Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Kurangi Sampah Makanan untuk Akhiri Kelaparan dan Tekan Krisis Iklim

Menurut data dari SIPSN, sampah makanan menyumbang hingga 41,1% persen dari 28,8 juta ton sampah di Indonesia. Itu masalah serius bagi lingkungan.

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Willem Jonata
Tribunnews.com/ Eko Sutriyanto
Bank DBS Indonesia dan Kebun Kumara Ajak Masyarakat Kelola Sampah Makanan lewat Program “Kompos Kolektif” sebagai bagian upaya menjaga eksisistem lingkungan. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sampah makanan tanpa disadari terus mengancam lingkungan hidup Indonesia.

Tercatat jumlah sampah makanan terus mengalami peningkatan dan berdampak pada angka kelaparan dan kerugian finansial negara dari tahun ke tahun.

Menurut data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sampah makanan menyumbang hingga 41,1 persen persen dari 28,8 juta ton sampah di Indonesia.

Meningkatnya jumlah sampah organik yang berasal dari sisa makanan kian meresahkan dan dapat menimbulkan masalah serius bagi ekosistem lingkungan.

Menurut penelitian Barilla Center for Food & Nutrition, nilai indeks kehilangan dan kemubaziran pangan Indonesia masuk kategori buruk.

Selain berkontribusi secara tak langsung terhadap pemborosan energi, sisa makanan yang menumpuk dan membusuk di tempat pembuangan akhir (TPA) menghasilkan gas metana – yang merupakan salah satu penyebab pemanasan global.

Setiap tahun orang Indonesia membuang sampah makanan 300 kilogram dan masuk dalam peringkat tiga besar negara terburuk bersama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Dilansir dari laman menlhk.go.id, gas metana pada kadar tinggi dapat mengurangi kadar oksigen pada atmosfer bumi hingga 19,5 persen.

Baca juga: Wapres Maruf Amin Minta Ulama Serukan Aksi Nyata Cegah Kerusakan Lingkungan

Bahkan, Hendro Utomo, pendiri Foodbank of Indonesia (FOI) mengungkapkan, membuat hilangnya kesempatan bagi 61-125 juta orang untuk mendapatkan akses pada pangan.

“Masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta termasuk pedagang tradisional harus berkolaborasi dan melakukan aksi nyata bersama untuk mengurangi kemubaziran pangan, sekaligus dapat mengakhiri kelaparan, dan menekan krisis iklim secara berkelanjutan," kata Hendro.

Merespons pada kondisi ini, Bank DBS Indonesia bersama dengan organisasi pegiat lingkungan seperti Bananas, Blibli, Bukalapak termasuk Foodbank of Indonesia (FOI), Kebun Kumara (KK), Surplus Indonesia, dan Waste4Change (W4C) turut mengukuhkan komitmen untuk bersama-sama meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengurangi limbah makanan di Indonesia melalui program More Sustainability Actions, Less Waste.

Program ini merupakan bagian dari gerakan #MakanTanpaSisa yang telah dijalankan oleh Bank DBS Indonesia sejak tahun 2020.

Mona Monika, Head of Group Marketing Strategic & Communications, PT Bank DBS Indonesia mengatakan, perlunya mengubah cara pandang terhadap konsumsi dan produksi untuk berbuat lebih banyak, dan lebih baik, dengan membuang lebih sedikit.

“Bekerja sama dengan mitra-mitra strategis memberikan kami harapan bahwa kami berada di jalur yang tepat untuk mengurangi dampak emisi karbon demi menuju Indonesia yang lebih berkelanjutan," kata Mona Monika.

Sejak diluncurkan tahun 2020, gerakan #MakanTanpaSisa oleh Bank DBS Indonesia telah menyumbang lebih dari 43 ton makanan dan pengelolaan limbah organik sebagai aksi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan lingkungan dan masyarakat.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved