Rabu, 22 April 2026

TKA Digelar di Atas Bukit Gara-gara Mati Listrik, Ini Langkah SMP di Limapuluh Kota 

TKA di SMP 4 Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, sempat berlangsung di atas bukit seiring gangguan internet akibat mati listrik. 

HO/IST/TribunMataraman.com/Isya Anshori
TKA SMP - Foto ilustrasi. Ini adalah foto pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SMP di Kabupaten Kediri, Jawa Timur mulai digelar pada Senin (6/4/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Pelaksanaan TKA di SMP 4 Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, sempat terkendala akibat mati listrik yang memutus jaringan internet.
  • Menghadapi kondisi tersebut, pihak sekolah bergerak cepat. Kepala sekolah bersama guru dan siswa mencari lokasi dengan sinyal seluler lebih baik, meski harus berpindah ke atas bukit.
  • Ujian akhirnya digelar di tenda dengan memanfaatkan jaringan ponsel. Langkah ini dilakukan agar asesmen tetap berjalan meski fasilitas utama tidak berfungsi.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SMP 4 Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, sempat berlangsung di atas bukit seiring gangguan internet akibat mati listrik. 

Menghadapi kondisi tersebut, pihak sekolah bergerak cepat, Kepala sekolah bersama guru dan siswa mencari titik dengan sinyal lebih baik, meski harus berpindah lokasi dan mengandalkan koneksi dari ponsel. 

Kabupaten Limapuluh Kota adalah salah satu daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan ibu kota di Sarilamak. Dari Kota Padang ke Sarilamak berjarak sekitar 172 km dengan waktu tempuh rata-rata 2,5–3 jam perjalanan darat.

TKA pun digelar di tenda dengan jaringan ponsel.

"Anak-anak dan guru berinisiatif mencari titik yang ada sinyal (selular) agar ujian tetap bisa dilaksanakan," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Limapuluh Kota, Antoni, kepada wartawan Selasa (14/4/2026).

Situasi ini bermula dari kendala teknis yang terjadi tepat di hari pelaksanaan TKA

Sekolah yang sebelumnya telah menyiapkan ujian daring harus menghadapi gangguan listrik yang berdampak langsung pada jaringan internet nirkabel (wifi) di lokasi yang semestinya tersambung dengan listrik. 

Walhasil, sekolah mencoba memakai jaringan internet berbasis telepon seluler. Sayangnya, sinyal seluler di sekolah kurang stabil. 

"Sinyal wifi dari seluler tidak stabil sehingga pelaksanaan di lokasi awal menjadi sulit," kata Antoni.

Gerak cepat pihak sekolah untuk menyesuaikan lokasi asesmen pun menuai apresiasi. 

Langkah cepat tersebut dinilai sebagai bentuk nyata dedikasi dan tanggung jawab guru di lapangan. 

Di tengah keterbatasan, para guru tetap berupaya memastikan proses asesmen berjalan tanpa harus menunda pelaksanaan. 

"Alhamdulillah pelaksanaan TKA di sana tetap berjalan lancar," katanya. 

Menurut Antoni, tanpa inisiatif tersebut, pelaksanaan TKA berisiko tidak dapat dilaksanakan sesuai jadwal. 

Hal ini tentu akan menimbulkan persoalan baru, baik bagi siswa maupun sekolah, terutama dalam menjaga kesinambungan proses evaluasi pembelajaran. 

Dari sisi kebijakan, sekolah sebenarnya memiliki opsi untuk bergabung dengan satuan pendidikan lain. 

Namun, kondisi geografis menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan. Akses menuju sekolah lain tidak hanya jauh, tetapi juga memiliki tingkat risiko tinggi, terutama ketika cuaca tidak mendukung.  

"Jika bergabung ke sekolah lain, jaraknya jauh dan medannya berat, apalagi saat hujan sangat berisiko," jelas Antoni.

Sekolah memutuskan untuk melaksanakan ujian secara mandiri di lokasi yang dianggap paling memungkinkan. 

Meskipun terdapat akses jaringan melalui layanan BAKTI Kominfo dan Telkomsel, kondisi di lapangan tidak selalu stabil, terlebih saat terjadi gangguan listrik. 

Kondisi ini juga menjadi gambaran nyata tantangan pendidikan di wilayah terpencil. 

Hingga saat ini, akses menuju sekolah masih terbatas dan memerlukan upaya lebih untuk menjangkaunya. 

Bahkan, dalam kondisi tertentu, perjalanan menuju lokasi tidak memungkinkan dilakukan dalam satu hari. 

Antoni menilai dedikasi para guru di wilayah tersebut patut mendapatkan perhatian lebih luas. 

Mengajar di daerah dengan keterbatasan akses bukanlah hal yang mudah dan tidak semua orang bersedia menjalankannya. 

"Tidak banyak yang mau mengajar di daerah seperti itu, sehingga kami sangat menghargai dedikasi mereka," katanya.

Dalam keterangan resminya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengapresiasi inisiatif dan kerjasama dari seluruh pemangku kepentingan khususnya satuan pendidikan untuk memastikan pelaksanaan TKA berjalan lancar. 

Berdasarkan Petunjuk Teknis yang diterbitkan Kemendikdasmen, setiap sekolah memiliki opsi moda pelaksanaan TKA secara Daring dan Semi Daring dengan mempertimbangkan tingkat kesiapan infrastruktur dan tantangan geografis masing-masing. 

TKA Moda Daring membutuhkan koneksi internet yang stabil untuk komputer proktor dan komputer peserta selama pelaksanaan TKA berlangsung. 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved