Rabu, 10 Juni 2026

Jeremy Lin Dapat Dukungan dari Semua Elemen NBA

Jeremy Lin, Jeremy Lin, Jeremy Lin. Twitter saya dipenuhi komentar tentang bintang mendadak New York Knicks itu.

Tayang:
Editor: Toni Bramantoro

TRIBUNNEWS.COM, NEW YORK - Jeremy Lin, Jeremy Lin, Jeremy Lin. Twitter saya dipenuhi komentar tentang bintang mendadak New York Knicks itu. Ada yang sekadar berkomentar, ada yang menyanjung tinggi, bahkan, ada yang mengatakan 'Saya tidak terlalu antusias pada kebintangan Lin'.

Benarkah saya tidak antusias pada performa ciamik pria keturunan Taiwan itu, seperti yang ditulis seorang follower saya? Salah besar. Justru, saya sangat antusias. Sejujurnya, saya punya cita-cita (dan saya masih ingin) bisa kuliah di universitas Harvard.

Saya ingin merasakan suasana persaingan olah raga di Ivy League, yang dihuni universitas papan atas kawasan North Eastern. Ada universitas top seperti Princeton, Univ. Pennsylvania (UPenn), Yale, hingga Harvard. Saking ngidamnya ke Ivy League, ketiga bertugas ke Philadelphia, saya menyempatkan seharian duduk-duduk di perpustakaan U.Penn. Oh iya, ketua PP Perbasi, Anggito Abimanyu Ph.D, adalah alumni Wharton Business School, UPenn. Betapa beruntungnya pak Anggito!

Top of Mind (TOM) saya pada Harvard dan Ivy League memang sangat kuat. Kisah cinta mahasiswa kedokteran Harvard yang ditulis novelis Erich Segal, semuanya saya baca. Koleksi novel Segal pun komplet. Saya tak punya koleksi novel lain selain buku-buku Segal. Jadi, ketika mendengar ada lulusan Harvard menjadi bintang di NBA, itu jelas berita besar.

Lin tidak sekadar numpang lewat di Harvard. Ia lulus dengan Indeks Prestasi (IP) Kumulatif 3,1 di bidang Ekonomi. Empat tahun membela Harvard Crimson, ia punya statistik fantastik. Ia satu-satunya pemain Crimson yang menempati 10 besar statistik di Ivy League.

Lima presiden AS berasal dari Harvard. Berapakah pemain NBA murni dari universitas Harvard? Hanya 2 orang, yakni Jeremy Lin dan Ed Smith. Ada satu pemain Crimson yang di NBA yakni Saul Mariaschin. Namun, Mariaschin bermain dulu untuk Syracuse (1943), sebelum ditransfer ke Harvard usai menjalankan tugas di Perang Dunia II.

Smith adalah pebasket terakhir Harvard di NBA pada musim 1953/54. Ia hanya bermain 11 pertandingan dengan rataan 2,5 poin per gim. Rekor Smith adalah mencetak 28 angka. Setelah puluhan tahun, baru Lin memutuskan menjadi pebasket profesional dan mengikuti Draft 2010. Sayangnya, Lin dilewatkan begitu saja pada NBA Draft 2010. Ia akhirnya dikontrak Golden State Warriors dan bermain 29 gim dengan rataan 2,6 poin.

Tahukah Anda siapakah pebasket Ivy League terakhir bermain di NBA? Dialah Chris Dudley. Jebolan universitas Yale ini terakhir tampil di musim 2002/3. Dudley kini menjadi politikus partai Republik dan pernah menjadi nominee gubernur Oregon.

Ditolak UCLA

Perjuangan Jeremy Shu-How Lin, nama lengkapnya, mendapatkan beasiswa sungguh berat. Namun, ia beruntung memiliki orangtua yang sangat peduli pada pendidikan dan olah raga. Ayahnya, Gie-Ming adalah imigran pada 1970an. Ia mendapatkan gelar computer engineering dari Purdue. Ibunya, Shirley, bergelar ilmu komputer juga dari Purdue.

Shirley sangat menyukai bola basket sekaligus pengidola Julius 'Dr J' Irving. Ia ingin ketiga anak laki-lakinya sehebat bermain basket seperti Dr. J. Maka, tiga kali seminggu, Gie-Ming mengantarkan Joshua, Jeremy, dan Joseph ke latihan basket YMCA. "Saya ingin melihat ketiganya memiliki kehebatan seperti Dr. J. yang saya lihat di televisi," kata Shirley.

Lulus dari SMA Palo Alto dengan nilai memuaskan (GPA 4,2 dari skala 5) dan nilai sempurna Matematika (SAT II Math 2C), Jeremy mengirimkan CV ke UCLA, universitas favoritnya. Selain ke UCLA, Jeremy mengirimkan lamaran beasiswa ke Kansas, Kentucky, Stanford, dan California, serta ke delapan kampus di Ivy League.

"Saya ingin kuliah di UCLA atau Stanford. Itu universitas favorit saya," kata pria kelahiran Los Angeles, 23 Agustus 1988 ini. Sayangnya, UCLA menolak lamaran Lin. Hanya Harvard dan Brown yang memberikan garansi posisi di tim basket mereka, namun Ivy League tidak memberikan beasiswa kepada atlet. Jeremy akhirnya memutuskan ke Harvard.

"Ia sangat pantas masuk UCLA. Ia bahkan sangat pantas menjadi starter UCLA," kata pelatih Santa Clara, Kerry Keating, seperti dikutip San Francisco Chronicle. Keating adalah mantan asisten pelatih di UCLA.

Sesungguhnya, Harvard pun ragu pada potensi Jeremy. Asisten Harvard Crimson, Bill Holden, mengontak pelatih SMA Palo Alto, Peter Diepenbrock dan mengatakan mereka tidak berminat pada Lin. "Namun tiga pekan kemudian, Holden menelepon dan mengatakan mereka sangat berminat pada Jeremy," kata Diepenbrock.

Berat memang bagi pebasket Amerika keturunan Asia bermain di NCAA Divisi 1. Dari data NCAA Race and Ethnicity Report (2009) hanya ada 18 mahasiswa AS keturunan Asia bermain di Divisi 1 NCAA (0,4%). Di Harvard sendiri, ada 23 mahasiswa memiliki nama belakang 'Lin', namun hanya 1 yang memilih masuk tim bola basket.

Setahun bermain membela Crimson, Harvard kedatangan pelatih baru Harold Tommy Amaker. Pelatih kelahiran 6 Juni 1965 itu adalah point guard universitas Duke, sekaligus asisten pelatih Mike Krzyzewski. Amaker adalah peraih gelar Defensive Player of the Year saat membela Duke (1987). Kemampuan defense dan agresivitasnya diturunkan kepada Lin.

"Kemampuan Lin menyerap segala kemampuan sungguh luar biasa. Saya serasa dikelilingi mahasiswa hebat," ungkap Amaker.

Di tangan Amaker, Lin menjadi menjadi point guard sangat tajam. Konsep permainan Amaker di Harvard adalah menyerang cepat (go go offense) dan bertahan sangat disiplin di half court. Konsep itu membuat Lin menjadi penetrator mematikan sekaligus pengumpan yang tajam.

Dalam catatan statistik semasa di Harvard, Lin mencetak 63% FG jika ia melakukan drive seperti katapel ke paint area lawan. Ia hanya memiliki statistik FG 19,7% di posisi open floor. Artinya, Lin akan mengumpan bola ke kawan jika mereka lebih terbuka! Sebuah karakter penting seorang point guard: unselfish!

Nebeng Tidur dan Bintang

Memberi lima kemenangan berturutan bagi Knicks jelas bukan perkara mudah. Di tengah tekanan terhadap pelatih Mike D'Antoni, Lin memberikan jawaban tepat dan akurat. "Ia adalah pilihan yang tepat. Lin memang istimewa," kata D'Antoni.

Tak ada yang menganggap skill Lin sebelumnya, termasuk Golden State Warriors maupun Houston. Namun, pencoretan Lin dari Rockets untuk Samuel Dalembert, belakangan menguak sebab diwarnai perdebatan sengit di kalangan ofisial tim Rockets. "Seharusnya kami tak melepasnya," kata Darryl More, GM Rockets.

Ketika diambil Knicks dari bursa free agent, Lin tak pernah bersiap lama untuk tinggal di New York. Ia nebeng di kamar kakaknya, Josh, yang tengah studi kedokteran gigi di New York. Ia tidur di aparteman Josh yang hanya memiliki 1 kamar. Sesekali, Lin nginap di apartemen Landry Fields, guard Knicks.

Saat Joseph bertanding basket, ia pun datang dan memberi dukungan. Tentu saja 700an orang yang ada di sana sangat mengenal Lin yang berpenampilan sederhana ini.

"Saya akan melakukan apa saja agar bisa di Madison Square Garden," kata Lin, tentang tim favoritnya itu. Ia mencetak total 134 angka, dan dengan rataan 27,3 poin per gim 8,3 assit, Lin dinobatkan sebagai Player of the Week wilayah Timur. Di Barat, player of the week dimiliki oleh Russell Westbrook.

Ketenaran Lin membuat follower twitter naik dari 70 ribu menjadi 199.314 hanya dalam 3 hari. Online store Knicks mengalami kenaikan traffic sampai 3.000 persen. Presiden Taiwan, Ma Ying-jeou sampai memberikan contoh perjuangan Jeremy Lin dalam sebuah rapat kabinet di Taiwan, pekan lalu.

"Lin, carilah tempat tinggal yang privat dan aman. Kami mengkhawatirkanmu jika harus hidup nomaden," demikian bunyi twit seorang fan kepada Lin.

Dukungan untuk terus meraih prestasi tinggi diberikan oleh pelatih Heat, Erick Spoelstra yang juga keturunan Asia. "Saya sangat bangga pada usaha dan kerja keras. Ia membanggakan kita," kata Spoelstra. Pemain Heat, LeBron James pun memuji Lin. "Ia adalah fenomena," kata LeBron.

Apakah akan membela negara selain AS jika mendapatkan panggilan? Lin tegas mengatakan ia tidak tertarik. "Saya akan membela AS sebab saya adalah warganegara AS," ungkap Lin. Meskipun terkenal, namun petugas keamanan di Madison Square Garden, selalu melakukan cross cek sebab Lin dianggap sebagai trainer alias karyawan baru!

Meskipun berdarah Taiwan, Lin mengaku tidak cakap berbahasa Mandarin. Ada usulan menarik dari Metta World Peace (Ron Artest). "Lin, gantilah potongan rambutmu biar lebih keren. Dirimu seorang selebritis sekarang,"ungkap Artest. Artest perlu memberikan komentar sebab sang anak ternyata mengidolakan Jeremy Lin.

Legenda hidup NBA, Jerry West, juga memuji kehebatan Lin. "Ya Tuhan, dia bagus sekali. Ini mirip cerita cinderela," kata West.

Pendukung abadi Knicks, Spike Lee, sampai mengirimkan sms ke pelatih Golden State Warriors, Mark Jackson, karena mencoret Lin dari roster. "Lee berterima kasih karena saya memberikan Lin ke New York Knicks," kata Jackson. Jackson adalah legenda Knicks semasa menjadi pemain.

Sumber: Bolanews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved