Rabu, 29 April 2026

Thomas dan Uber Cup

Rekor Seo Seung-jae Tercoreng di Thomas Cup 2026, Korea Terseok-seok ke Perempat Final

Seo Seung-jae harus menelan pil pahit usai rekor kemenangan beruntunnya tercoreng di Forum Horsens, Denmark, dalam Thomas Cup 2026.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Rekor kemenangan beruntun Seo Seung-jae sejak edisi 2021 resmi terhenti
  • Kegagalan strategi memecah pasangan utama membuat Korea Selatan terseok-seok di Thomas Cup 2026
  • Kekalahan ini menjadi catatan minor kedua bagi Seo selama empat kali membela tim Thomas Korea Selatan

TRIBUNNEWS.COM - Kejutan pahit harus ditelan oleh tim Thomas Korea Selatan pada laga krusial penyisihan grup melawan Taiwan, Senin (27/4/2026).

Di tengah upaya mengamankan tiket fase gugur, statistik mentereng Seo Seung-jae tercoreng.

Catatan ini bukan hanya soal mencoreng prestasi sang pemain, tetapi juga menempatkan Negeri Ginseng dalam situasi misi mustahil di Forum Horsens, Denmark.

Seo Seung-jae yang diturunkan sebagai ganda putra pertama (MD1) dipasangkan dengan Jin Yong.

Keduanya memikul beban berat untuk menyamakan kedudukan di partai kedua melawan wakil Taiwan, Chiu Hsiang Chieh/Wang Chi-Lin.

Namun, alih-alih menjadi jaminan poin, duet Jin/Seo justru harus mengakui keunggulan lawan dalam laga dramatis yang berlangsung selama 54 menit.

Runtuhnya Rekor Seo Seung-jae

Thomas-Uber Cup 2026 merupakan edisi keempat bagi Seo Seung-jae dipercaya memperkuat skuad utama Korea Selatan.

Sejak debutnya pada edisi 2018 di Bangkok, Thailand, Seo selalu menjadi pemain kunci yang memberikan rasa aman bagi pelatih.

Pada masa jayanya bersama Choi Sol-gyu, Seo hampir selalu berhasil menyumbang poin di partai-partai krusial.

Satu-satunya catatan minor yang pernah ia rasakan terjadi pada edisi 2021 yang digelar di Aarhus, saat ia yang berpasangan dengan Jin Yong ditekuk oleh ganda Denmark, Kim Astrup/Anders Rasmussen.

Baca juga: Drama Thomas Cup 2026: Shi Yu Qi Mundur, Kanada Sempat Diberi Angin Segar sebelum Dihajar

Setelah momen itu, Seo seolah tak tersentuh. Terutama pada edisi 2022 dan 2024, di mana ia naik daun bersama Kang Min-hyuk.

Pasangan Kang/Seo menjelma menjadi raksasa yang stabil, menyapu bersih kemenangan dari babak grup hingga perempat final tanpa sekalipun menelan kekalahan.

Rentetan kemenangan beruntun yang ia bangun sejak babak perempat final edisi 2021, seluruh laga di edisi 2022 dan 2024, hingga partai pembuka di tahun 2026 ini, akhirnya runtuh.

Statistik apik yang ia rawat selama hampir lima tahun itu kini harus bernoda kembali bersama tandem yang sama saat ia kalah di Denmark beberapa tahun lalu, yakni Jin Yong.

Eksperimen Juru Taktik yang Berujung Bumerang

Kekalahan ini juga mengundang sorotan tajam terhadap strategi tim pelatih Korea Selatan.

Menyadari adanya kesenjangan kualitas yang mencolok antara pemain utama dan pelapis, juru taktik Korea mencoba peruntungan dengan memecah pasangan tetap mereka.

Strategi ini bertujuan untuk mencari wajah baru yang bisa mencuri poin di sektor ganda, mengingat sektor tunggal mereka kerap menjadi titik lemah.

Alih-alih menurunkan duet juara dunia Kim Won-ho/Seo Seung-jae, pelatih justru bereksperimen.

Sayangnya, taktik memecah kekuatan ini terbukti menjadi bumerang.

lihat fotoKIM/SEO - Pasangan anyar ganda putra Korea, Kim Wonho/Seo Seungjae lolos final Malaysia Open 2025, Sabtu (11/1/2025) di Axiata Arena. (Foto Arsip Januari 2025). (Foto: BWF)
KIM/SEO - Pasangan anyar ganda putra Korea, Kim Wonho/Seo Seungjae lolos final Malaysia Open 2025, Sabtu (11/1/2025) di Axiata Arena. (Foto Arsip Januari 2025). (Foto: BWF)

Kejadian ini mengingatkan publik pada kekalahan Ki Dong-ju/Kim Won-ho dari pasangan Denmark, Daniel Lundgaard/Mads Vestergaard, di laga sebelumnya.

Percobaan untuk mendapatkan poin lewat duet dadakan kembali gagal total saat Jin/Seo bertekuk lutut dihadapan Chiu/Wang.

Misi Mustahil di Denmark

Korea Selatan kini menatap jalan terjal untuk menjaga tradisi selalu lolos ke perempat final yang mereka jaga sejak 2018.

Misi untuk kembali naik podium dan mengalungkan medali Thomas Cup yang terakhir kali mereka rasakan pada edisi 2016 tampak semakin jauh dari kenyataan.

Pada tahun 2016, saat Korea meraih medali terakhirnya, Seo Seung-jae masih merupakan pemain muda.

Kini, sebagai pemain senior, beban yang dipikul Seo jauh lebih berat.

Jika tim pelatih tidak segera melakukan evaluasi radikal pada susunan pemain di laga sisa, bukan tidak mungkin Korea Selatan akan pulang lebih awal.

(Tribunnews.com/Niken)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved