Breaking News:

Coming Soon

Perempuan Sasak Terakhir, Kisah Benturan Budaya Adat

Film "Perempuan Sasak Terakhir" berkisah tentang modernisasi yang berbenturan dengan adat istiadat di Lombok.

zoom-inlihat foto Perempuan Sasak Terakhir, Kisah Benturan Budaya Adat
DOKUMENTASI TRIBUNNEWS
Salah satu adegan film Perempuan Sasak Terakhir

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ide sentral dari film ini adalah bagaimana benturan budaya modern terhadap adat istiadat masyarakat di sebuah kampung di Lombok.

Kisah ini dibagi menjadi tiga alur kisah utama yang dijahit menjadi sebuah film oleh sutradara muda putra daerah suku sasak Sandi Amaq Rinjani dalam "PEREMPUAN SASAK TERAKHIR".

"PEREMPUAN SASAK TERAKHIR" berfokus pada kisah tiga karakter anak muda, yaitu Ryan (22 tahun), seorang pemuda Lombok yang telah besar di Jakarta. Karena suatu kejadian Ryan lalu terpaksa pulang ke daerah kelahirannya di Lombok.

Karakter kedua adalah seorang gadis asli Lombok bernama Wati, seorang gadis yang terpengaruh dengan budaya global yang masuk ke tempatnya tinggal. Wati juga menjadi salah satu contoh anak yang orang tuanya menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Karakter ketiga adalah seorang gadis bernama Anjani. Gadis ini adalah tipikal gadis yang berusaha taat dengan adat dan norma yang berlaku di keluarga dan lingkungannya. Namun, karena suatu peristiwa, Anjani harus berurusan dengan hukum.

Ketiga karakter dalam PEREMPUAN SASAK TERAKHIR kemudian harus berurusan dengan konflik budaya dan norma di lingkungan tradisional dengan pengaruh budaya global.

PEREMPUAN SASAK TERAKHIR diproduseri oleh I Made Rethuyana. Beliau menjabat sebagai direktur utama TV9, sebuah televisi lokal Lombok yang berfokus mengangkat budaya lokal.

"Saya memang tidak punya pengalaman dalam industri broadcasting dan entertainment, seperti film. Tapi saya melihat film adalah sebuah medium yang bisa mengangkat kearifan lokal dan industri lokal hingga bertumbuh kembang. Banyak anak muda Lombok yang kemudian tertarik menjadi TKI di luar negeri, sehingga melalui film saya harap pola piker mereka berubah, " ujar I Made Rethuyana di Jakarta, Rabu (27/6/2012).

Sutradara Sandi Amaq Rinjani mengatakan bahwa ini adalah debut penyutradaraannya. Memakai aktor lokal, dirinya berharap bahwa Lombok menjadi lebih dikenal masyarakat.

"Saya sadar bahwa film saya masih memiliki banyak kekurangan. Tapi saya beranikan diri mencoba memakai semua talenta yang ada di sekitar saya untuk membuat film ini. Memang kebanyakan kru dan peralatan masih mengambil dari Jakarta, tapi semoga PEREMPUAN SASAK TERAKHIR menjadi awal yang baik untuk langkah selanjutnya, " jelas Sandi yang menempuh pendidikan di Institut Kesenian Jakarta ini.

Baca berita terkini lainnya

Penulis: ferro maulana
Editor: Agung Budi Santoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved