PSSI versus LPI
90 Persen Klub di PSSI Tak Cerminkan Kemandirian Klub
Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Abdullah Bahlan mengkritisi persoalan klub yang menasbihkan diri sebagai klub profesional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Abdullah Bahlan mengkritisi persoalan klub yang menasbihkan diri sebagai klub profesional. Namun kenyataannya, khususnya para peserta Indonesia Super League (ISL), sedikitnya 90 persen bergantung kepada APBD dan tidak dikelola secara profesional.
"Ini tidak mencerminkan kemandirian klub," tegasnya dalam diskusi Klub Sepakbola Tanpa APBD di kantor LBH, Jakarta, Minggu (16/1/2011).
Ia melihat transparansi dan akuntabilitas dana APBD yang diberikan kepada klub masih sangat minim. Betapa tidak, pihak klub tidak pernah menyampaikan pendapatan klub di luar APBD sepertri sponsor, hak siar dan lain sebagainya.
"Bagaimana publik akan tahu kalau real kontrak seorang pemain Rp 100 juta, tapi kontrak tidak pernah dipublikasikan dengan terbuka, begitu juga gaji pemain," ujarnya.
Menurut Dahlan, sebaiknya APBD dialihkan untuk pembinaan pemain usia dini daripada diberikan kepada klub yang tidak jelas penggunaannya.(*)