MotoGP
Efek Komentar Negatif Fabio Quartararo, Eks Pembalap MotoGP Sebut Rusak Citra Yamaha
Efek lontaran komentar negatif dari Fabio Quartararo dinilai eks pembalap MotoGP bisa merusak citra Yamaha yang tengah bangkit.
Ringkasan Berita:
- Neil Hodgson menyarankan departemen komunikasi Yamaha untuk melarang Fabio Quartararo berbicara ke media
- Fabio Quartararo mengakui bahwa motor Yamaha saat ini stagnan dan sangat sulit untuk menembus posisi sepuluh besar
- Meskipun performa motor jeblok, Quartararo tetap fokus menjaga mentalitas dan fisik karena baginya memacu motor MotoGP
TRIBUNNEWS.COM - Atmosfer di dalam garasi Yamaha semakin memanas bukan karena prestasi, melainkan karena rentetan kritik tajam yang terus mengalir dari sang pembalap utama, Fabio Quartararo.
Situasi ini memicu reaksi keras dari mantan pembalap MotoGP, Neil Hodgson, yang menilai bahwa sudah saatnya El Diablo berhenti mengumbar keburukan timnya di depan media.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa kondisi Yamaha saat ini jauh dari kata ideal. Hasil balapan yang ada hanyalah sumber frustrasi yang terus berulang.
Bayangkan saja, posisi pole yang masih bisa diraih Quartararo pada beberapa seri tahun lalu, kini tinggal kenangan.
Di musim 2026 ini, menembus Q2 saja sudah seperti mendaki gunung, apalagi berharap podium atau sekadar finis di posisi lima besar.
Membungkam Quartararo
Kondisi memprihatinkan ini memancing Neil Hodgson untuk bersuara lantang.
Pria yang kini menjadi analis tersebut menyarankan agar departemen komunikasi Yamaha mengambil langkah tegas untuk membungkam komentar-komentar negatif Quartararo.
"Jika saya berada di departemen komunikasi Yamaha, saya akan mengatakan kepadanya 'cukup'. Saya tidak akan membiarkannya berbicara kepada media lagi karena itu sangat negatif," jelas Hodgson mengutip Motosan.
Baca juga: Senada dengan Keluhan Fabio Quartararo, Yamaha Bingung karena Masih Meraba Mesin Baru
Meski demikian, Hodgson tidak menampik bahwa apa yang diucapkan Quartararo adalah fakta di lapangan.
"Apa yang dia katakan itu benar, tapi dia tidak perlu terus-menerus melakukannya. Saya menyukai Fabio, dia orang yang sangat baik dan ramah, tapi saya pikir dia sangat kompetitif. Dia seolah tidak ingin membiarkan tim menyerah begitu saja," tambahnya.
Hodgson menganalisis bahwa kritik pedas Quartararo sebenarnya adalah bentuk tekanan agar Yamaha tidak bekerja dengan ritme yang lambat.
"Ini seperti dia berkata, 'Saya akan terus menghantui kalian, motor saya sampah dan harus menjadi lebih baik.' Saya juga mendengar komentar negatif serupa dari Toprak," ungkapnya.
Mentalitas Baja di Tengah Badai
Seolah tidak mempedulikan saran untuk bungkam, Fabio Quartararo justru kembali buka suara melalui laman resmi MotoGP.
Pembalap bernomor start 20 ini memilih untuk mengalihkan pembicaraan pada motivasi internal dan proses pendewasaan dirinya menghadapi keterpurukan.
"Soal kemenangan, saya tidak ingin kehilangan rasa itu. Saya ingin kembali ke atas dengan usaha saya sendiri," kata Fabio.
Ia mengenang masa sulitnya saat berusia 15 hingga 18 tahun, di mana ia harus tumbuh di bawah tekanan ekspektasi besar dan cedera parah.
"Saya sudah dibandingkan dengan nama-nama besar saat itu, hasil tidak sesuai keinginan, dan saya hidup terpisah dari keluarga. Saya melewati masa-masa yang sangat berat."
Mentalitas Quartararo rupanya banyak dipengaruhi oleh masa kerjanya bersama Luca Boscoscuro sebelum naik ke kelas utama.
"Bahkan saat hasilnya buruk, kami bekerja sangat baik bersama. Ini memberi saya dorongan mental yang luar biasa dan membantu saya transisi ke MotoGP. Saya melihat diri saya lebih dewasa sekarang," jelasnya.
Menanggapi hasil jeblok di musim 2026, Quartararo mengakui bahwa menjaga motivasi adalah tantangan terbesar.
"Sangat mudah untuk kehilangan arah dan motivasi saat hasil tidak bagus. Pada akhirnya, ini adalah sesuatu yang harus Anda lakukan untuk diri sendiri."
"Tidak masalah apakah Anda menang atau tidak. Saat menang, semuanya terasa mudah. Tapi saat Anda berjuang keras, itulah saat-saat sulit yang sebenarnya muncul," paparnya.
Di tengah badai kritik, Quartararo menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki ambisi untuk membuktikan apa pun kepada orang lain. Keinginannya untuk bangkit murni berasal dari dalam dirinya sendiri.
Ia bahkan mengaku memiliki sisi aneh dalam hal berlatih fisik demi mengimbangi tuntutan motor MotoGP yang kian brutal.
"Sesuatu yang sangat saya nikmati adalah memacu diri hingga batas maksimal, ke zona yang bukan zona nyaman saya. Bagi sebagian orang itu aneh, tapi saya suka berlatih sampai merasa sakit," tuturnya.
"Orang mungkin mengira kami gila. Sebagian otak kami fokus pada lonjakan adrenalin itu. Saya merasa seperti orang gila yang mengendarai motor MotoGP dan memacu hingga batas limit, tapi bukan merasa seperti pahlawan super," tutup Quartararo.
(Tribunnews.com/Niken)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.