Breaking News:

Desain Besar Olahraga Nasional: Cabang Olahraga yang Tampil di Ajang Multievent Bakal Lebih Selektif

Indonesia kini punya Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang dirancang oleh Menpora Zainudin Amali bersama para pakar keolahragaan

Penulis: Abdul Majid
Editor: Toni Bramantoro
Dok. tangkapan layar
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali saat menjelaskan soal Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) dalam Webinar sosialisasi DDBON yang diadakan Kemenpora dengan PWI Pusat, Rabu (1/9/2021). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indonesia kini punya Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang dirancang oleh Menpora Zainudin Amali bersama para pakar keolahragaan, akademisi, praktisi dan lainnya.

DBON dipersiapkan setelah sebelumnya mendapatkan arahan Presiden Joko Widodo untuk mereviu total sistem pembinaan olahraga di Indonesia.

Menpora Zainudin Amali menjelaskan DBON yang kini tinggal menunggu payung hukum berupa Perpres itu bertujuan untuk meningkatkan prestasi olahraga Indonesia di masa yang akan datang.

Tentunya dengan pola pembinaan yang struktur dan benar-benar berjalan dengan baik. Minimal hasil dari DBON ini bisa terasa 10 tahun mendatang atau pada olimpiade 2032.

Saat DBON diterapkan target utama prestasi olahraga Indonesia bukan lagi SEA Games atau Asian Games, melainkan Olimpiade.

“Dengan kita menetapkan target yang tinggi seperti itu akan selektif. Mulai kedepan kita hanya mengirim cabor yang berprestasi dan setelah kita hitung-hitung melalui statistik dan perbandingan dengan negara lain, baru kita akan kirim,” kata Menpora dalam acara pelantikan Pengurus PB PRSI periode 2021-2025, Kamis (2/9/2021).

“Saya sampaikan ke Pak Chandra, jangan lagi kita berpedoman mengirim atlet sebanyak-banyaknya, bangga dengan defile atlet kita yang panjang dan bukan melihat prestasi sebagai ukuran,” lanjut Menpora.

“Dari PRSI saya kira bisa mempersiapkan itu, karena ada ukuran-ukurannya. Kita sangat selektif betul karena tim reviu bukan dari kita saja yang menentukan layak atau tidaknya. Waktu dulu ada yang datang ke kita bilang bisa tiga emas tapi setelah direviu saya kasih ke Pak Chandra, dia bilang satu perunggu saja syukur,” jelasnya.

Dengan mengirim atlet-atlet yang sudah mumpuni dan sanggup mendulang prestasi menurut Menpora hal itu juga bisa jadi efisiensi anggaran sehingga sisa anggarannya bisa difokuskan untuk pembinaan.

Halaman
123
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved