Alasan di Balik Adaptasi Novel 'Tak Kenal Maka Taaruf' ke Layar Lebar
Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Mim Yudiarto, film ini secara tegas mengajarkan bahwa cinta bukan sekadar gejolak rasa.
Ringkasan Berita:
- Kolaborasi IPB Press (kampus) dan YATIMA Films di balik film "Tak Kenal Maka Taaruf"
- Tujuan kolaborasi ini adalah memperkuat literasi kreatif, buktikan karya literasi tembus media film
- Pesan film: cinta adalah keikhlasan, menjaga kesucian, penawar percintaan dangkal
TRIBUNNEWS.COM - Film “Tak Kenal Maka Taaruf” adaptasi novel karya penulis Mim Yudiarto, hadir sebagai tontonan menghibur sekaligus membawa pesan tentang keikhlasan dan kesucian cinta.
Bukan hanya menarik dari sisi cerita, film ini juga menjadi bukti bahwa karya literasi dan layar lebar bisa saling melengkapi lewat kolaborasi penerbit IPB Press dan YATIMA Films.
“Kami percaya buku dan film adalah dua medium yang saling melengkapi," ungkap Direktur IPB Press sekaligus Co-Producer, Erick Wahyudyono, dalam keterangan resmi, Jumat (17/10/2025).
Melalui film Tak Kenal Maka Taaruf, pihaknya ingin menunjukkan bahwa karya literasi bisa menembus batas media, menjadi inspirasi dan edukasi bagi masyarakat luas.
“IPB Press menghadirkan ruang refleksi dan inspirasi bagi penonton dari berbagai kalangan,” sambungnya.
Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Mim Yudiarto, film ini secara tegas mengajarkan bahwa cinta bukan sekadar gejolak rasa, melainkan sebuah perjalanan menjaga kesucian dan ketulusan.
Pesan ini menjadi ‘penawar’ dari maraknya hubungan percintaan anak muda yang cenderung dangkal.
"Film ini sekaligus menjadi ajakan untuk kembali memaknai nilai-nilai luhur dalam menjalin hubungan. Cinta sejati bukan tentang siapa yang paling cepat memulai, tetapi siapa yang paling tulus dalam menjaga kesucian dan maknanya," katanya.
Disutradarai oleh Toma Margens dan diproduseri oleh Dedy Suherman, film yang dibintangi oleh Fadi Alaydrus (sebagai Faris), Saskia Chadwick (Zoya), dan Dinda Mahira (Cleo) ini, diposisikan bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah renungan.
“Menjadi tugas bersama bagi insan perfilman untuk menampilkan konten hiburan yang mendidik sekaligus refleksi, bagaimana anak muda bisa memahami cinta dan pergaulan dengan cara yang bermartabat dan beradab,” tegas Dedy Suherman.
Penulis novel sekaligus produser, Mim Yudiarto, memiliki alasan kuat mengapa kisah ini harus diangkat ke layar lebar.
“Kami ingin menghadirkan kisah yang ringan namun mengena, yang bisa membuat penonton tersenyum sekaligus berkontemplasi,” tutup Mim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Tak-Kenal-Maka-Taaruf-1-17102025.jpg)