Minggu, 12 April 2026

Polisi Tewas Dianiaya Polisi di Sulsel

Sosok Aipda Muhammad Jabir, Ayah Bripda Dirja Pratama, Sudah 20 Tahun Berdinas Sebagai Polisi

Aipda Muhammad Jabir, ayah dari Bripda Dirga Pratama adalah polisi yang sudah bertugas selama 20 tahun. Dia kini berdinas di Polres Pinrang.

Penulis: Dewi Agustina
Ringkasan Berita:
  • Bripda Dirja Pratama, anggota Direktorat Samapta Polda Sulsel meninggal dunia akibat dianiaya seniornya, Minggu (22/2/2026) dini hari.
  • Ayah Bripda Dirga Pratama juga merupakan anggota polisi, Aipda Muhammad Jabir minta kasus ini diusut tuntas.
  • Terkini Bripda Pirman telah ditetapkan sebagai tersangka utama.
  • Enam anggota polisi lainnya masih jalani pemeriksaan.
 


TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Bripda Dirja Pratama, anggota Direktorat Samapta Polda Sulsel meninggal dunia, Minggu (22/2/2026) dini hari. 

Korban dinyatakan meninggal saat dirawat di RSUD Daya Makassar.

Korban yang baru lulus Bintara Polri tahun 2025 itu diduga dianiaya seniornya di dalam Asrama Ditsamapta Polda Sulsel.

Baca juga: Ibu Bripda DP Histeris Genggam Tangan Kapolda Sulsel, Irjen Djuhandhani Janji Usut Kasus Kematian

Awalnya ayah korban, Aipda Muhammad Jabir, mengaku mendapat kabar anaknya tak sadarkan diri di asrama kemudian dibawa ke RSUD Daya Makassar.

Dari pengalamannya selama 20 tahun berdinas sebagai anggota polisi, Aipda Muhammad Jabir melihat ada tanda-tanda kekerasan pada jasad anaknya.

"Pemeriksaan awal ada luka memar di perut dan leher. Indikasi (kekerasan) karena masih autopsi di dalam dan ada videonya luka memar di perut sebelah kanan," ucapnya, dikutip dari TribunMakassar.com.

 

 

Ia menuding senior di Polda Sulsel sebagai pelaku penganiayaan dan meminta kasus ini diusut tuntas.

"Kami akan proses minta keadilan, apabila ada penganiayaan kami serahkan ke penyidik Polda untuk mengungkap tuntas siapa pelaku penganiaya kejadian tadi pagi," katanya.

Sosok Aipda Muhammad Jabir

Aipda Muhammad Jabir adalah seorang anggota Polri yang berdinas di Polres Pinrang, Sulawesi Selatan. 

Ia dikenal publik sebagai ayah dari Bripda Dirja Pratama (DP), bintara muda berusia 19 tahun yang meninggal dunia pada 22 Februari 2026 di Asrama Polda Sulsel, Makassar.

Baca juga: Bripda Masias Dipecat dari Polri, Anggota DPR Mercy Barends Tegaskan Reformasi Polri Harus Konsisten

Bripda Dirja Pratama diduga meninggal akibat penganiayaan oleh seniornya.

Saat ini Aipda Muhammad Jabir bertugas di Polsek Sawitto, di bawah naungan Polres Pinrang.

Polsek Sawitto atau Watang Sawitto adalah salah satu Kepolisian Sektor (Polsek) yang berada di bawah naungan Polres Pinrang, Sulawesi Selatan. 

Polsek ini beralamat di Jl. Teuku Cik Ditiro No.15, Kelurahan Jaya, Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Wilayah kerja mencakup Kecamatan Watang Sawitto dan sekitarnya.

Aipda Muhammad Jabir menolak narasi awal yang menyebut anaknya meninggal karena membenturkan kepala sendiri, dan mendesak agar kasus ini diusut tuntas.

Proses Hukum

Bripda Pirman telah ditetapkan sebagai tersangka utama dalam kasus penganiayaan yang menewaskan Bripda Dirga Pratama, Minggu (22/2/2026). 

Bripda Pirman merupakan lulusan Bintara Polri 2024, sementara korban Bripda Dirga Pratama adalah lulusan 2025. 

Setelah lulus, keduanya ditempatkan di Ditsamapta Polda Sulsel.

Ditsamapta bertugas menyelenggarakan fungsi kepolisian umum, meliputi Turjawali (pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli), pengamanan unjuk rasa, pengendalian massa (Dalmas), hingga bantuan satwa. 

Sementara enam polisi lainnya sedang diperiksa. Mereka terdiri dari tiga rekan seangkatan (letting) dan tiga senior korban.

Proses hukum masih berjalan untuk memastikan siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini.

Sempat Disebut Sakit

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Didik Supranoto menyampaikan dugaan awal bahwa Bripda DP sempat terlihat sakit usai salat subuh.

Dia kemudian dibawa ke RSUD Daya Makassar sebelum akhirnya meninggal dunia.

Dugaan penganiayaan mencuat setelah keluarga menemukan luka memar pada tubuh almarhum, terutama di bagian perut dan dada dekat leher yang tampak menghitam. 

Keluarga juga melihat darah keluar dari mulut korban.

"Ada luka memar di perut, di sini (dada dekat leher) hitam, sama mulut keluar darah terus," kata Jabir, ayah korban.

Sebagai anggota Polri, ia menduga luka tersebut kuat terindikasi akibat pukulan.

Motif Pembinaan

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto mengungkapkan motif penganiayaan terhadap Bripda Dirga Pratama adalah dalam rangka pembinaan.

"Hasil pemeriksaan sampai dengan sekarang karena alasan pembinaan senior junior," kata Didik melalui pesan WhatsApp.

Didik menegaskan alasan pembinaan yang disebut menjadi motif penganiayaan terhadap Bripda Dirga tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apapun.

Menurutnya, tindakan Bripda Pirman yang memukul juniornya hingga meninggal dunia bukanlah bentuk pembinaan yang sah dalam institusi kepolisian.

"Pembinaan dengan kekerasan tidak dibenarkan dalam bentuk apapun," tegas Didik dalam keterangan tertulisnya, Selasa (24/2/2026) malam.

Ia menambahkan, pembinaan senior terhadap junior seharusnya bersifat konstruktif dan membangun.

"Pembinaan senior terhadap junior harus bersifat membangun, baik disiplin, fisik, maupun pemahaman hierarki, bukan menyiksa atau dalam bentuk lain yang menyengsarakan," jelasnya.

Terkait pasal yang akan disangkakan kepada Bripda P, Didik menyebut pihaknya masih berkoordinasi dengan Propam.

"Nanti saya tanyakan lagi ke Propam ya," tuturnya.

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Dalih Pembinaan Berujung Maut, Polda Sulsel Tegaskan Kekerasan Tak Bisa Dibenarkan

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved