Virus Corona

Pemusnahan Kelelawar Secara Massal untuk Cegah Corona Dinilai Salah Besar

Wabah virus corona atau SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19 saat ini telah melanda lebih dari 170 negara di dunia.

Pemusnahan Kelelawar Secara Massal untuk Cegah Corona Dinilai Salah Besar
KOMPAS.com/SKIVO MARCELINO MANDEY
Warga saat membeli daging kelelawar di Pasar Pisangkulan Karombasan, Kota Manado, Sulawesi Utara, Selasa (28/1/2020) 

TRIBUNNEWS.COM - Wabah virus corona atau SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19 saat ini telah melanda lebih dari 170 negara di dunia.

Penyakit ini pertama kali terjadi di Wuhan, China dan diduga berasal dari salah satu jenis Coronavirus pada kelelawar yang bermutasi.

Kendati penelitian terbaru dan analisis genomik mengungkapkan bahwa transmisi utama terjadi antar manusia ke manusia, beberapa pemerintah daerah melakukan pemusnahan ratusan ekor kelelawar jenis kalong dan codot demi mencegah virus corona.

Lantas, perlukah pemusnahan massal kelelawar sebagai mamalia terbang pembawa (vektor) virus Covid-19 itu?

Peneliti Biosistematika Vertebrata Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sigit Wiantoro angkat bicara tentang pemusnahan masal kelelawar ini.

Baca: Aktor Korea Daniel Dae Kim Positif Corona, Bagikan Pengalamannya

Baca: Fakta Wali Kota Bogor Bima Arya Positif Corona hingga Kabar sang Istri

Baca: Jumlah Kematian Akibat Virus Corona di Italia Melampaui China, Meski Sudah Lockdown

Kendati penyebaran dan penularan awal Covid-19 ini adalah dari perdagangan satwa liar di Wuhan, Tiongkok, namun Sigit menegaskan bahwa solusi yang tepat untuk mencegah terjadinya wabah virus ini di kemudian hari adalah dengan tidak mengganggu dan merusak satwa liar dan habitat alaminya.

“Membasmi kelelawar justru dapat memberikan efek yang berlawanan terhadap penyebaran penyakit,” kata Sigit, di Cibinong, Jawa Barat pada Rabu (18/3/2020).

Sigit mencontohkan upaya pembasmian kelelawar di Amerika Selatan untuk mengontrol rabies yang tidak berhasil.

Ironisnya, perubahan ekosistem yang disebabkan oleh manusialah yang menjadi penyebab utama kemunculan penyakit-penyakit yang dapat ditularkan dari satwa liar ke manusia.

Ini terjadi di pasar satwa liar Wuhan yang merupakan tempat hewan dibawa oleh manusia dalam keadaan stres tinggi dengan fisiologi yang melemah setelah dipindahkan dari alam liar.

Halaman
12
Editor: Sanusi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved