Minggu, 10 Mei 2026

Kecelakaan Maut di Musi Rawas Utara

Firasat Buruk Penumpang Bus ALS: Terpaksa Berangkat karena Tiket Tak Bisa Dibatalkan

Selamat dari tragedi bus ALS terbakar di Muratara, Ngadiono ungkap firasat buruk soal kondisi kendaraan sebelum kecelakaan maut.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Glery Lazuardi

Ringkasan Berita:
  • Ngadiono menjadi salah satu korban selamat kecelakaan bus ALS dan truk tangki di Muratara yang menewaskan 16 orang. 
  • Ia mengaku sudah merasa tak nyaman dengan kondisi bus sejak awal perjalanan. 
  • Saat tabrakan terjadi, ia dan istrinya berhasil menyelamatkan diri lewat jendela sebelum bus terbakar hebat

TRIBUNNEWS.COM - Jerit penumpang dan kobaran api masih membekas kuat di ingatan Ngadiono (47), salah satu korban selamat dari kecelakaan maut antara bus ALS dan truk tangki di Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatra Selatan, Rabu (6/5/2026).

Kecelakaan terjadi di Jalur Lintas Sumatera (Jalinsum), tepatnya di wilayah Kecamatan Karang Jaya.

Bus ALS yang berangkat dari pool Jalan Kaligawe, Kota Semarang, bertabrakan dengan truk tangki bermuatan minyak hingga memicu kebakaran hebat.

Sedikitnya 16 orang dilaporkan meninggal dunia, 14 di antaranya merupakan penumpang bus ALS.

Firasat Buruk Penumpang Bus ALS

Ngadiono, warga Desa Tlogoayu, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, menjadi salah satu yang selamat dalam tragedi tersebut.

Ia naik bus bersama istrinya, Jumiatun (42), dengan tujuan Lubukpakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, untuk berdagang kasur.

Di tengah kepanikan dan kepulan asap tebal, Ngadiono dan istrinya berpacu dengan waktu menyelamatkan diri. Keduanya berhasil keluar dari dalam bus dengan cara memanjat dan melompat melalui jendela.

“Saya dengar benturan keras, lalu api langsung membesar. Dalam hitungan detik, bus sudah terbakar,” ujar Ngadiono saat dirawat di Puskesmas Karang Jaya.

Selain mereka, satu penumpang lain, M Tahrul Hubaidi (31), warga Tegal, juga berhasil menyelamatkan diri.

Ngadiono mengaku telah merasakan firasat buruk sejak sebelum keberangkatan. Ia menilai kondisi bus yang ditumpanginya tidak layak jalan.

“Dari awal saya sudah punya firasat tidak baik. Kondisi mobilnya sudah tidak layak, tapi kami terpaksa berangkat karena tiket tidak bisa dibatalkan,” tuturnya.

Baca juga: Tragedi Kecelakaan Maut Bus ALS vs Truk Tangki: Penyebab hingga Korban Tewas Belum Teridentifikasi

Sepanjang perjalanan, kekhawatiran itu semakin terasa. Bus beberapa kali mengalami gangguan teknis, mulai dari radiator kering hingga oli yang berceceran.

Keterbatasan biaya membuat mereka tetap melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya tragedi tak terhindarkan.

Setelah berhasil keluar, Ngadiono hanya bisa menyaksikan kobaran api melahap bus, disertai suara ledakan dari dalam kendaraan.

“Kami hanya bisa melihat penumpang lain terbakar di dalam. Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ucapnya dengan suara bergetar.

Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan pentingnya keselamatan transportasi, terutama terkait kelayakan kendaraan dan pengawasan perjalanan jarak jauh di jalur padat seperti Jalinsum.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved