Berita Viral
Calon Paskibraka dari Makassar Dicoret, DPPI Sebut Seleksi Tidak Transparan, Ada yang Mencurigakan
Nama siswi peringkat 3 seleksi Paskibraka Sulsel tiba-tiba dicoret. DPPI soroti dugaan seleksi tak transparan dan penuh kejanggalan.
Ringkasan Berita:
- Cathlyn Yvaine Lesmana dicoret dari seleksi Paskibraka Sulsel meski lolos peringkat tiga.
- Namanya diganti siswi lain hingga memicu protes dari berbagai pihak.
- DPPI Makassar menilai proses penilaian tidak transparan.
- Pendamping peserta seleksi Paskibraka disebut sempat diminta keluar saat seleksi akhir berlangsung.
- Kesbangpol Sulsel membantah ada titipan atau diskriminasi dalam seleksi.
TRIBUNNEWS.COM - Viral di media sosial, seorang siswi SMA bernama Cathlyn Yvaine Lesmana dicoret dari daftar seleksi Paskibraka tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Nama Cathlyn yang sudah lolos di peringkat ketiga seleksi provinsi tiba-tiba dicoret dan digantikan oleh siswi lain.
Hal ini pun menuai banyak protes karena siswi yang sudah lolos seleksi tiba-tiba dicoret dan digantikan dengan orang lain.
Ketua Purna Paskibraka Indonesia Makassar Muhammad Fahmi mengatakan, pihaknya menilai mekanisme penilaian tidak terbuka.
"Tim penilai kan banyak unsur, dari informasi kami himpun. Teman-teman tidak bisa masuk dalam ruang penilaian," ujarnya, dikutip dari Tribun-Timur.com.
Ia menuturkan, kegiatan seleksi dilakukan secara terbuka, namun penilaiannya tidak transparan.
"Tapi penilaian pengumuman ini kenapa tertutup dan dua kali dilaksanakan,"
"Satu kali dulu, baru dikeluarkan pendamping. Penilaian selanjutnya baru diumumkan. Kita tidak permasalahkan siapapun lolos," kata Muhammad Fahmi.
Ia juga menyayangkan penilaian tersebut, karena Cathlyn menguasai bahasa Inggris dan Mandarin.
Fahmi juga mendapatkan informasi bahwa nilai Cathlyn berkurang karena tidak bisa bahasa daerah.
"Masa kalah karena tidak bisa bahasa daerah. Ini kita pertanyakan apakah bahasa daerah jadi indikator wajib dikuasai?," ujarnya.
Baca juga: Telkom University Buka Jalur OSIS, Pramuka, dan Paskibraka 2026, Beri Beasiswa
Menurutnya, dalam aturan baris-berbaris tidak menggunakan bahasa daerah.
"Tidak ada aturan baris berbaris menggunakan bahasa daerah, di pusat pun pakai bahasa Indonesia,"
"Dari sistem ranking, adik kita mendekati sempurna nilainya. Hampir seratus, artinya secara kemampuan aman. Tapi pas mengusulkan 3 besar justru turun diganti yang tidak masuk 10 besar," lanjutnya.
Kata DPPI Kota Makassar
Ketua Pelaksana Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kota Makassar, Yusuf A Bachtiar Mappiare juga turut menyoroti kasus ini.
Ia menuturkan, sistem seleksi untuk Paskibraka di Istana Negara ini tidak transparan.
"Sistem seleksinya sendiri tidak transparan dan kabupaten/kota lainnya pasti sepakat," ujar Yusuf A Bachtiar kepada Tribun-Timur.com pada Selasa (26/5/2026).
Ia menuturkan, pada seleksi hari terakhir, para pendamping tiba-tiba diminta untuk keluar dari ruang seleksi tanpa alasan yang jelas.
"Di seleksi hari terakhir tahun 2026, tanggal 21 kemarin para pendamping disuruh keluar dari ruang seleksi padahal ada id card resmi tanpa alasan yang jelas,'
"Padahal sesuai aturan dilaksanakan secara transparan," jelas Yusuf A Bachtiar.
Menurut aturan, ujarnya, segala penilaian wajib terbuka, termasuk kepada para pendamping.
Yusuf menuturkan, ia merasa curiga saat seleksi kepribadian yang nilainya menjadi penentu.
Ia menuturkan, 40 persen penilaian pemeringkatan berasal dari seleksi kepribadian.
"Baru seleksi kepribadian itu nilainya keluar 2 hari setelah seleksi, jadi bisa orang berspekulasi baru diatur nilainya," ujarnya.
Yusuf menyayangkan adanya Penentuan Akhir (Pantukhir) sebagai penentu nama yang akan diberangkatkan ke Jakarta.
Menurutnya, penilaian harus berdasarkan nilai dari tes Samapta (tes fisik), peraturan baris berbaris (PBB), dan kepribadian.
"Pantukhir yang di tingkat provinsi tidak sesuai aturan. Karena harusnya penentuan itu tidak ada lagi pantukhir yang dicek lagi postur dan sebagainya. Harusnya sudah data dan nilai," jelasnya.
Yusuf pun menduga ada permainan di seleksi pusat karena Makassar dianggap terlalu sering mengirim perwakilan.
Cathlyn sendiri merupakan siswa SMA dari Kota Makassar.
"Ada panitia dan pihak sana bilang 'jangan mi makassar terus' padahal tidak ada aturan mengatur tersebut,"
" Yang terpenting kan kualitas, bukan asal daerah. Kalau memang asal daerah dilihat, kenapa di seleksi. Mendingan digilir saja," kata Yusuf.
Jika itu alasannya kenapa Cathlyn dicoret, Yusuf pun menyinggung daerah lain yang satu kota bisa mengirimkan lebih dari satu perwakilan provinsi untuk ke pusat.
"Kita berkaca di Sulbar, di Polman itu 4 perwakilan ke pusat. Di Sulteng juga Palu itu 3 perwakilan ke pusat. Saya sudah tanya Kembali ke pusat, jawabannya tidak karena dinilai kualitas," lanjutnya.
Ia pun berharap seleksi dilakukan lebih transparan.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangka dan Politik (Kesbangpol) Sulsel, Bustanul Arifin menuturkan bahwa seleksi Paskibraka sudah sesuai ketentuan.
"Dari awal kami pastikan pelaksanaan seleksi utusan kabupaten/kota ke provinsi berjalan objektif dan transparan. Tidak ada titipan, apalagi diskriminasi rasial," kata Bustanul Arifin.
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Nama Cathlyn Yvaine Lesmana Dicoret, DPPI Makassar Kecewa Hasil Seleksi Paskibraka Sulsel
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.