PLTA Tampur I Bakal Ganggu Ekosistem Empat Satwa Kunci di Aceh

Proyek PLTA Tampur I juga akan memengaruhi ekosistem biota air yang terdapat di sungai-sungai pada kawasan itu

Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Nitis Hawaroh
Manajer Hukum dan Pembelaan Rakyat Walhi Nasional, Ronald M Siahaan menyoroti proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tampur 1 di Desa Lesten, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nitis Hawaroh

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tampur I yang rencananya akan dibangun pada tiga Kabupaten Provinsi Aceh bakal berdampak pada ekosistem satwa kunci.

Tiga kabupaten itu diantaranya, Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tamiang dan Aceh Timur. Ketiganya, masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Hal itu disampaikan oleh Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh, Ahmad Shalihin dalam Konferensi Pers Konsolidasi Nasional Advokasi Tolak Izin Baru PLTA Tampur I di Aceh, yang berlangsung di Jalan Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Rabu (5/10/2022).

Menurut Shalihin, kawasan itu menjadi zona inti dari satwa-satwa kunci yaitu Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, Orang Utan Sumatera dan Badak Sumatera.

Baca juga: Walhi: Isu Lingkungan Hidup Jadi Alasan Tolak Izin PTLA Tampur 1 di Aceh

"Dia (PLTA Tampur I) juga zona inti KEL, juga Koridor satwa kunci yang ada di Aceh. Baik itu harimau, gajah, orang utan dan badak jadi empat satwa kunci itu berada di area PLTA tampur ini. Tentu secara ekosistem sangat mengganggu," kata Ahmad Shalihin, di Jakarta Selatan, Rabu (5/10/2022).

Lebih lanjut, kata Shalihin, proyek PLTA Tampur I juga akan memengaruhi ekosistem biota air yang terdapat di sungai-sungai pada kawasan itu.

"Belum lagi di biota air, karena sungai tentu akan berubah aliran nya, akan merubah suhu. Kemudian akan merubah jalur biota air, tentu itu menimbulkan dampak luar biasa disamping Kawasan Ekosistem Leuser itu sendiri," ujarnya.

Shalihin menegaskan, kawasan seluas 4.407 hektare itu akan menggangu matapencaharian masyarakat. Sebab, mayoritas penduduk merupakan petani yang menggarap sawah.

"Di sana sangat terbatas lahan pertanian sawah, tapi kalau itu digenangi, sawah akan hilang. Jadi bukan hanya tempat yang berubah tapi matapencahariannya juga turut berubah," tegas Shalihin.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved