Breaking News:

Herry IP Sempat Belajar Dari Pelatih China, Begini Ceritanya

Herry Iman Pierngadi bercerita pada awalnya dirinya tak pernah bercita-cita ingin menjadi pelatih bulutangkis.

Tribunnews/Abdul Majid
Pelatih ganda putra Indonesia, Herry Iman Pierngadi saat ngobrol santai bersama awak media melalui zoom meeting, Rabu (3/3/2021). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelatih bulutangkis ganda putra Indonesia, Herry Iman Pierngadi bercerita pada awalnya dirinya tak pernah bercita-cita ingin menjadi pelatih bulutangkis.

Peluang itu baru datang pada tahun 1989, saat rekannya menawarkan menjadi pelatih di PB Tangkas.

Tak disangka, berkat kepiawaiannya melatih pebulutangkis junior di PB Tangkas selama empat tahun. Herry IP pun mulai dilirik PBSI.

“Tahun 1992 ada kejuaraan dunia junior, saya ditunjuk jadi pelatih junior Pelatnas PBSI. Puji syukur saya bisa antarkan all Indonesian final di Istora Senayan 1992,” kata Herry IP dalam bincang-bincang kepada awak media melalui zoom, Rabu (3/3/2021).

Herry IP juga bercerita saat melatih di PB Tangkas dirinya banyak mencari Ilmu kepelatihan melalui buku lantaran saat itu pelatihan bulutangkis masih jarang diadakan.

Bahkan saat PB Tangkas mendatangkan pelatih dari China, Herry IP langsung memanfaatkan kehadiran pelatih tersebut dengan mencontek caranya melatih.

“Waktu itu kebetulan PB Tangkas punya diisi ganda dan tunggal. Nah, PB Tangkas itu rekrut pelatih China, dia basicnya tunggal tapi saya belajar secara tak langsung dari dia,” cerita Herry IP.

Begitu sudah dipanggil PBSI untuk menjadi pelatih ganda putra junior baru lah Herry IP mendapatkan materi latihan.

Semua materi pelatihan pun bisa diserapnya dengan baik hingga akhirnya kini jadi pelatih yang sanggup menelurkan ganda putra peringkat pertama dunia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon.

“Nah, setelah masuk pelatnas diwajibkan ikut pelatihan, seminar, diklat. Seperti itu. secara pendidikan, saya ikut semua yang diberikan PBSI, saya lulus semua dapat sertifikat,” kata Herry IP.

“Saya juga pernah D3 pada 1992 kuliah D3 di IKIP, tapi tak sampai lulus,” pungkasnya.

Penulis: Abdul Majid
Editor: Toni Bramantoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved