Prevalensi Balita Stunting di Kabupaten Pandeglang Capai 37,8 Persen, Tertinggi di Provinsi Banten

Tingginya angka stunting di Pandeglang ini disebabkan oleh tingkat ekonomi yang rendah.

freepik
Ilustrasi anak. Survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan mencatat 24,5 persen bayi usia di bawah 5 tahun di Provinsi Banten mengalami stunting pada 2021. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com

TRIBUNNEWS.COM, PANDEGLANG - Hasil survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan mencatat 24,5 persen bayi usia di bawah 5 tahun di Provinsi Banten mengalami stunting pada 2021.

Kabupaten Pandeglang tercatat sebagai wilayah dengan prevalensi Balita stunting tertinggi di Banten, yakni mencapai 37,8 persen pada tahun lalu.

Tingginya angka stunting di Pandeglang ini disebabkan oleh tingkat ekonomi yang rendah.

Temuan kader posyandu menguatkan fakta itu.

Baca juga: Cegah Stunting, Arumi Bachsin Minta Generasi Muda Harus Sadar Gizi

Anak berinsial Im asal Pandeglang merupakan salah satu dari balita dengan pemenuhan gizi yang tidak ideal.

Di umurnya yang sudah menginjak 2 tahun, berat badannya hanya 9,6 kilogram dan tinggi badan 93,4 centimeter.

Terungkap kebiasaan memberi mie dan kental manis menjadi salah satu alasan Im kekurangan gizi.

Nina, ibu dari Imaz menceritakan alasan dibalik konsumsi mie dan kental manis setiap harinya.

"Saya memberikan mie instan dan kental manis ke anak saya karena hanya mengandalkan gaji dari suami sebesar Rp 750 ribu per bulannya.

Itu pun tidak cukup buat sehari-hari," ujar Nina.

Lebih lanjut anaknya sangat gemar untuk jajan ke warung membeli mie dan kental manismanis daripada makan makanan yang bergizi seperti sayur, daging, dan ayam.

Salah satu kader Posyandu Desa Rawasari, Kabupaten Pandeglang bernama Ene, memaparkan jika saat pemantauan bulanan anak-anak di wilayah tersebut, berat badan Imaz sempat mengalami peningkatan.

"Sempat naik, tapi abis itu turun lagi karena pemberian makanan bergizi tidak dilakukan secara konsisten", ujar Ene.

Ene menjelaskan selama ini pihaknya melakukan penyuluhan terkait kesehatan.

Mulai dari cara pemberian makanan serta cara pemberian susu.

"Kalau bisa mah kental manis itu jangan dikonsumsi gitu.

Tapi ya yang namanya dia udah terbiasa minum kental manis ya minum kental manis aja nggak bisa digantikan yang lain," katanya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved