Film 'Siti Vampire' Mejeng di JAFF Market 2025, IP Indonesia Siap Menuju Global
Film Siti Vampire tampil di panggung utama JAFF Market 2025. JAFF di setiap penyelenggaraannya, selalu menjadi titik temu pelaku film Asia Tenggara.
Ringkasan Berita:
- Film Siti Vampire kolaborasi tiga rumah produksi di Tanah Air tuai perhatian di JAFF Market 2025
- JAFF selalu menjadi titik temu pelaku film Asia Tenggara
- Kehadiran Siti Vampire di JAFF Market 2025 sebagai langkah penting untuk mengenalkan proyek tersebut ke ekosistem industri yang lebih besar
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Film Siti Vampire mejeng dan langsung mencuri perhatian pada hari pertama JAFF Market 2025.
Tampil di panggung utama, momen perkenalan film hasil kolaborasi Bahagia Tanpa Drama, Viddsee, dan Mahaka Pictures itu menjadi salah satu sorotan terbesar di area pameran yang dipadati pengunjung JAFF Market.
Dalam acara yang berlangsung itu, jajaran kreator hadir lengkap, mulai dari CEO Viddsee Ho Jia Jian, Chief Content Officer Kenny Png, produser Siti Vampire sekaligus Plt. Ketua Umum BPI Celerina Judisari, penulis Titien Wattimena, hingga sutradara Rahabi Mandra.
Baca juga: Sosok IGN Krisna, Pelajar SMA yang Angkat Nilai Kepahlawanan dan Isu Budaya dalam Film Pendek
Mereka membahas proses kreatif di balik adaptasi film tersebut yang berawal dari short film Viddsee, hingga transformasinya menjadi proyek layar lebar dengan karakter Siti sebagai vampir lugu yang tengah mencari jati diri.
Celerina Judisari menyebut kehadiran Siti Vampire di JAFF Market 2025 sebagai langkah penting untuk mengenalkan proyek tersebut ke ekosistem industri yang lebih besar.
“JAFF selalu menjadi titik temu pelaku film Asia Tenggara," ucap Celerina Judisari kepada awak media, Minggu (30/11/2025)
"Dengan membawa Siti Vampire ke sini, kami ingin menunjukkan bahwa IP atau Intellectual Property (kekayaan intelektual) Indonesia punya ruang besar untuk tumbuh dan berkolaborasi lintas negara,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perluasan IP menjadi fokus penting agar karakter dan dunianya bisa hidup lebih panjang, tidak berhenti hanya di satu format film.
Antusiasme penonton memuncak ketika merchandise resmi Siti Vampire berupa kaus berilustrasi karakter utama diperkenalkan untuk pertama kalinya di panggung.
Momen itu disambut riuh audiens, sekaligus menjadi simbol bahwa Siti Vampire bukan hanya dikembangkan sebagai film, melainkan sebagai intellectual property yang memiliki potensi berkembang luas di ranah kreatif dan komersial.
Sepanjang sesi talkshow, para kreator juga membahas strategi kolaborasi internasional yang membuka peluang investasi dan distribusi lebih luas.
Kehadiran proyek ini menambah warna deretan IP lokal yang sedang naik daun di JAFF Market 2025, sekaligus memperkuat optimisme film Indonesia siap bersaing dan menggandeng mitra dari berbagai negara.
(Tribunnews.com/ Bayu Indra Permana)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Siti-Vampire-1-30112025.jpg)