Breaking News:

Wiranto Langsung Bentuk Tim Formatur Susun Kepengurusan PP PBSI 2016-2020

Ketua Umum PB PBSI 2016-2020, Wiranto, Senin (31/10) malam sudah mengumumkan tim formatur untuk penyusunan kepengurusan periode empat tahun mendatang

ist
Wiranto beri keterangan pers usai terpilih Jadi Ketum PP PBSI 2016-2020 

TRIBUNNEWS, COM. JAKARTA -‎ Ketua Umum PP PBSI 2016-2020, Wiranto, Senin (31/10) malam sudah mengumumkan tim formatur untuk penyusunan kepengurusan periode empat tahun mendatang itu. Wiranto, Menko Polhukam, sebagai ketum otomatis menjadi ketum tim formatur.

Ia dibantu oleh empat orang anggota tim formatur, yakni ketua-ketua Pengprov. Mereka, Edward Lolong (Gorontalo), Wijanarko (Jatim), Lutfi Hamid (Jabar), dan Alex Tirta (DKI Jaya).

Naiknya Wiranto sebagai Ketum PB PBSI 2016-2020 sudah diduga sebelumnya. Seperti diketahui, Wiranto ditetapkan secara aklamasi oleh 34 Pengprov PBSI pada Musyawarah Nasional (Munas) yang berakhir Senin malam di Hotel Graha Bumi Surabaya.

Penetapan Wiranto sebagai pengendali baru organisasi bulutangkis nasional ini diawali dengan pengunduran diri Gita Wirjawan, petahana ketum PB PBSI periode 2012-2016.

Pukul 19.18, Senin malam, Gita Wiryawan mengemukakan pengunduran dirinya. "Ini untuk kebersamaan kita semua, tidak ada kubu-kubuan," demikian antara lain diutarakan oleh pengusaha pemilik Grup Ancora itu.

Dihadapan peserta Munas Gita kemudian menyalami Wiranto, disambut aplaus meriah dari stakeholder bulutangkis daerah.

"Ini elok untuk organisasi, patut ditiru oleh yang lain," ujar Wiranto, yang sebelumnya pernah memimpin organisasi bridge (Gabbsi) dan karate (Forki). Hingga usai pembukaan Munas oleh Gatot Dewo Broto, Deputi IV Kantor Menpora, Senin pagi, Gita Wiryawan disebut-sebut masih bertekad maju terus.

Ia mengklaim didukung oleh minimal 17 Pengprov. Sementara, Wiranto dikehendaki oleh 18 Pengprov. Menariknya, empat tahun lalu di Munas Yogyakarta Gita dipilih secara aklamasi sebagai Ketum PB PBSI 2012-2016 setelah ia memaksakan Icuk Sugiarto mengundurkan diri dari pencalonan.

Kali ini Gita yang dipaksa mundur. Tugas berat sudah menanti Wiranto. Ia dituntut untuk mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia yang belakangan ini makin surut pamornya‎.

Peraihan satu medali emas dari Olimpiade Rio De Janeiro, 17 Agustus lalu, hanya sedikit membantu, karena secara umum pencapaian prestasi pemain Indonesia menurun.

Wiranto juga ditantang untuk lebih mendekatkan diri pada komunitas pers, yang tampaknya tak terlalu diperlukan oleh Gita. tb

Penulis: Toni Bramantoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved