Senin, 15 Juni 2026

Pelabuhan di Daerah Bersiap Hadapi Peningkatan Arus Kapal dan Ancaman Kenaikan Biaya Operasional

Lonjakan arus kapal dan perdagangan tekan layanan pelabuhan, biaya logistik terancam naik akibat pelemahan rupiah.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
  • Peningkatan arus kapal dan perdagangan menekan sektor kepelabuhanan. Data BPS Sumbar mencatat lonjakan ekspor dan impor di Teluk Bayur
  • Pemerintah menyoroti penumpukan kontainer di Tanjung Priok, sementara pelaku logistik waspada biaya operasional akibat pelemahan rupiah. 
  • Evaluasi layanan pelabuhan digencarkan

TRIBUNNEWS.COM – Peningkatan aktivitas perdagangan dan arus kapal mulai memberikan tekanan baru terhadap sektor kepelabuhanan nasional.

Di sejumlah daerah, pelabuhan menghadapi tantangan untuk menjaga kualitas layanan di tengah proyeksi kenaikan trafik kapal, sementara pelaku usaha logistik juga mewaspadai potensi kenaikan biaya operasional akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Perhatian terhadap sektor kepelabuhanan semakin menguat setelah pemerintah menyoroti sejumlah persoalan logistik yang terjadi di berbagai pelabuhan nasional.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan meninjau langsung Tempat Pemeriksaan Fisik Terpadu (TPFT) Graha Segara di Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok, Jakarta.

Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kelancaran arus logistik nasional di tengah meningkatnya volume impor.

Pemerintah juga mendorong percepatan pelayanan guna mencegah penumpukan dokumen maupun kontainer yang berpotensi mengganggu rantai distribusi barang.

Aktivitas Bongkar Muat Meningkat

Peningkatan aktivitas pelabuhan juga tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat yang menunjukkan pertumbuhan arus perdagangan melalui jalur laut pada Desember 2025.

Jumlah barang yang dimuat melalui angkutan laut dalam negeri mencapai 293,95 ribu ton atau meningkat 33,58 persen dibandingkan November 2025 yang sebesar 220,06 ribu ton.

Aktivitas tersebut berlangsung di Pelabuhan Teluk Bayur, Pelabuhan Muaro, dan Pelabuhan Air Bangis.

Berdasarkan data BPS, volume barang yang dimuat di Pelabuhan Teluk Bayur meningkat 33,80 persen. Pelabuhan Muaro mencatat kenaikan 36,97 persen, sedangkan Pelabuhan Air Bangis naik 8,37 persen.

Di sektor perdagangan internasional, volume ekspor melalui Pelabuhan Teluk Bayur tercatat mencapai 463,41 ribu ton atau meningkat 74,50 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara volume impor yang dibongkar meningkat 47,32 persen menjadi 40,83 ribu ton.

Baca juga: Menkeu Purbaya Tinjau Kontainer yang Numpuk di Pelabuhan Tanjung Priok

Antisipasi Peningkatan Aktivitas di Pelabuhan

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pelabuhan merupakan simpul utama distribusi barang, baik untuk perdagangan domestik maupun internasional.

Sejumlah operator pelayaran dan pengelola pelabuhan mulai mengevaluasi kesiapan layanan guna mengantisipasi peningkatan aktivitas yang diperkirakan terjadi dalam beberapa tahun mendatang.

Salah satu pembahasan mengenai kesiapan layanan pelabuhan mengemuka dalam forum yang mempertemukan operator jasa maritim, perusahaan pelayaran, agen kapal, dan pengelola pelabuhan di Teluk Bayur, Sumatera Barat.

Manager Area Sumatera 4 PT Pelindo Jasa Maritim, Subagio Wagiman, mengatakan peningkatan trafik kapal perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan operasional.

“Pelayanan pandu tunda adalah jantungnya keselamatan kapal masuk-keluar pelabuhan. Lewat ngopi santai ini kami ingin mendengar langsung keluhan dan harapan dari pengguna jasa, INSA, ISAA, sampai pelayaran. Masukan dari beberapa perusahaan pelayaran sangat berharga untuk kami jadikan bahan evaluasi layanan pemanduan dan penundaan kapal ke depan,” kata Subagio kepada wartawan, Sabtu (13/6/2026).

Dalam forum tersebut, sejumlah isu operasional menjadi perhatian, mulai dari waktu respons kapal pandu dan kapal tunda, koordinasi antarpetugas di lapangan, hingga kebutuhan armada tambahan untuk menghadapi potensi peningkatan trafik kapal pada 2026 dan 2027.

Perwakilan PT Jasa Armada Indonesia (JAI), Reynold Sake, menyatakan perusahaan berupaya menjaga standar keselamatan serta meningkatkan kecepatan layanan pandu dan tunda.

Peserta forum juga menyoroti pentingnya komunikasi antara nahkoda kapal, petugas pandu, operator kapal tunda, dan agen kapal untuk meminimalkan potensi keterlambatan layanan.

Dari sisi pengguna jasa, pelaku pelayaran menilai kepastian waktu sandar dan kecepatan koordinasi masih menjadi kebutuhan utama dalam mendukung kelancaran aktivitas logistik.

“Yang kami butuhkan kepastian waktu sandar dan koordinasi yang cepat. Ngobrol santai begini bikin komunikasi jadi lebih cair, jadi masalah kecil nggak perlu jadi besar,” ujar Ketua INSA Teluk Bayur.

Forum tersebut menghasilkan sejumlah poin evaluasi, termasuk peningkatan respons layanan pandu dan tunda, penguatan koordinasi operasional, serta peninjauan kebutuhan armada tambahan.

Antisipasi Lonjakan Kendaraan Angkutan Barang

Meningkatnya aktivitas logistik turut berdampak pada pergerakan kendaraan angkutan barang menuju kawasan pelabuhan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi menambah kepadatan lalu lintas di jalur distribusi utama.

Ketua Komisi II DPRD Kota Padang, Rachmad Wijaya, mengatakan tingginya volume kendaraan berat menuju pelabuhan memerlukan penataan yang lebih baik.

"Hampir 70 persen traffic lalu lintas ke pelabuhan itu didominasi oleh truk tangki CPO. Inilah yang selama ini menjadi salah satu penyebab kemacetan dan kecelakaan. Karena itu, kami berharap jalan Bypass menuju pelabuhan bisa lebih tertib dan aman," kata Rachmad Wijaya, Sabtu (6/6/2026).

Sebagai bagian dari pengaturan arus kendaraan, telah beroperasi area parkir kendaraan angkutan barang di Jalan Bypass Km 2, Lubuk Begalung, Kota Padang.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, mengimbau pengusaha transportasi dan pemilik armada memanfaatkan fasilitas tersebut.

"Daripada parkir di luar dan menghadapi berbagai persoalan, lebih baik parkir di dalam. Lebih aman, lebih tertib, dan insyaallah biayanya juga lebih terjangkau," ujarnya.

General Manager Pelindo Teluk Bayur, Ferial Dunan, mengatakan area parkir tersebut dibangun untuk mendukung aktivitas logistik yang terus berkembang.

"Pelabuhan Teluk Bayur adalah pintu gerbang Sumatera Barat. Karena itu kami ingin menghadirkan fasilitas yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan pelaku usaha," katanya.

Rachmad Wijaya menambahkan seluruh transaksi di area parkir dilakukan secara digital dan non-tunai.

"Dengan adanya area parkir ini, kita membantu Pemko Padang meningkatkan PAD. Ada kontribusi pajak parkir sebesar 10 persen. Yang juga penting, seluruh transaksi dilakukan secara cashless dan digital, sehingga tidak ada ruang untuk pungli," ujarnya.

Baca juga: Purbaya Temukan 3.100 Kontainer Barang Impor Menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok

Pelemahan Rupiah Jadi Perhatian Pelaku Logistik

Selain tantangan operasional, pelaku usaha pelayaran juga mencermati dampak pelemahan rupiah terhadap biaya operasional.

Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS menimbulkan kekhawatiran karena sejumlah kebutuhan operasional sektor maritim masih bergantung pada komponen impor, seperti bahan bakar, mesin, dan suku cadang.

General Manager Pelindo Regional 4 Makassar, Iwan Sjarifuddin, mengatakan dampak pelemahan rupiah belum terlalu terasa bagi operator yang masih menggunakan BBM bersubsidi.

“Kalau setahu saya untuk pelayaran seperti kapal Pelni dan lain-lain itu menggunakan BBM bersubsidi. Jadi sepanjang BBM bersubsidi, menurut saya tidak akan terjadi kenaikan,” kata Iwan.

Meski demikian, ia menilai operator yang menggunakan BBM non-subsidi berpotensi menghadapi peningkatan biaya.

“Kalau yang tidak bersubsidi, saya kira akan naik. Karena kita tidak bisa membendung harga BBM. Harga minyak di pasar internasional sekarang meningkat,” ujarnya.

Menurut Iwan, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat dampak pelemahan nilai tukar sulit dihindari.

“Biar bagaimana pun pasti kita mendapatkan imbasnya, karena kita adalah net importer. BBM itu kita impor dari luar. Nah, itu jelas akan mempengaruhi harga yang ada di dalam negeri,” jelasnya.

“Kenaikan nilai dolar ini berarti melemahnya mata uang kita. Sehingga nanti memperbesar biaya yang harus kita keluarkan, khususnya untuk barang-barang impor. Dalam hal ini kita masih banyak membutuhkan BBM impor dan permesinan yang lain-lain juga masih banyak impor,” katanya.

Hingga kini, Pelindo masih menunggu arahan lebih lanjut terkait langkah yang akan diambil untuk merespons tekanan nilai tukar tersebut.

“Untuk sementara di Pelindo kami menunggu petunjuk dari kantor pusat. Nanti kantor pusat tentu akan menyesuaikan dengan regulasi atau aturan yang ditetapkan pemerintah,” ujar Iwan.

“Kami masih menunggu kabar, apakah nanti ada perubahan atau tidak terhadap kegiatan yang ada,” tambahnya.

Penumpukan Kontainer di Tanjung Priok

Di tingkat nasional, pemerintah juga menyoroti persoalan logistik yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meninjau kontainer impor yang berada di Long Room Tempat Pemeriksaan Fisik Terpadu (TPFT) Graha Segara, Pelabuhan Tanjung Priok, Sabtu (6/6/2026).

Dalam peninjauan tersebut, ditemukan sekitar 3.100 kontainer yang tertahan karena ribuan dokumen impor masih menunggu proses pemeriksaan Bea Cukai.

"Jadi saya kesini hari ini untuk menindaklanjuti informasi yang saya dapatkan mungkin beberapa hari yang lalu. Bahwa terjadi penumpukan di Tanjung Priok suratnya sampai 3.000 surat. Dan itu berkaitan dengan kontainer sebanyak 3.100," ujar Purbaya.

Menurutnya, kondisi tersebut mulai berdampak terhadap dunia usaha karena menghambat pasokan bahan baku dan meningkatkan waktu tunggu barang di pelabuhan.

Purbaya menilai peningkatan volume barang impor tidak dapat dijadikan alasan utama lambatnya proses pemeriksaan.

"Tadi saya tanya masalahnya apa. Ada beberapa masalah. Katanya sebetulnya untuk saya gak masuk akal. Peningkatan jumlah barang masuk. Sehingga prosesnya lambat di sini," ungkap Purbaya.

"Kalau masalahnya itu, saya minta untuk tambah personelnya lagi. Jadi mereka harus kerja 24/7 sampai nanti jumlahnya turun ke level yang semula. Sekitar 500 yang ada di sini," sambungnya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa di tengah meningkatnya aktivitas perdagangan dan arus kapal, sektor kepelabuhanan masih menghadapi tantangan dalam menjaga kelancaran layanan logistik.

Kesiapan infrastruktur, efektivitas pelayanan, serta kemampuan menekan biaya operasional menjadi faktor yang akan menentukan kelancaran distribusi barang di berbagai pelabuhan dalam beberapa tahun mendatang.

Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com dengan judul Wajah Panik Purbaya saat Ditanya soal Transaksi di Pelabuhan Gunakan Dollar AS 

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Rupiah Anjlok, Pelindo Waspadai Dampak Impor Barang dan Pelayaran di Pelabuhan Soekarno-Hatta


Artikel ini telah tayang di TribunPadang.com dengan judul Bongkar Muat Barang Perdagangan Dalam Negeri Sumbar Naik 33,58 Persen, Teluk Bayur Dominasi Muatan


Artikel ini telah tayang di TribunPadang.com dengan judul Kemacetan Truk ke Teluk Bayur Jadi Sorotan, Area Parkir Bypass Disiapkan sebagai Solusi

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
Live
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
VS
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
VS
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved