Rumah Maestro Kacapi Aki Dadan Ambruk, Terpaksa Ngungsi di Lembaga Kebudayaan Cianjur

Sang maestro kacapi ( alat musik tradisional Sunda) Dadan Sukandar atau yang akrab disapa Aki Dadan, kini sedang dirundung pilu.

Rumah Maestro Kacapi Aki Dadan Ambruk, Terpaksa Ngungsi di Lembaga Kebudayaan Cianjur
Tribun Jabar/Ferri Amiril Mukminin
Rumah Aki Dadan sang maestro yang memprihatinkan, Rabu (11/9/2019). 

"Aki 11 bersaudara, semua sudah meninggal tinggal aki, namun anak dari kakak dan adik ada yang tinggal bersama aki," katanya.

Pelestari Seni Budaya Mamaos Cianjuran itu mengaku tidak bisa banyak berbuat untuk membetulkan atau merenovasi rumahnya lantaran tidak memiliki uang.

Bahkan untuk makan sehari-hari pun Aki Dadan hanya mengandalkan hasil dari penampilannya di setiap undangan kegiatan dinas ataupun pihak swasta. Itupun tak setiap hari ada.

"Sekali tampil paling dapat honor Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Kalaupun beruntung ada yang ngasih lebih sampai Rp 200 ribu, itu juga jarang. Ya lumayan cukup untuk makan tiga hari. Jadi mau membetulkan rumah bagaimana, ada untuk sehari-hari saya sudah bersyukur," katanya, Rabu (11/9/2019).

Baca: Menpar Arief Yahya: Selamat Jalan Maestro Carnival Indonesia


Menurutnya, beberapa bagian rumahnya sempat diperbaiki dengan dana bantuan dari Yayasan Pasundan dan pejabat pemerintah Cianjur pada 2008 lalu. Namun untuk saat ini belum ada lagi bantuan yang dia terima.

"Aki mah malu untuk minta bantuan, apalagi ke pemerintah. Seadanya saja, kalaupun ada pihak yang membantu Aki terimakasih karena telah peduli ke Aki dan keluarga," ujar dia.

Aki Dadan memilih tinggal di ruangan yang sudah diubah sebagai tempat tinggi di gedung kesenian Cianjur. Di samping lebih nyaman, dia juga lebih memilih di gedung LKC lantaran memudahkan dirinya untuk mengajar generasi muda Cianjur yang ingin mengenal dan mendalami seni Mamaos Cianjuran.

"Sering ada yang ke sini, untuk belajar. Makanya Aki mah di sini saja. Ditambah kan kalau di sana juga bisa dilihat sendiri kondisinya. Di sini juga jadi tidak kagok Aki mengajar, supaya Mamaos Cianjuran ini tetap bertahan dan tidak dilupakan," katanya.

Aki Dadan mengatakan ia mulai mengenal kesenian Mamaos Cianjuran sejak usia dini.

Pasalnya, orangtua dari Aki dadan, yakni Endu Sulaeman dan Warsah juga merupakan pelestari Cianjuran. Terlebih leluhur dari Aki Dadan sendiri yakni Abdi Dalem Pemerintahan Cianjur di Bidang Seni.

Aki Dadan sang maestro kacapi di satu ruangan di DKC memperlihatkan foto tahun 1962 saat menghadiri dan tampil di acara walikota Bogor saat itu, Rabu (11/9/2019).
Aki Dadan sang maestro kacapi di satu ruangan di DKC memperlihatkan foto tahun 1962 saat menghadiri dan tampil di acara walikota Bogor saat itu, Rabu (11/9/2019). (Tribun Jabar/Ferri Amiril Mukminin)
Halaman
1234
Editor: Sugiyarto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved