Marcello Tahitoe Respons 'Broken Strings' Memoar Sang Mantan Aurelie Moeremans
Aurelie dalam memoarnya, secara terbuka mengisahkan pengalaman pahitnya menjadi korban child grooming saat masih remaja.
Ringkasan Berita:
- Marcello Tahitoe dan Aurelie Moeremans pernah pacaran
- Buku karya Aurelie jadi buah bibir karena berisikan memoar tentang pengalamannya sebagai korban child grooming
- Ello memenuhi permintaan awak media untuk menyampaikan respons soal buku tersebut
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyanyi Marcello Tahitoe alias Ello merespons buku "Broken Strings" karya mantan kekasihnya, Aurelie Moeremans.
Buku karya Aurelie jadi buah bibir karena berisikan memoar tentang pengalamannya sebagai korban child grooming.
Ello memenuhi permintaan awak media untuk menyampaikan respons soal buku tersebut.
"Oke, habis ini gua harus cabut ya. Tipis, tapi padat aja," ucap Ello di kawasan Senayan Jakarta Pusat, Sabtu (17/1/2026).
Baca juga: KPAI: Child Grooming Bukan Relasi Suka Sama Suka, Korban Tak Sadar dalam Bahaya
Ello memuji karya dari Aurelie. Ia mengucapkan selamat atas kelahiran dari karya yang sudah dikerjakan bertahun-tahun.
"Menanggapinya? Oke, saya cuma mau bilang selamat atas rilis karya literasinya. Luar biasa diterima apresiasinya," ungkap Ello.
Sambil berjalan dan berusaha menghindari awak media, Ello menyudahi jawaban soal buku tersebut.
"Sekarang saya mau pulang, ketemu sama istri dan anak saya. Terima kasih," kata Ello.
Aurelie dalam memoarnya, secara terbuka mengisahkan pengalaman pahitnya menjadi korban child grooming saat masih remaja.
Child grooming adalah proses manipulasi psikologis terhadap anak. Pelakunya membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional terhadap korban. Umumnya berujung pelecehan seksual.
Melalui unggahan di Instagram Story-nya pada Minggu (18/1/2026), istri dari Tyler Bigenho ini menegaskan bahwa keberaniannya menulis buku ini didasari oleh keinginan untuk mengedukasi masyarakat.
"Ini bukan tentang aku, ini tentang kesadaran (awareness)," tulis Aurelie.
Bagi Aurelie, Broken Strings adalah upayanya memberikan "kompas" bagi anak muda dan orang tua.
Ia ingin para remaja mampu mengenali ciri-ciri manipulasi sejak dini agar tidak terjebak dalam situasi yang merusak masa depan mereka.
"Supaya anak muda tahu ciri-ciri child grooming dan bisa mengenalinya sejak awal. Supaya mereka bisa menghindar sebelum terlambat," ungkap wanita berusia 32 tahun tersebut.
Ia menyadari bahwa kasus yang dialaminya hanyalah puncak gunung es dari fenomena yang sering kali diabaikan oleh lingkungan sekitar.
Seringkali, korban justru tidak dipercaya atau bahkan disalahpahami oleh masyarakat.
"Kisahku hanya satu dari jutaan kasus serupa yang sering tidak terlihat, tidak dipercaya, dan disalahpahami," tulisnya lagi.
Ketulusan Aurelie dalam berbagi luka masa lalu membuahkan simpati luas dari warganet. Banyak kutipan dari bukunya yang diunggah ulang sebagai bentuk dukungan sekaligus peringatan bagi publik.
Merespons apresiasi tersebut, Aurelie merasa terharu karena pesannya sampai ke hati pembaca.
"Ini hal yang sangat besar bagi saya. Bukan karena bukunya viral, tapi karena harapan agar tidak ada lagi anak muda yang harus diam, bingung, dan terluka sendirian," tambahnya.
Bagi bintang film "Baby Blues" ini, keberhasilannya bukan diukur dari angka penjualan buku, melainkan dari dampak nyata bagi perlindungan anak-anak di Indonesia.
"Kalau dengan bersuara aku bisa mencegah satu anak saja harus melewati apa yang aku lalui, maka itu sudah lebih dari cukup," pungkasnya.
(Tribunnews.com/ Bayu Indra Permana)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Marcello-Tahitoe-nama-anak.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.