Breaking News:

Kualitas Sutradara Perempuan di Indonesia Masih Dipandang Sebelah Mata

Tidak hanya terhadap filmnya, ketidaksetaraan gender di perfilmann Indonesia masih dialami oleh para sutradara perempuan.

Editor: Willem Jonata
Tribunnews.com/ Fitri Wulandari
Sutradara Nia Dinata saat ditemui usai bersilaturahmi ke kediaman Cawapres nomor urut 01 Maruf Amin, di Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa sore (6/11/2018) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Film tidak hanya menjadi sumber hiburan bagi masyarakat. Namun kerap pula menjadi rujukan sebagai sumber informasi.

Sebab, film punya potensi besar untuk memengaruhi cara pikir setiap orang. Bahkan film dapat menjadi tren hingga panduan dalam berkehidupan sehari-hari.

Namun, bias gender, kekerasan bullying hingga objektifitas pada perempuan sering ditampilkan pada film.

Kurangnya budaya kritis di Indonesia memandang pandangan di atas sehingga terbentuk menjadi benteng yang kuat.

Tidak hanya terhadap filmnya, ketidaksetaraan gender di perfilmann Indonesia masih dialami oleh para sutradara perempuan.

Satu di antaranya dari sutradara perempuan terkenal di Indonesia yaitu Nia Dinata.

Baca juga: Nia Dinata Angkat Fenomena Kehidupan Remaja Papan Atas Jakarta di Serial Gossip Girl Indonesia

Diawali menjadi seorang jurnalis di media swasta, kemudian beralih ke dunia periklanan. 

Di sana, Nia menjadi seorang asisten sutradara dalam pembuatan iklan.

Selama di sana, Nia mengungkapkan jika dirinya kerap mendapatkan pelecehan seksual berupa cat calling. 

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved