakaian seharga setengah juta rupiah produk difabel Tawangsari dijual di berbagai daerah belahan Nusantara.

TribunSolo.com/ Chrysnha Pradipha
Wawan, difablepreneur Tawangsari membatik di tengah keterbatasannya sebagai disabilitas 

TRIBUNNEWS.COM – Tremor tak menghentikan lentik jemari Wawan memainkan kuas membuat pola bunga dalam sebuah kain putih di pangkuannya.

Motif yang ia kembangkan itu selanjutnya akan menjadi sebuah karya bernilai dan berfilosofi tinggi bernama kain batik.

Berbeda dengan teman-temanya, Wawan tak menggunakan canting namun memodifikasi keahlian dengan kuas di tengah keterbatasannya sebagai difabel.

Alhasil, produk kain batik tulis hingga pakaian seharga setengah juta rupiah bisa diproduksi setiap bulan dan dijual di berbagai daerah belahan Nusantara.

Pemuda bernama lengkap Darmawan Fadli Abdul Syukur adalah satu dari empat penyandang disabilitas pengrajin batik alias difablepreneur dari Desa Tawangsari, Kabupaten Boyolali yang tergabung dalam Sanggar Inspirasi Karya Inovasi Difabel (Sriekandi) Patra.

Atau kelompok binaan dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Regional Jawa Bagian Tengah (JBT).

Baca juga: Ramaikan GIIAS 2021, Pertamina Dukung Industri Otomotif Indonesia Bangkit

Bermula dari hasil social mapping Pertamina untuk CSR-nya, Wawan tergugah bergabung Sriekandi Patra untuk berkarya dan mengasah kemampuan.

“Saya lulus sekolah lalu tidak punya kegiatan, tidur nonton TV kerjaannya. Mendapat tawaran gabung Sriekandi Patra ya saya semangat, didukung keluarga juga,” jelasnya ditemui pada Sabtu (30/10/2021).

Awalnya, ia bercerita, merasa kesulitan karena tak memiliki keahlian menggambar apalagi membatik.

Ditambah lagi tremor yang ia derita akan mengganggu kegiatannya untuk sekedar menggambar.

“Namun berkat semangat dan Latihan rutin, akhirnya tremor teratasi. Saya juga menyesuaikan diri menggunakan kuas, beda dengan teman lainnya pakai canting. Tapi itu untuk memudahkan saya membatik,” ucap pemuda 17 tahun ini.

Wawan, adalah satu-satunya laki-laki di sanggar Sriekandi Patra. Namun ia merasa teman-teman disabilitas lainnya di sanggar tersebut seperti keluarga.

Meski hanya 3-4 jam bersama memproduksi batik, dirinya mengaku senang bisa berkumpul menghasilkan produk untuk kemudian dijual.

“Yang terpenting adalah saya bisa mengasah kemampuan di sini, saya bisa berkarya. Sangat berterimakasih kepada Pertamina yang mendukung kami menghasilkan karya,” jelasnya.

Go Digital dan Go Global

Produk Sriekandi Patra CSR Pertamina di Desa Tawangsari, Boyolali
Produk Sriekandi Patra CSR Pertamina di Desa Tawangsari, Boyolali (TribunSolo.com/ Chrysnha Pradipha)

Berkat pelatihan dan pendampingan yang dilakukan Pertamina, Sriekandi Patra mampu bertahan bahkan melewati situasi sulit Pandemi Covid-19.

Koordinator Sriekandi patra, Siti Fatimah, mengungkap, Wawan dan ketiga temannya terus berkarya meski pandemi sempat menjadi penghalang.

Pandemi, diakuinya, membuat jumlah produksi batik menurun dan berimbas pada jumlah pendapatan.

Situasi tersebut membuat dirinya memutar otak dan senantiasa berinovasi.

“Kami pernah membuat masker batik, Alhamdulilah laku banyak di pasaran saat pandemi. Selain itu kami juga mulai bermain media sosial untuk memasarkan produk-produk kami. Jualan lewat Instagram, Shopee, dan lainnya itu laku syukur,” terang dia.

Langkah Siti Fatimah itu juga sejalan dengan Langkah Pertamina untuk Go Digital di mana Pertamina mengoptimalkan bisnis proses dengan teknologi terdepan.

Sementara itu, Lurah Tawangsari, Yayuk Tuti Supriyanti, mendukung sepenuhnya segala bentuk kegiatan Sriekandi Patra.

Bahkan bangunan di atas tanah kas desa pun diserahkan untuk bangunan WorkShop Sriekandi Patra, tempat para difablepreneur berproduksi.

“Kami berharap Sriekandi Patra ke depan bisa go internasional, produk batiknya bisa mendunia dijual di pasar luar negeri. Itu jangka panjangnya, pelan-pelan pasti bisa ekspor.”

“Saya bangga, karena difablepreneur Tawangsari menjadi kekayaan desa dan motivasi masyarakat desa,” ucap dia.

Harapan kepala desa itu juga sejalan dengan program Pertamina Go Global.

Yakni Pertamina perkuat langkah dan ekspansi bisnis mancanegara dari sisi Hulu sampai Hilir.

Unit Manager Communication, Relations & CSR Pemasaran Regional Jawa Bagian Tengah, Brasto Galih Nugroho menjelaskan bahwa program difableprenur ini pertama kali dilakukan di Tahun 2017 kepada seorang difabel bernama Yuni dengan pendampingan psikososial dan pemberian keterampilan.

Didukung oleh desa setempat, dengan memanfaatkan  tanah kas desa, Pertamina Fuel Terminal Boyolali kemudian membangun workshop sebagai pusat inkubasi bisnis dan tempat pemberian keterampilan membatik.

Seiring berjalannya waktu, Batik karya para difabel ini telah dikenal luas hingga terjual di Kanada, Australia dan Jepang.

Kini, Sriekandi Patra bersama Pertamina dan PT. Pan Brothers, turut membantu Forum Komunikasi Difabel Boyolali (FKDB) untuk membentuk kelompok usaha Kresna Patra dengan memberikan keterampilan di bidang konveksi, yang nantinya akan diserap sebagai tenaga kerja di perusahaan konveksi Pan Brothers atau membuka usaha konveksi sendiri.

"Sejalan dengan semangat tumbuh bersama masyarakat, Pertamina juga merangkul kelompok difabel Ampel, Kabupaten Boyolali untuk turut berkarya dalam rantai nilai Pertamina dengan menjadi agen Pertamina Delivery Services yang siap melayani pengantaran  Bright Gas di Boyolali. Total dari ketiga program tersebut, telah ada 63 orang difabel yang mendapat manfaat dari program-program difablepreneur ini", ungkap Brasto. (Tribunnews.com/Chrysnha)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan