Thomas dan Uber Cup
PBSI Evaluasi Kegagalan Tim Thomas Indonesia di Fase Grup, Eng Hian Minta Maaf
Eng Hian menilai Prancis memiliki keuntungan dari segi komposisi pemain, terutama dengan keberadaan Popov bersaudara
PBSI Evaluasi Kegagalan Tim Thomas Indonesia di Fase Grup, Eng Hian Minta Maaf
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) menyampaikan evaluasi atas kegagalan Tim Thomas Indonesia di ajang Thomas & Uber Cup Finals 2026 yang berlangsung di Horsens, Denmark, pada 24 April hingga 3 Mei 2026.
Pada turnamen kali ini, Indonesia tergabung di Grup D bersama Prancis, Thailand, dan Aljazair.
Persaingan di grup berlangsung ketat sejak pertandingan pertama hingga laga terakhir fase grup.
Baca juga: Tim Thomas Indonesia Dilipat Prancis, Sabar/Reza: Mereka Benar-benar Berbeda dari Sebelumnya
Indonesia sebenarnya masih memiliki peluang besar lolos ke babak perempat final jelang pertandingan penentuan melawan Prancis.
Skuad Merah Putih bahkan bisa keluar sebagai juara grup apabila menang dengan skor 3-2.
Kekalahan tipis 2-3 pun masih membuka peluang lolos sebagai runner-up.
Namun situasi berubah setelah Indonesia takluk 1-4 dari Prancis.
Hasil tersebut membuat Indonesia finis di posisi ketiga klasemen akhir Grup D dan gagal melangkah ke fase gugur.
Sementara Thailand berhasil keluar sebagai juara grup usai mengalahkan Prancis dengan skor 4-1. Prancis pun memastikan tiket perempat final sebagai runner-up grup.
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Eng Hian, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Indonesia atas hasil yang belum memuaskan tersebut.
“Atas nama PBSI, saya memohon maaf karena belum bisa memberikan hasil yang terbaik untuk Thomas Cup kali ini. Harus kami akui Prancis tampil lebih baik dari kita hari ini,” ujar Eng Hian.
“Kami menerima hasil ini dan mengakui keunggulan tim Prancis yang mampu memanfaatkan peluang dengan sangat baik di setiap partai,” lanjutnya.
Eng Hian menilai Prancis memiliki keuntungan dari segi komposisi pemain, terutama dengan keberadaan Popov bersaudara yang mampu bermain di sektor tunggal maupun ganda.
Kondisi tersebut membuat Prancis lebih fleksibel dalam menentukan susunan pemain.
Menurutnya, tiga partai awal yang didominasi sektor tunggal berlangsung cukup berimbang jika melihat ranking dunia maupun rekor pertemuan para pemain.
Indonesia sebenarnya sempat memiliki peluang mencuri poin melalui Anthony Sinisuka Ginting.
Namun, Ginting mengalami masalah fisik pada akhir gim ketiga setelah sempat terjatuh dan mengalami kram saat menghadapi Toma Junior Popov.
Kondisi tersebut membuat pergerakan dan akurasi pukulan Ginting menurun hingga akhirnya kalah tipis 20-22 pada gim penentuan.
Selain itu, harapan Indonesia untuk memperpanjang peluang lolos juga sempat bertumpu pada pasangan ganda putra Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani di partai keempat.
Padahal, secara rekor pertemuan, Sabar/Reza unggul 2-0 atas pasangan Eloi Adam/Leo Rossi.
Namun dalam pertandingan tersebut, pasangan Indonesia gagal tampil maksimal akibat tekanan lawan dan permainan yang kurang berkembang.
Satu-satunya poin Indonesia saat melawan Prancis akhirnya disumbangkan pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Mereka sukses mengalahkan Popov bersaudara lewat pertarungan rubber game.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/TELAN-KEKALAHAN-Pebulutangkis-tunggal-putra-Indonesia-Jonatan-Christie.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.