Joli Jolan: Menjalin Solidaritas Sesama Lewat Pakaian, Buku hingga Barang Rumah Tangga
Mengenal komunitas Joli Ijolan, yang ada di Surakarta, Jawa Tengah. Menjadi ruang berbagi dan menjalin komunitas.
TRIBUNNEWS.COM – Di sebuah rumah di Jalan Siwalan No. 1, Kerten, Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah terlihat puluhan orang berbaris antre dengan tertib di tepi jalan, Sabtu (23/8/2025).
Mereka tidak sedang mengantre sembako, melainkan menunggu giliran untuk masuk ke sebuah “ruang berbagi”.
Adalah Joli Jolan, sebuah komunitas yang bukan sekadar tempat tukar menukar barang bekas, melainkan sebuah ruang solidaritas yang menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan slogan “Ambil sesuai kebutuhan, berikan sesuai kemampuan”, Joli Jolan telah membuktikan bahwa kepedulian adalah bahasa universal bagi setiap orang.
Didirikan pada tahun 2019, Joli Jolan lahir dari sebuah keresahan akan pengelolaan barang layak pakai atau barang bekas yang langsung dibuang, sementara itu di tempat lain banyak orang yang membutuhkan.
Filosofi namanya sendiri berasal dari Bahasa Jawa “Ijol-ijolan” yang berarti tukar menukar.
Gerakan komunitas ini sepenuhnya dilakukan oleh para relawan yang datang dari berbagai latar belakang, mulai dari ibu rumah tangga, pengusaha UMKM, guru, wartawan, hingga mahasiswa.
Karena panggilan hati, tanpa mengharap imbalan mereka meluangkan waktu dan tenaga untuk berkontribusi kepada masyarakat.
“Yang pasti gerakan seperti ini, harus mau bergerak dengan hati.,” ujar Cut Atika (52), salah satu relawan inti Joli Jolan.
Kini Joli Jolan memiliki 20-30 relawan aktif yang tulus sepenuh hati untuk membantu keberjalanan komunitas.
Setiap donasi yang diterima, baik secara langsung maupun melalui 3 alamat dropbox yang tersedia tidak langsung dipajang, tapi akan melalui proses sortir terlebih dahulu.
Baca juga: Cerita Komunitas Nubie Japan, Jadi Wadah Kreatif Pencinta Budaya Jepang di Soloraya
Para relawan akan memilah barang yang layak dan barang yang masuk kategori reject.
Barang yang tidak lolos sortir pun tidak dibuang sia-sia, melainkan diolah kembali menjadi isian bantal atau kerajinan lainnya.
Berbeda dari kebanyakan tempat donasi, Joli Jolan memiliki sistem yang terorganisir untuk memastikan proses berbagi berjalan adil dan menjaga martabat semua pihak.
Waktu operasional Joli Jolan yakni setiap hari Sabtu mulai pukul 10.00 hingga 13.00 WIB, di markas Joli Jolan yang merupakan rumah dari salah satu pendirinya.
Pengunjung yang terdaftar sebagai anggota kini telah mencapai lebih dari 3.000 orang.
Setiap kunjungan, pengunjung hanya diperbolehkan mengambil maksimal tiga buah barang, dengan ketentuan dua atasan dan satu bawahan.
Data pengambilan kemudian dicatat dalma kartu anggota, setelah itu pengunjung dapat mengambil barang lagi setelah 14 hari.
Namun, Joli Jolan tak hanya berhenti sampai disana, mereka mengembangkan beberapa program inovatif, seperti Toko Koci, Program Pangan, dan Kolaborasi Komunitas.
Toko Koci adalah sebuah butik yang menjual barang-barang donasi berkualitas premium dengan harga yang terjangkau.
Nama “Koci” merupakan singkatan dari “Koko” dan “Cici”, yang terinspirasi dari etos masyarakat Tionghoa.
Hasil penjualan dari Toko Koci sepenuhnya digunakan untuk biaya operasional dan mendanai program lainnya yang membutuhkan dana.
Program Pangan merupakan salah satu program yang didanai oleh hasil penjualan dari Toko Koci.
Dana tersebut dialokasikan untuk menyediakan bahan pangan seperti sayuran, telur, susu secara gratis kepada pengunjung.
Selain itu, Joli Jolan juga aktif berkolaborasi dengan berbagai pihak.
Mereka pernah bekerja sama dengan PMI di Mojosongo, mendukung acara sastra Sapardi
Djoko Damono, hingga menyalurkan donasi buku untuk kegiatan KKN mahasiswa.
Tantangan terbesar bagi Joli Jolan adalah mengedukasi masyarakat untuk berdonasi secara bijak, karena Joli Jolan kerap menerima donasi barang yang sudah robek, bernoda, dan tidak layak pakai.
"Dulu banyak sekali yang seperti itu, istilahnya seperti buang sampah," ujar Cut Atika.
Komunitas ini secara tegas menolak donasi pakaian yang tidak layak pakai, dan terus mengkampanyekan agar barang yang didonasikan adalah barang yang bersih dan dan siap pakai.
“Kita tetap bilang kepada orang yang ingin mendonasikan, apabila ingin mendonasikan barang, barangnya itu bersih. Kita selalu bilang, sekarang kita coba balikin ke kamu, kalau kamu terima barang, kotor, kancingnya tinggal satu, apa mau menerima,” tegas Cut Atika
Setiap hari Sabtu selalu ada cerita yang menggetarkan di Joli Jolan.
Mulai dari membantu keluarga yang bayinya akan menjalani operasi jantung di Jakarta dengan menyediakan stroller dan perlengkapan bayi, hingga menolong seorang pengemudi ojek online yang istrinya akan melahirkan.
"Selama barangnya ada, ayo," kata Cut Atika, menegaskan komitmen mereka untuk membantu selagi mampu.
Kisah-kisah inilah yang menjadi bahan bakar semangat para relawan dan mengubah persepsi masyarakat.
Joli Jolan membuka pintu bagi siapa saja yang ingin berkontribusi dan berpartisipasi melalui berbagai cara, diantaranya yaitu donasi barang dengan ketentuan barang-barang layak pakai seperti pakaian, buku, mainan anak, hingga peralatan rumah tangga.
Selain itu, Joli Jolan juga menerima donasi berupa uang yang akan dikelola secara transparan untuk kegiatan operasional dan sosial.
Joli Jolan adalah cerminan kekuatan komunitas.
Sebuah bukti bahwa dari hal-hal kecil seperti sepotong baju, solidaritas dapat dirajut, dan harapan dapat terus dihidupkan bagi banyak orang.
(mg/Nur Hidayah/peserta magang dari Universitas Sebelas Maret (UNS)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pengunjung-sedang-berada-di-ruang-berbagi-Jol-Ijolan-di-Jalan-Siwalan.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.