Breaking News:

Dokter Gizi PP PBSI Ungkap Asupan Gizi Atlet Pelatnas Selama di Bulan Ramadhan

asupan gizi yang diberikan ternyata harus seimbang, tidak boleh kurang atau berlebihan

Dok: Humas PBSI
Dokter Gizi PP PBSI, dr. Vetinly dan dr. Paulina Toding. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Asupan gizi jadi salah satu hal yang paling penting guna menunjang performa atlet saat berlatih dan bertanding.

Atlet badminton yang menjalani rutinitas berat juga harus terpenuhi gizinya.

Akan tetapi, asupan gizi yang diberikan ternyata harus seimbang, tidak boleh kurang atau berlebihan yang justru akan membuat performa atlet menjadi tak baik.

Baca juga: Puasa Sehat di Tengah Pandemi Covid-19, Perhatikan Gizi, Lakukan Aktivitas Fisik, Tetap Jaga Jarak

Hal itu dijelaskan langsung oleh dokter PP PBSI, dokter Vetinly dan dokter Paulina Toding dalam bincang-bincang bersama media melalui zoom, Rabu (21/4/2021.

“Sebenarnya kalau untuk atlet itu kebutuhan kalorinya besar ya, karena kan aktivitas fisik besar, sumber energi utama tentunya dari karbohidrat tapi untuk bulutangkis jenis permainan ya, yang harus kami atur karbohidratnya seperti apa, akan berbeda asupan karbohidrat setelah latihan atau mau latihan,” jelas dokter Paulina Toding.

Sementara itu, dokter Paulina Toding juga menjelaskan bagaimana cara mengatur atlet Pelatnas yang menjalani ibadah puasa, sedangkan mereka tetap harus berlatih.

Menurut dokter Paulina, kunci untuk menjaga tubuh tetap prima selama menjalani ibadah puasa yakni ketika sahur.

Atlet yang menjalani ibadah puasa diharuskan mengkonsumsi karbohidrat, protein dan cairan yang cukup agar tak gampang dehidrasi.

“Ya terutama asupan pada saat sahur itu harus diperhatikan. Ketika sahur karbohidrat, protein harus ada ditambahkan dengan jus buah, protein harus cukup, terutama cairan itu juga penting jangan sampai minumnya dikit, nanti malah dehidrasi sepanjang mereka latihan,” jelasnya.

Lebih lanjut, dokter Paulina menjelaskan kebutuhan atlet sangat berbeda antara bulan Ramadhan dengan di luar bulan Ramadhan, yang berbeda di sini jadwal makannya.

Kalau di luar bulan Ramadhan bisa 6 kali makan, sementara bulan Ramadhan kesempatan makan itu ada di sahur dan ketika berbuka. Itu bisa 3-4 kali.

“Harapannya sih mereka puasanya lancar latihannya juga lancar. Jadi pada sahur itu ya harus dipenuhi karbohidrat komplek, protein, karena itu memberikan energi dan menyediakan energi sepanjang hari terus juga cairan dan jumlahnya cukup 40 sampai 50 persen itu mencukupi kebutuhan harian. Itu bisa diperoleh dari ketika sahur, sisanya baru ketika berbuka dan makan malam,” pungkasnya.

Penulis: Abdul Majid
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved