Selasa, 5 Mei 2026

Film Bidah Cinta Inspirasi Pentingnya Merawat Keberagaman

Budayawan yang juga tokoh Muhammadiyah, M Sobari mengapresiasi pembuatan film Bid'ah Cinta yang disutradarai Nurman Hakim.

Tayang:
Editor: Rachmat Hidayat
ISTIMEWA
Diskusi "Kala Asmara Terbentur Paham Agama" usai nonton bareng film Bid'ah Cinta, di XXI Epicentrum, Jakarta, Rabu (22/3/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Budayawan yang juga tokoh Muhammadiyah, M Sobari mengapresiasi pembuatan film Bid'ah Cinta yang disutradarai Nurman Hakim.

Kisah percintaan yang terbentur pemahaman keagamaan yang berefek pada ketegangan komunitas itu dinilai bisa menjadi gambaran dans ekaligus solusi bagaimana cara menghadapi perbedaan dan menghindari ketegangan.

Di tengah masyarakat yang saat ini mudah tersulut provokasi atas perbedaan pemahaman keagamaan itu, maka film tersebut sekalgus memberikan pesan bahwa adanya suatu perbedaan itu justru suatu keniscayaan mewujudkan cinta.

"Yangpaling penting dari pesan yang ada di filmini, bahwa ketegangan kolektif yang melibatkan komunitas, bisa ditunda, tidak sekedar adanya pernikahan. Tetapi ada kesadaran bahwa ketegangan itu justru banyak mudharatnya. Jadi ada kesadaran apa yang menjadi wujud damai di langit harus diciptakan di bumi. Itu intinya," kata Sobari, dalam diskusi "Kala Asmara Terbentur Paham Agama" usai nonton bareng film Bid'ah Cinta, di XXI Epicentrum, Jakarta, Rabu (22/3/2017).

Nonton bareng dan diskusi diikuti seratusan orang dari berbagai komunitas dengan dipandu dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta Nanang Tahqiq.

Adapun pembicara dalamdiskusi tersebut selain Kang Sobari adalah Rumadi dari Lakpesdam NU, Fajar Riza Ulhaq dari Maarif Institute, dan Tsamara Amani dari perwakilan mahasiswa Universitas Paramadina.

Acara nonton bareng dan diskusi tersebut diselenggarakan oleh Nurcholis Madjid Society. Hadir juga dalam acara itu sutradara dan para pemain film Bid'ah Cinta.

Dalam film Bid'ah Cinta digambarkan bagaimana cinta antara Khalida dan Kamal yang terbentur perbedaah pemahaman keagamaan. Kedua orang tuanya juga kemudian ikut terlibat dalam ketegangan tersebut, bahkan hingga merembet ke komunitas masyarakat.

Namun pada akhirnya, ada pemahaman dan suatu kesepakatan agar tidak menjadikan perbedaan itu agar tidak menjadi ketegangan dan sepakat untuk saling menghormati.

Kang Sobari mengungkapkan, dalam soal perbedaan pemahaman, NU dan Muhammadiyah bisa menjadi potret betapapun ada perbedaan tetapi sekarang sudah menunjukkan saling menghormati.

Bahkan, Sobari melihat justru perbedaan antara Muhammadiyah dan NU didasari pemahaman cinta.

"Perbedaan itu didasari rasa cinta. Orang NU tidak ingin orang Muhammadiyah sesat, orang Muhammadiyah juga tidak ingin orang NU sesat. Jadi perbedaan itu dasarnya cinta," ungkapnya.

Jadi, film tersebut bisa dikatakan potret yang jika dilihat dimanika sekarang NU dan Muhammadiyah sudah mencontohkan bahwa adanya perbedaan mereka tidak menjadikan saling mengolok-olok.

"Gambaran ini, bagus untuk merawat kebersamaan di masyarakat. Karena ketegangan sekarang ini, terjadi bahkan soal orang mati dipolitisasi dengan ancamanan tidak dishalatkan," ungkapnya.

Sutradara film Bid'ah Cinta, Nurman Hakim mengatakan, dalam film yang dibuatnya ada harapan masyarakat yang menonton terinspirasi dalam menyikapi perbedaan agar tidak menjadi konflik.

"Terinspirasi adanya kekhawatiran di beberapa daerah, yang mempertentangkan soal faham keagamaan dan potensial menjadi konflik. Penulisan film ini memang dilatarbelakangi kekhawatiran konflik yang dilatarbelakangi perbedaan paham," ungkapnya.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved