Sang Martir Bukan Film Tentang Terorisme
seorang bisa berubah 180 derajat karena sebuah peristiwa yang dialaminya. Rangga (Adipati Dolken) misalnya.
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Seseorang bisa berubah 180 derajat karena sebuah peristiwa yang dialaminya. Rangga (Adipati Dolken) misalnya.
Hatinya diliputi perasaan dendam ketika mengetahui Lily (Widi "Vierra"), kehidupan temannya di panti asuhan, hancur berantakan karena diperkosa preman.
Rangga, pemuda usia 20 tahun, seorang mahasiswa yang rajin mengaji dan menyayangi adik-adiknya, yang sama-sama dibesarkan di panti asuhan itu, marah besar.
Ia mendatangi preman itu kemudian meminta pertanggungjawaban atas perbuatan tersebut. Tetapi, preman itu mengajaknya bergelut. Keduanya terlibat perkelahian.
Karena berusaha untuk mempertahankan dirinya, Rangga lantas memberikan perlawanan. Akhirnya, preman itu tewas oleh pisaunya sendiri. Rangga masuk penjara.
Ia harus menjalani tiga tahun masa hukuman. Sejak itu, hidupnya dalam kecemasan. Rambo (Tio Pakusadewo) ingin membunuhnya untuk melampiaskan dendam.
Rambo mengirim orang ke penjara untuk menghabisinya. Ia ingin membalas kematian adiknya yang tewas di tangan Rangga.
Meski demikian, upaya tersebut gagal. Seorang pendeta, korban dari konspirasi pengalihan isu tragedi Ambon, teman satu selnya itu, telah melindunginya.
Sementara, kondisi panti asuhan semenjak Rangga dipenjara, sangat memprihatinkan. Haji Rachman (Jamal Mirdad) tewas di tangan Rambo. Dengan bertindak curang Rambo juga menguasai kepemilikan panti.
Anak-anak panti juga diberhentikan dari sekolah dan dijadikan pengemis jalanan. Arman (Fauzan Smith), sahabat Rangga di panti dipenggal kakinya karena mengetahui Rambo merebut kepemilikan panti secara paksa dengan meracuni Haji Rachman.
Saat Rangga menghirup udara kebebasan, sejumlah orang telah menunggunya. Mereka adalah anak buah Rambo yang ingin menghabisinya. Rangga berusaha melarikan diri. Namun, ia terdesak setelah masuk ke gang buntu. Ia disatroni preman berwajah seram dan garang sembari menggenggam pedang.
Rangga ketakutan. Kemudian sebuah mobil sedan menerobos gang buntu itu dan menabrakkannya ke gerombolan preman anak buah Rambo. Rangga selamat dari maut. Ternyata, ia diselamatkan oleh anak buat Jerry, bos preman yang menjadi musuh bebuyutan Rambo. Jerry merekrutnya jadi anak buah.
Rangga tidak punya pilihan. Ia merasa kehidupannya terancam. Di sisi lain, ia juga ingin membalaskan kematian Haji Rachman, pria yang sudah dianggapnya sebagai orangtua karena telah mendidik dan membesarkannya hingga dewasa.
Bersekutu dengan Jerry adalah jalan satu-satunya yang masuk akal untuk merealisasikan niatnya. Rangga hidup dalam dunia hitam sebagai kurir narkoba.
Rasa takutnya lenyap. Ia mendatangi panti asuhan sendirian, yang sudah dikuasai kelompok Rambo, untuk menemui saudara-saudaranya. Di sana ia terlibat perkelahian dengan anak buah Rambo.
Darah keluar dari hidung dan mulutnya. Tetapi, ia tidak menyerah. Ia menghantamkan botol bir ke kepala lawannya. Ia juga sempat menusuk lawannya dengan pecahan botol itu.
Rambo datang ke tempat kejadian perkara. Ia salut dengan keberanian Rangga. Saat itu, Rambo bisa saja menghabisi orang yang telah membunuh adiknya itu. Tetapi, ia tidak melakukannya. Ia punya rencana lain yang lebih besar.
Ia bersiasat untuk menghabisi Jerry, musuh bebuyutannya, lewat Rangga. Rambo dan Rangga membuat kesepakatan.
Rambo meminta Rangga melakukan bom bunuh diri untuk menghabisi Jerry. Jika upaya itu berhasil Rambo akan membebaskan anak-anak panti asuhan dan memberikan duit ratusan juta rupiah. Rangga menyetujuinya. Tetapi, ia dilema antara menyelamatkan anak-anak panti atau mengikuti perintah Rambo.
Rangkaian adegan di atas merupakan bagian dalam film "Sang Martir" besutan sutradara sekaligus penulis skenario Helfi Kardit. Ia memaparkan potret tentang maraknya premanisme di kota besar. Mereka bisa melakukan tindakannya seolah begitu bebas dan dibiarkan menguasai wilayah tertentu dengan ada backing oknum aparat.
Helfi membubuhkan kisah percintaan di dalamnya. Rangga terlibat asmara dengan wanita bernama Cinta (Nadine Alexandra). Keduanya bertemu di wilayah kekuasaan Jerry, yang dikenal kharismatik oleh masyarakat setempat. Ya, Jerry merupakan penyumbang dana terbesar untuk gereja.
Awalnya, Rangga penasaran melihat Cinta berdoa di luar gereja. Karena rasa penasaran itu, Rangga menghampiri dan berkenalan. Dari situ, ia mengetahui alasan Cinta berdoa di luar gereja sebagai bentuk protes karena ketidakadilan yang telah dialaminya. Lambat laun, mereka dekat dan saling jatuh cinta.
"Agak berat memang cerita yang diangkat. Tetapi, saya mengemas dan menyampaikannya secara entertaining. Entertaining dalam artian punya bobot dalam segi cerita. Seperti adegan kejar-kejaran aktor utama Rangga yang diperankan Adipati saat dikejar genk penguasa salah satu wilayah bernama Rambo. Dan, adegan action itu cukup seru," ucap Helfi.
Helfi menambahkan filmnya itu bukan mengisahkan tentang aksi terorisme yang menjadi pusat perhatian seluruh masyarakat Indonesia, selama satu dekade ke belakang. Helfi sama sekali tidak mau menimbulkan provokasi atas film yang dibuatnya.
"Ini bukan film tentang teroris. Saya hanya menegaskan tentang martir. Saya ingin mengubah mindset dalam jihad. Ini jauh lebih baik ketimbang membuat film teroris. Saya tidak ingin menimbulkan provokasi atas film yang saya buat," tandasnya.