Jerinx SID Jadi Tersangka
Jerinx Kini Dipenjara, Sang Ayah Sudah Punya Firasat, Sejak Remaja Punya Pikiran Berbeda
Mendengar putranya harus dipenjara tak lantas membuat orangtua Jerinx kaget. Rupanya, sang ayah sudah merasakan firasatnya.
Editor:
Anita K Wardhani
TRIBUNNEWS.COM, DENPASAR - Mendengar putranya harus dipenjara tak lantas membuat orangtua Jerinx kaget. Rupanya, sang ayah sudah merasakan firasatnya.
Saat mendengar anaknya ditahan pada Rabu (12/8/2020), I Wayan Arjono, ayah kandung Jerinx mengaku tidak begitu terkejut.
Dalam hati, Arjono mengaku feeling-nya selama ini ternyata terjadi kalau anaknya suatu saat pasti akan kena.
“Saya tidak kaget, memang sebagai orangtua saya tahu anak saya. Memang saya sudah feeling suatu saat pasti akan kena,” ucap pria yang juga sebagai anggota DPRD Gianyar dari Partai Golkar itu.
Diakui Arjono, putranya yang bernama asli I Gede Ari Astina ini memang tumbuh menjadi remaja dengan pemikiran bebas dan vokal dalam menyuarakan pemikirannya.
Perubahan sikap Jerinx membuat ayah kandungnya merasa waswas sedari dulu.

Sekarang terbukti, Jerinx dijadikan tersangka dan ditahan di Rutan Polda Bali karena kasus dugaan ujaran kebencian.
Menurut Arjono, sejak Jerinx getol menyuarakan Bali Tolak Reklamasi (BTR) Teluk Benoa tahun 2013 silam, sebetulnya keluarga besar sempat rapat untuk menyarankan Jerinx berhenti ikut berjuang di BTR.
Namun Jerinx secara tegas menolak.
Akhirnya keluarga memaklumi dan mendukung perjuangan Jerinx.
Baca: Sindiran Pedas Gubernur Bali untuk Jerinx SID, Gentle Aja, di Tahanan Takut Ternyata
Baca: Dijenguk di Polda Bali, Jerinx SID Peluk dan Kecup Mesra Nora Alexandra
“Waktu itu kami sudah sempat sarankan, kalau bisa keluarga berharap janganlah lagi terlibat, karena risikonya besar.
Tapi dia tidak mau. Nah kami akhirnya menyarankan, kalau memang begitu, apapun nanti konsekuensinya harus tanggungjawab,” kata Arjono saat diwawancara Tribun Bali, Jumat (14/8/2020).
Perjalanan Masa Kecil Hingga Remaja
Seraya duduk santai, Arjono mengisahkan secara singkat bagaimana perjalanan hidup Jerinx sedari ia kecil sampai saat ini.
Waktu masih berusia di bawah 10 tahun, Arjono melihat anaknya sosok yang biasa-biasa saja.
“Dia tidak ada nakal, ya seperti biasa saja waktu kecil. Dia sempat sekolah di PAUD kalau dulu namanya TK nol besar. Nah waktu itu dia jalan kaki tiap hari 3 km,” tutur Arjono.
Kemudian, waktu duduk di sekolah dasar, Arjono mulai merasakan anaknya berprestasi dalam bidang akademik.
Ini dibuktikan saat dia melihat nilai raport anaknya yang selalu dapat ranking setiap ada kenaikan.
“Waktu SD itu anak saya biasa dapat juara satu. Kalau saya sebagai orangtua kan hanya melihat dari nilai, waktu itu saya masih ingat nama kepala sekolahnya itu Pak Mesir dari Pecatu. Jadi Jerinx sekolah di Pemamoran Kuta,” ungkap Arjono.
Tatkala duduk di bangku SMP, Jerinx sudah tidak lagi berprestasi secara akademik seperti waktu dia duduk di bangku SD.

