Breaking News:

Pemilihan Putri Indonesia 2010

Grace Binowo Peduli Terhadap Wanita Indonesia

Grace berjanji akan berusaha menimbulkan sipak saling peduli terhadap kaum wanita di Indonesia.

zoom-inlihat foto Grace Binowo Peduli Terhadap Wanita Indonesia
Tribun Timur/Iman Suryanto
Grace Gabriella Binowo, peserta PPI 2010 dari Jambi
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Iman Suriyanyo

DARA cantik pemilik nama Grace Gabriella Binowo (18) lolos mewakili Provinsi Jambi dalam ajang Pemilihan Putri Indonesia (PPI) 2010. Grace berjanji akan berusaha menimbulkan sipak saling peduli terhadap kaum wanita di Indonesia.

Dalam ajang PPI 2010 ini, Grace akan bersaing dengan 38 finalis PPI 2010 dari 33 provinsi seluruh Indonesia.

"Dibalik itu semua, yang paling terpenting adalah saya ingin menimbulkan sikap saling peduli terhadap sesama terlebih lagi kepada kaum wanita dan seluruh perempuan di Indonesia," kata dara kelahiran 12 Juli 1991.

Mahasiswa semester 3 jurusan Ilmu Hukum di Universitas Indonesia ini mengaku bangga karena dapat berdiri bersama para finalis dari berbagai Provinsi lainnya dalam ajang itu.

Malam final PI nanti, wanita yang gemar menari ini akan membawakan kesenian daerah asalnya berupa tarian asli Kerinci, Jambi, Tari Rangguk. Grace juga akan membawakan lagu Tilan-tilan yang dipadukan dengan tarian hip-hop.

"Saya sudah siapkan tarian kesenian daerah asli Jambi, nanti berdurasi 3 menit dengan sedikit modifikasi sehingga menarik," jelasnya sambi l tersenyum.

Disinggung mengenai usul tes kegadisan atau keperawanan bagi siswi dan mahasiswi di Jambi yang pertama kali dilontarkan Anggota Komisi IV DPRD  Provinsi Jambi, bambang Bayu Suseno, Grace mengatakan tidak setuju.

"Jujur secara pribadi saya menolak dan tidak setuju mengenai RUU yang dilontarkan tersebut," kata dara manis yang pernah berprestasi dalam Tim Indonesia -Moot Court 2010 di Viena.

Dia mengatakan usul tersebut masih pro dan kontra. "Sangatlah dini untuk melakukan hubungan seks di luar nikah, dan lagi. Sangat tidak mungkin mereka melepasnya dengan tanpa ada sebab ataupun adanya paksaan dari sesuatu hal," jelasnya.

Sedangkan kalangan yang kontra, kata Grace, akan memandang dari segi pendidikan dan hak asasi manusia. Pendidikan bebas dan wajib bagi siapa saja terlebih dari kalangan perempuan, tak peduli apakah seorang perempuan itu masih perawan atau tidak.

"Mereka mempunyai hak untuk bisa belajar. Saya tidak setuju karena esesnsi dari pendidikan bukanlah sesuatu hal yang dinilai dari keperawanannya,dan hal itu jika di langgar nantinya akanmenyinggung akan masalah hak asasi manusianya," jelasnya

Selain itu, Grace melihat di seluruh dunia mana pun tidak pernah ada pemberlakuan tes keperawanan bagi siswa. "Mana ada yang seperti itu, jadi secara tegas saya menolak RUU tersebut," katanya mengakhiri perbincangan.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved