Minggu, 31 Agustus 2025

Kasus Gatot Brajamusti

Sejarah Terbentuknya Padepokan Brajamusti: Awalnya Beranggotakan Para Jawara

Mantan Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) itu memiliki kemampuan kanuragan yang cukup bagus.

Penulis: Regina Kunthi Rosary
Tabloidnova.com/Tumpak Sidabutar
Rumah mewah yang terletak di tepi Jalan Cikaray, Desa Sukamanah, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kembali menjadi perbincangan warga sekitar. Rumah ini yang disebut Padepokan oleh sejumlah artis yang menganggap Gatot sebagai guru spiritual. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Regina Kunthi Rosary

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wahyuhono Adi Paripurno, salah seorang pendiri sekaligus anggota Padepokan Brajamusti mengisahkan awal mula terbentuknya padepokan tersebut.

Ditemui di kawasan Slipi, Jakarta Barat, Selasa (13/9/2016), Wahyu mengakui bahwa dirinya bersama Gatot Brajamusti atau yang akrab disapa Aa Gatot lah yang mendirikan padepokan itu.

"Padepokan berdiri sekitar tahun 2000 atau 1999 mungkin, ya. Waktu itu, di Surabaya, saya bertemu Aa Gatot dan kami kebetulan jawara-jawara semua. Jadi, ya, di situ awalnya," ujar Wahyu mula-mula.

Saat itu, para jawara di Surabaya pun bergabung dengan padepokan tersebut demi menempuh jalan yang lebih benar.

"Paling tidak, jawara-jawara atau yang liar-liar, kami, bisa bergabung untuk ke arah yang benar. Kan begitu. Jangan salah, di Surabaya, jawara-jawaranya itu santrinya Aa, lho. Waktu awal dulu, kami kan masih muda-muda, penginnya jadi jawara sehingga Aa bilang, 'Jangan jadi jawara, pasti dicoba orang,'" tutur Wahyu.

Masih berdasarkan penuturannya, padepokan tersebut pun dinamai dengan nama Gatot lantaran mantan Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) itu memiliki kemampuan kanuragan yang cukup bagus.

Wahyu saat itu juga kerap mengirimkan para anggota ke padepokan Brajamusti yang berada di Sukabumi, Jawa Barat, untuk berlatih ilmu kanuragan.

Pasalnya, mereka juga kerap membantu pemerintah dalam mengatasi terjadinya demo.

"Saya, sering, kirim anggota saya secara periodik, seminggu, kemudian balik lagi ke Surabaya, untuk latihan kanuragan. Karena waktu itu kan banyak kerusuhan-kerusuhan yang harus kami siapkan untuk membantu pemerintah," ucap Wahyu.

"Kanuragan itu, ya, tenaga dalam. Jadi, kami menghadapi apa-apa di lapangan, demo-demo atau apa, nggak ada masalah," lanjutnya.

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan