Selasa, 28 April 2026

Film Angkara Murka Bukan Sekadar Teror, Tapi Membuka Mata tentang Kerakusan yang Mewariskan Luka

Film besutan sutradara Eden Junjung, ini memadukan ketegangan horor dan drama emosional yang mendalam.

Tayang:
Editor: Willem Jonata
IST
ANGKARA MURKA - Sutradara film Angkara Murka, yakni Eden Junjung foto bersama Ifa Isfansyah, Raihaanun Aksara Dena, Simhala Avadana. Film tersebut dijadwalkan tayang di bioskop mulai 22 Mei 2025. 

TRIBUNNEWS.COM - Film Angkara Murka tayang di bioskop Indonesia, mulai 22 Mei 2025. 

Besutan sutradara Eden Junjung, ini memadukan ketegangan horor dan drama emosional yang mendalam.

Jadi, film ini bukan sekadar menghadirkan teror, tapi juga membuka mata tentang bagaimana kerakusan dan kekuasaan bisa meninggalkan luka yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Baca juga: Sinopsis Film Angkara Murka, Kisah Istri yang Cari Suaminya di Sebuah Tambang, Tayang 22 Mei 2025

Angkara Murka produksi Forka Films, bercerita tentang Ambar (Raihaanun), seorang ibu muda yang terpaksa bekerja di tambang pasir demi mencari suaminya, Jarot (Aksara Dena), yang hilang secara misterius di lokasi tambang tersebut. 

Namun, di balik kerasnya dunia pertambangan, Ambar menghadapi teror yang lebih dalam — kekuasaan yang rakus, praktik tumbal, dan makhluk tak kasat mata yang menjaga tanah itu.

Bersama Lukman (Simhala Avadana), Ambar berusaha mengungkap rahasia yang dikubur di dalam tambang dan menghadapi kekuatan yang membungkam suara-suara lemah. 

Angkara Murka (judul internasional Mad of Madness), dijadwalkan mengikuti world premiere di Far East Film Festival (FEFF) 2025 di Udine, Italia, pada 30 April 2025, sekaligus berkompetisi di kategori White Mulberry Award for Best Debut Feature. 

"Saya tumbuh di kaki gunung yang katanya dihuni setan, tapi seiring waktu saya sadar, ketakutan itu sengaja ditanamkan untuk membungkam. Lereng yang dibilang angker, ternyata jadi ladang tambang ilegal. Itulah horor yang sebenarnya," ujar Eden Junjung.

Produser Ifa Isfansyah —yang sebelumnya sukses menggarap dan mengantarkan Gadis Kretek, Before Now and Then (Nana) dan Sang Penari— menyebut Angkara Murka sebagai sebagai langkah berani Forka Films ke ranah horor.

"Lewat film ini, kami menggabungkan teror, emosi, dan kritik sosial dalam satu pengalaman sinematik yang berbeda. Ceritanya dekat dengan realitas, tapi bicara dalam bahasa film yang bisa dinikmati siapa saja," terangnya. 

 

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved