Breaking News:

Virus Corona

Studi: Varian A.30 Mampu Hindari Antibodi yang Diinduksi Vaksin Pfizer dan AstraZeneca

Studi laboratorium baru menunjukkan virus Corona varian A.30 yang terdeteksi di Angola dan Swedia, sangat resisten terhadap antibodi

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Choirul Arifin
Tribunnews/Jeprima
Tenaga kesehatan menunjukkan vaksin Covid-19 Pfizer di Sentra Vaksinasi Covid-19 Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Nasional, di Gelanggang Olahraga Remaja (GOR) Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (16/9/2021). Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, BERLIN - Sebuah studi laboratorium baru menunjukkan virus Corona varian A.30 yang terdeteksi di Angola dan Swedia, sangat resisten terhadap antibodi yang diinduksi oleh vaksin Pfizer dan AstraZeneca.

Tim peneliti dari Jerman melakukan pengamatan varian langka A.30 yang kali pertama tercatat di Tanzania itu, kemudian terdeteksi pada beberapa pasien di Angola dan Swedia saat musim semi ini.

Mereka membandingkan mutasi virus ini dengan varian Beta dan Eta. "Beta dipilih karena memiliki 'tingkat tertinggi' resistensi terhadap antibodi," kata para peneliti.

Dikutip dari Russia Today, Jumat (29/10/2021), menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal peer-review Cellular & Molecular Immunology pada minggu ini, varian A.30 menunjukkan peningkatan kemampuan untuk memasuki sebagian besar sel inang, termasuk sel ginjal, hati dan paru-paru.

Studi tersebut menemukan mutasi ini memasuki garis sel tertentu dengan peningkatan efisiensi dan menghindari netralisasi yang dimediasi antibodi.

Baca juga: Lebih dari 12 Juta Vaksin Tiba Dalam Tiga Hari, Total Vaksin Tembus 300 Juta Dosis

"Singkatnya, A.30 menunjukkan preferensi garis sel yang tidak diamati untuk varian virus lain dan secara efisien menghindari netralisasi oleh antibodi yang ditimbulkan oleh vaksinasi ChAdOx1 nCoV-19 AstraZeneca atau BNT162b2 Pfizer," jelas para peneliti.

Baca juga: Studi: Booster Pfizer-BioNTech Perkuat Perlindungan Terhadap Covid-19, Termasuk Varian Delta

Varian ini juga terbukti resisten terhadap obat monoklonal Bamlanivimab yang digunakan untuk pengobatan Covid-19, namun rentan terhadap campuran Bamlanivimab dan Etesevimab.

Perlu diketahui, sejauh ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum memasukkan A.30 sebagai varian yang menarik atau mengkhawatirkan dalam daftar mereka, karena prevalensinya yang masih rendah.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved