Polemik Audisi Djarum

Kronologi Penghentian Audisi PB Djarum: KPAI Disebut Tolak Dua Opsi Usulan

menurut penuturan Yoppy, KPAI menolak usulan tersebut. Mereka meminta pelaksanaan audisi umum steril dari brand Djarum.

Kronologi Penghentian Audisi PB Djarum: KPAI Disebut Tolak Dua Opsi Usulan
DOK. PB DJARUM
Anggota tim pencari bakat PB Djarum, Lius Pongoh, memberikan keterangan tata tertib Sebanyak 904 Atlet Muda Tanding di Purwokerto, 206 Lolos Tahap Screening kepada ratusan peserta Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis di GOR Satria, Purwokerto, Jawa Tengah, Minggu (8/9/2019) pagi. 

TRIBUNNEWS.COM - Audisi PB Djarum tak bakal lagi ada tahun depan. Hal ini ditegaskan manajemen Djarum Foundation pada saat jumpa pers Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis di Purwokerto, Sabtu (7/9/2019).

Kabar tersebut juga dikonfirmasi oleh Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, Sabtu (7/9/2019).

Audisi Umum PB Djarum ditiadakan pada 2020 terkait dengan klaim Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI) bahwa ajang tersebut memanfaatkan anak-anak untuk mempromosikan merek Djarum yang identik dengan produk rokok.

Baca: Tegaskan Tak Ada Eksploitasi Anak, Menpora: Audisi Djarum Tidak Boleh Berhenti

Polemik soal Audisi PB Djarum ini bermula dari tudingan KPAI saat penyelenggaraan seri pertama Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis di Bandung, akhir Juli lalu.

Berikut adalah kronologi penghentian Audisi PB Djarum:

KPAI sebut Audisi PB Djarum eksploitasi anak

Saat seri pertama di di Bandung, 28-30 Juli, Komisioner KPAI bidang Kesehatan dan NAPZA, Sitty Hikmawatty, menyatakan bahwa kegiatan audisi beasiswa bulu tangkis Djarum Foundation termasuk dalam bentuk eksploitasi anak secara terselubung.

Sitty Hikmawaty menyatakan, kegiatan yang melibatkan anak-anak dan disponsori oleh industri rokok merupakan termasuk bentuk eksploitasi anak secara terselubung.

KPAI memang pernah memanggil pihak Djarum Foundation terkait hal tersebut.

Namun, menurutnya, pengertian eksploitasi harus merujuk pada payung hukum yang ada di Indonesia.

Halaman
1234
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved