Kenapa Anak Muda Lebih Mudah Terprovokasi di Tengah Aksi Massa? Ini Penjelasan Psikolog

Banyak anak remaja akhir, usia kisaran 18 hingga 20 tahun, yang kerap berada di tengah aksi yang melibatkan banyak massa. Mereka gampang terprovokasi.

Kenapa Anak Muda Lebih Mudah Terprovokasi di Tengah Aksi Massa? Ini Penjelasan Psikolog
net/google
Ilustrasi. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Apfia Tioconny Billy

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Banyak anak remaja akhir, usia kisaran 18 hingga 20 tahunan, yang kerap berada di tengah aksi massa.

Anak-anak muda juga kerap terlihat berada di barisan paling depan dan mudah terprovokasi untuk melakukan aksi-aksi yang berhubungan dengan kekerasan.

Psikolog klinis keluarga, Monica Sulistiawati menjelaskan mereka yang pada usia remaja sedang mengalami perubahan yang dinamis pada fisik yang memengaruhi hormonal dan perubahan lingkungan.

Perubahan hormonal ini membuat para remaja lebih sensitif, alhasil mereka lebih mudah tersinggung saat dipancing sedikit saja.

Baca: Wanita Karier Atau Ibu Rumah Tangga? Tips Istri Ridwan Kamil Hindari Stres Jika Dihadapkan Hal Ini

Saat emosi sedang meledak-ledak maka keputusan yang mereka ambil tidak dipikirkan masak-masak dan jadinya tidak logis.

“Mereka jadi mudah tersinggung jadi tidak logis ambil keputuan dengan kata lain mereka bertindak secara impulsif. Inilah yang menyebabkan mereka mudah terprovokasi,” ungkap Monica kepada Tribunnews.com, Rabu (22/5/2019).

Kemudian anak-anak remaja akhir ini saat berada di dalam kerumunan massa lebih mengedepankan solidaritas hingga meninggalkan norma-norman pribadi yang sebelumnya dianut.

Dengan mengedepankan solidaritas mereka akan mudah terpengaruh bahkan bisa dibilang nurut dengan yang dilakukan disekitarnya terlepas tindakan tersebut negatif atau positif.

“Orang muda yang berada di dalam kerumunan massa akan lebih mengedepankan solidaritas dan meninggalkan norma pribadi, mudah meniru terlepas apakah perilaku kerumunan salah atau benar,” tutur Monica.

Agar tidak mudah terprovokasi khususnya tindakan-tindakan negatif anak muda sebaiknya mengindari kerumunan, mengedepankan pemikiran logis, mengatur emosi.

“Jangan biarkan diri terbawa emosi negatif. Tenangkan diri dengan mengalihkan perhatian dari hal-hal negatif ke yang lebih positif,” pungkas Monica.

Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Willem Jonata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved