Thomas dan Uber Cup
Gambaran Poin BWF Thomas & Uber Cup 2026: Jaminan Untung Tumbangkan Pemain Elite
Di balik perjuangan berburu trofi Thomas & Uber Cup 2026, utusan Indonesia berpeluang membawa pulang tambhana poin untuk ranking BWF.
Ringkasan Berita:
- Gambaran poin BWF Thomas & Uber Cup 2026 berdasarkan kombinasi poin dasar tim dan bonus kemenangan individu
- Kemenangan atas pemain peringkat sepuluh besar dunia di babak final dapat memberikan suntikan poin
- Thomas & Uber 2026 menjadi momentum bagi pemain junior untuk mendongkrak posisi ranking BWF
TRIBUNNEWS.COM - Kejuaraan beregu paling bergengsi di dunia, Thomas dan Uber Cup 2026 segera bergulir di Horsens, Denmark, mulai 24 April hingga 3 Mei mendatang.
Bagi skuad Indonesia, ajang ini bukan sekadar panggung untuk mengembalikan marwah dalam perburuan gelar, melainkan juga kesempatan emas untuk mendongkrak peringkat dunia.
Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menurunkan kombinasi skuad yang mengandalkan pemain junior dan senior.
Nama-nama senior seperti Jonatan Christie dan Fajar Alfian tetap menjadi pilar utama. Namun, ada juga barisan pemain muda seperti Alwi Farhan dan Moh. Zaki Ubaidillah di tim Thomas.
Serta Ester Nurumi Tri Wardoyo, Ni Kadek Dhinda, hingga Thalita Wiryawan di tim Uber.
Keikutsertaan mereka di turnamen elite ini merupakan investasi besar untuk mendongkrak peringkat dunia mereka.
Gambaran Poin BWF Thomas & Uber Cup 2026
Berbeda dengan turnamen perorangan seperti Indonesia Open, di mana poin ditentukan oleh babak terjauh yang dicapai. Poin di Thomas dan Uber dihitung berdasarkan performa individu di setiap laga.
Berdasarkan regulasi BWF Statutes Section 5.3.3.1, seorang pemain akan mendapatkan poin berdasarkan dua komponen yakni Poin Dasar dan Poin Kemenangan.
- Poin Dasar (Poin Partisipasi)
Setiap pemain yang diturunkan ke lapangan otomatis akan mengantongi poin dasar. Besaran poin ini ditentukan oleh pencapaian kolektif tim.
Jika tim Indonesia berhasil melaju hingga babak final, setiap pemain yang pernah bertanding akan mengamankan poin dasar minimal 2.500 poin.
Jika langkah tim terhenti di Semifinal, poin dasarnya adalah 1.500 poin, sedangkan mencapai babak perempat final memberikan 1.000 poin.
Baca juga: Kilas Balik Tim Badminton Indonesia Kawinkan Trofi Thomas-Uber Cup Edisi 1994 dan 1996
- Poin Kemenangan (Bonus Performa)
Keuntungan terbesar dari turnamen ini jika pemain berhasil memenangkan pertandingannya. Poin yang didapat bukan lagi poin dasar.
Hasil dari raihan poin dasar ditambah 10 persen dari rata-rata poin peringkat dunia lawan. Inilah yang disebut sebagai sebagai poin kemenangan.
Simulasi Perhitungan
Misalkan, Zaki Ubaidillah, diturunkan di babak perempat final melawan pemain tunggal dari negara unggulan yang menduduki peringkat 5 dunia, dengan koleksi sekitar 90.000 poin.
Simulasi perhitungannya jika menang adalah Poin Dasar Perempat Final sebesar 1.000 poin, dijumlah Bonus Kemenangan (10 persen dari 90.000) yakni 9.000 poin. Maka, total perolehannya 10.000 poin.
Sebagai perbandingan, raihan 10.000 poin dalam satu pertandingan ini setara dengan poin yang didapatkan seorang pemain jika ia menembus babak final turnamen level Super 500.
Jika tren kemenangan ini berlanjut hingga babak final dan ia mampu menumbangkan lawan di jajaran Top 10 dunia, seorang pemain bisa mengantongi hingga 12.000 poin.
Sebuah angka yang setara dengan gelar juara di turnamen level Super 1000 seperti All England.
Keuntungan ini berbekas untuk Ester, Alwi, Ubed, hingga Dhinda untuk mendongkrak ranking dunia yang menguntungkan saat mengikuti turnamen individu mendatang.
Namun, syarat mutlaknya adalah konsistensi. BWF hanya akan mengambil satu hasil terbaik (poin tertinggi) dari seluruh rangkaian pertandingan yang dimenangkan pemain selama turnamen berlangsung untuk dimasukkan ke dalam perhitungan peringkat dunia mereka.
Artinya, satu kemenangan besar atas pemain bintang dunia sudah cukup untuk memberikan lompatan peringkat yang signifikan.
(Tribunnews.com/Niken)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.