Kisah Eri dan 20 Liter Harapan: Saat Program MBG Mengubah Nasib Peternak Lokal Boyolali
Dari krisis susu ke kepastian pasar, 20 liter per hari kini jadi harapan baru Eri setelah MBG berjalan.
TRIBUNNEWS.COM - Setiap pagi, Eri Setiawan (60) berangkat dari kandangnya di Dusun Logerit, Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, membawa sekitar 20 liter susu segar hasil perahan sapi-sapinya.
Hari ini, langkahnya terasa lebih ringan. Namun, tak lama berselang, ingatannya melayang ke November 2024 masa ketika susu justru menjadi simbol keputusasaan.
Saat itu, harga susu jatuh dan serapan industri tersendat. Eri dihantui kekhawatiran hasil perahannya tak terbeli.
Sejumlah peternak di Boyolali bahkan menyiramkan susu ke tubuh mereka dan membuang puluhan ton produksi ke TPA Kepangangan sebagai bentuk protes.
“Waktu itu rasanya bingung. Susu banyak, tapi takut tidak terserap. Harga juga rendah,” ujar Eri saat ditemui Tribunnews.com kala menyetorkan susu perahannya di pos pengumpulan susu di Dusun Logerit, Desa Butuh, Mojosongo, Boyolali, Senin (23/2/2026) siang.
Sebelum ada Program Makan Bergizi Gratis (MBG), susu miliknya dihargai sekitar Rp6.000 per liter.
Dengan setoran rata-rata 20 liter per hari, pendapatannya pas-pasan untuk menutup biaya pakan dan operasional kandang.
Situasi berangsur berubah setelah Presiden Prabowo Subianto menggulirkan Program MBG dan menginstruksikan industri pengolahan untuk menyerap produksi susu lokal.
Di tingkat lapangan, kebijakan itu mulai terasa bagi Eri.
“Sekarang sudah lebih ayem, tidak takut lagi susu tidak terserap,” ujarnya saat ditemui seusai menyetorkan susu ke koperasi, Senin (23/2/2026).
Harga susu naik menjadi sekitar Rp7.000 per liter, mengikuti peningkatan kualitas produksi.
Kenaikan Rp1.000 per liter itu berarti tambahan sekitar Rp600.000 per bulan bagi Eri, angka yang cukup signifikan untuk skala peternak kecil.
Baginya, yang terpenting bukan sekadar kenaikan harga, melainkan kepastian pasar.
Di Mojosongo, Boyolali, koperasi menjadi penghubung antara peternak dan industri.
Susu yang disetorkan Eri didinginkan sebelum dikirim ke pabrik pengolahan.
Sejak MBG berjalan, permintaan dari industri meningkat, sehingga serapan produksi lebih terjamin.
Pengurus Koperasi Unit Desa (KUD) Mojosongo, Sriyono, mengakui sebelum MBG berjalan sempat terjadi pembatasan serapan susu lokal oleh industri.
“Sekarang penyerapan memang bagus, jadi tidak ada kendala bagi peternak memasarkan susu. Industri juga banyak yang mengolah susu UHT dari bahan baku lokal,” ujar Sriyono di Kantor KUD Susu Mojosongo, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Senin (23/2/2026) siang.
Ia menjelaskan, setiap hari koperasi menampung sekitar 17 ribu liter susu dari ratusan hingga ribuan peternak di Boyolali.
Susu dikumpulkan di titik setoran, lalu dibawa ke cooling unit untuk didinginkan pada suhu 2 derajat Celsius.
Setelah terkumpul sekitar 16 ton, susu dikirim ke industri pengolahan.
“Biasanya kami kirim 30 ton, sekarang bisa diminta sampai 40 ton untuk kebutuhan MBG,” katanya.
Selain menjaga distribusi, koperasi juga melakukan pendampingan kepada peternak, mulai dari perbaikan kualitas pakan, manajemen kandang, hingga penggunaan mesin perah.
Upaya ini dilakukan untuk menjaga kualitas nutrisi susu agar sesuai standar industri.
Boyolali sendiri menyumbang sekitar 130 ton susu per hari dari total 170 ton produksi Jawa Tengah.
Di balik angka besar itu, ada kisah-kisah kecil seperti Eri, peternak yang menggantungkan harapan pada 20 liter susu setiap hari.
Dari krisis hingga asa baru, perjalanan Eri mencerminkan bagaimana kebijakan nasional dapat berdampak langsung pada dapur peternak lokal.(Tribunnews.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Eri-Setiawan-Setorkan-Susu-Perahan-ke-Pos-Pengumpulan-Mojosongo.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.