Trafficking

Buntut Pekerja Migran Telantar di Turki, Polisi Periksa Komang P Sebagai Terlapor

Seperti diketahui Komang P menjadi kaki tangan Anak Agung KRS, yang diduga menjadi otak dari kasus dugaan penipuan ini.

Editor: cecep burdansyah
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Kasat Reskrim Polres Buleleng, AKP Yogie Pramagita 

TRIBUNNEWS.COM, SINGARAJA - Proses penyelidikan kasus dugaan penipuan yang dialami sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Turki, hingga saat ini masih dilakukan oleh Reskrim Polres Buleleng.

Saat ini sudah ada empat saksi yang dimintai keterangan, termasuk terlapor berinisial Komang P.

Kasat Reskrim Polres Buleleng, AKP Yogie Pramagita, Kamis (17/3) mengatakan, Komang P saat ini statusnya masih sebagai saksi.

Seperti diketahui Komang P menjadi kaki tangan Anak Agung KRS, yang diduga menjadi otak dari kasus dugaan penipuan ini.

Selain Komang P, salah satu korban dan dua saksi yang mengetahui adanya dugaan penipuan ini juga telah dimintai keterangan.

AKP Yogie menyebutkan, pihaknya masih harus memeriksa beberapa korban lagi. Namun hingga saat ini para korban sebagian besar masih berada di Turki.

Demikian dengan Anak Agung KRS. Dengan demikian, pihaknya akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan penyidik Polda Bali.

"Kami akan berkoordinasi dulu dengan Polda Bali, karena beberapa korban dan salah satu terlapor (Anak Agung KRS) masih ada di Turki. Nanti bagaimana pemeriksaannya itu kami koordinasikan dulu dengan Polda. Kemudian kami akan melakukan gelar perkara bersama Polda Bali. Akan dibentuk tim khusus untuk melakukan gelar perkara bersama ini," jelasnya.

Sementara salah satu PMI yang menjadi korban penipuan ini bernama Putu Septiana Wardana dihubungi melalui saluran telepon mengatakan, ia bersama dengan sepupunya bernama Komang Yudi Arnawa Putra akan kembali ke tanah air.

Pria asal Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng ini akan dipulangkan oleh Kementerian Luar Negeri. Menurut informasi yang diterima oleh Septiana, pemulangan akan dilakukan, Selasa (29/3) mendatang.

"Informasi awal pulangnya tanggal 29 Maret. Saya belum tahu ada berapa orang yang akan dipulangkan. Soalnya keputusan akhir akan disampaikan Kamis (24/3)," ucapnya.

Putu Septiana pun tidak menampik, ia sejatinya masih ingin bekerja di Turki. Mengingat orangtuanya harus meminjam uang hingga puluhan juta, untuk membiayai keberangkatannya.

Namun setelah diberikan penjelasan oleh pihak KBRI dan KJRI, Septiana pun akhirnya bersedia dipulangkan ke tanah air.

"Saya juga berpikir, kerja di restoran gajinya juga kecil. Sebulan saya dapat 4.000 Lira. Kalau dirupiahkan, per Lira itu sekarang Rp 970. Belum lagi potong losmen, metrobus, dan makan. Nggak tembus untuk bayar utang. Jadi setelah dipikir-pikir, dengan gaji segitu, lebih baik saya pulang aja," ucapnya.

Meski telah menjadi korban dugaan penipuan, Septiana mengaku masih akan tetap bekerja sebagai PMI di Turki. "Kemungkinan akan balik lagi ke Turki, kalau nilai mata uangnya sudah naik. Saya akan lebih selektif lagi nanti memilih agen," katanya. (rtu)

Baca juga: Siswanto Naik Ontel dari Jember ke Mandalika Selama Tujuh Hari, Ingin Curhat ke Jokowi

Sumber: Tribun Bali
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved