Ayu Sartika Berat Tinggalkan Deltras
Tawaran manajer dari tiga klub luar Pulau Jawa tampak menggiurkan. Namun Ayu Sartika Virianti mengaku lebih memilih Deltras Sidoarjo.
"Hati sih memilih Deltras karena kami susah dan senang bersama, dari Divisi Utama saya ikut membantu juga sampai Liga Super Indonesia, masa di tengah jalan saya tinggalkan," ujar Ayu, Minggu (18/7/2010).
Meski demikian, Ayu belum memberikan keputusan final apakah akan tetap mendampingi the Lobster atau tidak. Apalagi satu dari tiga klub yang menawarinya memiliki reputasi dan prestasi yang bagus. Ketiganya ialah klub Divisi Utama.
Jika bertahan di Deltras, Ayu harus siap menjalani konsekuensinya. Selama dua musim kompetisi, the Lobster selalu bergelut dengan masalah finansial. Itu juga yang membuat penanggungjawab Deltras Vigit Waluyo akhirnya memilih mundur.
Sementara Ayu mengaku tawaran dari tiga klub lain juga menarik. "Kalau saya tinggalkan Deltras, mungkin Deltamania kecewa, tetapi mungkin saya siap menanggung konsekuensinya," ucapnya.
Sementara itu Vigit yang juga ayahanda Ayu mengatakan bahwa dia tidak ikut campur dalam pengambilan keputusan putrinya. "Terserah Ayu mau pilih apa," ujar Vigit.
Tanpa adanya kepastian pembayaran gaji dan manajemen Deltras, pembentukan tim jelang Liga Super Indonesia juga terhambat. Sudah lebih dari satu bulan para punggawa Deltras senior tidak lagi berlatih.
Ayu diumumkan sebagai manajer Deltras bersamaan dengan launching tim pada 24 Oktober lalu. Tidak banyak yang terkejut ketika cewek berambut panjang itu akhirnya menempati posisi penting tersebut. Selain dia adalah putri dari Vigit Waluyo yang menjadi penanggung jawab Deltras di musim 2009-2010, Ayu menjadi manajer tim itu ketika berlaga di Liga Jatim VIII 2009.
Meski berstatus sebagai anak penanggung jawab Deltras, Ayu menyatakan grogi memegang peranan itu di Divisi Utama. Faktor usia menjadi salah satu penyebabnya.
Memang, usia Ayu yang baru mencapai 22 tahun masih relatif muda untuk memegang jabatan manajer klub Divisi Utama. Mayoritas pemain Deltras lebih tua daripada dia. Seperti kebanyakan orang Jawa, perasaan sungkan kepada yang lebih tua kerap terjadi. (*)