Kisah Awal Dipanggil Jerinx
Namun, satu hal yang masih dia ingat waktu itu adalah anaknya mulai dipanggil Jerinx.
Arjono menceritakan, nama Jerinx ini muncul berawal dari salah satu temannya yang sering menginap di rumahnya.
Karena waktu itu rambut anaknya memang “berdiri”, maka teman-temannya memanggil Jerinx.
“Saya saja tidak mengerti kenapa namanya Jerinx, sempat saya tanya dia, kenapa nama kamu Jerinx, dia jelaskan, itu pak ada teman saya yang nyebut-nyebut ya jadinya saya dipanggil Jerinx,” tutur Arjono.

Sejak Remaja Berpikir Beda
Arjono juga mengaku anaknya dulu sering diajak jualan kaset baik kaset untuk tape, atau CD.
Hampir setiap hari ia mendengarkan berbagai jenis musik saat ia diajak jualan.
Itu sebabnya, hobi Jerinx bermain musik ia duga karena bertahun-tahun diajak jualan kaset.
Jika dibandingkan dengan remaja, dan anak-anak muda kebanyakan, menurut Arjono, sosok Jerinx memang agak berbeda dari yang lainnya.
Satu yang sempat ia ingat waktu Jerinx masih duduk di bangku SMA, Arjono rutin memberi Jerinx bekal sekolah Rp 3 ribu per hari.
Jerinx tak mau dikasih lebih.
“Di sana saya lihatnya, kenapa ini orang kok tidak mau dikasih lebih. Pernah suatu saat, saya kasih Rp 5 ribu, karena saya tidak ada uang receh, dia tidak mau, gimana pun caranya dia gak mau. Harus Rp 3 ribu. Saya tanya kenapa, katanya biar tidak ribet. Nah di sana saya melihat pemikiran anak saya mulai beda,” ucap Arjono.
Selain itu, yang membuat Arjono kaget dengan sifat dan sikap anaknya yang masih SMA adalah ketika Jerinx berangkat ke Jakarta untuk ikut demonstrasi menurunkan Soeharto pada tahun 1998.
Waktu itu, Arjono benar-benar bingung mengapa anak seusia SMA sudah punya pemikiran seperti itu.
Arjono pun tak bisa melarang anaknya ikut demo ke Jakarta.
“Saya selaku orangtua kaget. Artinya ya bedalah saya anggap orang kecil punya pemikiran seperti itu,” tutur Arjono.
Tamat SMA, Arjono sempat menyuruh Jerinx kuliah. Jerinx pun menuruti keinginan orangtuanya.
Namun ternyata Jerinx tidak minat kuliah.
Jerinx cuma kuliah tak sampai dua tahun, dan ia memilih fokus dengan band yang dibentuknya yakni Superman Is Dead.
“Anak saya bilang, kalau nyari titel-titel itu saya tidak senang pak, kursus bahasa Inggris untuk gagah-gagahan, itu saya tidak senang. Akhirnya saya suruh dia kuliah di seni juga dia tidak mau, ya sudah kami tidak bisa memaksa,” kata Arjono.
Sampai tiba saatnya, Arjono kaget melihat keseharian anaknya yang sering pulang malam, keluyuran, manggung sana- sini.
Bahkan Arjono sempat membuntuti Jerinx saat manggung di GOR Lila Bhuana Ngurah Rai Denpasar.
“Dan saya kaget, yang nonton banyak sekali. Saya berpikir, ini anak saya kok bisa ditonton banyak gini,” tutur Arjono dengan nada heran.
Arjono juga bercerita bahwa di keluarganya memang ada keturunan pejuang. Kakek Jerinx adalah seorang veteran.
Bahkan, ketika Jerinx memutuskan menjadi salah satu pentolan dalam gerakan BTR Teluk Benoa, yang paling getol mendukung adalah kakeknya yang sudah wafat lima tahun silam.
“Waktu itu, kakeknya mendukung, dan memberi Jerinx motivasi. Apa yang ia katakan ke Jerinx? Lanjutkan perjuangan.”
Artikel ini telah tayang di tribun-bali.com dengan judul Masa Kecil I Gede Ari Astina di Mata Ayah Dan Awal Mula Panggilan 'Jerinx' Saat Remaja,
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara