Liga Champions
Barcelona Makin Identik dengan Kontroversi
Barcelona semakin identik dengan kontroversi terutama ketika mentas di Liga Champions.
TRIBUNNEWS.COM, BARCELONA - Style permainan Barcelona menjadi trademark sepakbola dunia. Hal itu beriringan dengan prestasi menjulang yang diraih selama empat tahun terakhir. Namun selama periode itu pula Blaugrana juga identik dengan kontroversi terutama ketika mentas di Liga Champions.
Keputusan wasit Bjorn Kuipers yang memberi penalti kedua kepada Barcelona pada leg kedua perempat final melawan AC Milan di Stadion Camp Nou, Rabu (4/4/2012) dini hari, makin menyeret tim pimpinan Pep Guardiola itu terlibat dalam pertandingan kontroversial. Keputusan yang meragukan dari wasit sangat berpengaruh terhadap kemenangan 3-1 Barca atas AC Milan dan meloloskan tim asal Spanyol ke semifinal Champions.
Menjelang bentrokan pertama antara AC Milan kontra Barcelona, pelatih Real Madrid Jose Mourinho menyuarakan harapannya agar laga ini jadi tontonan sepak bola bukan ofisial pertandingan yang akan menjadi pembicaraan setelah peluit akhir.
Yang terjadi sebagai fokus pembicaraan setelah leg pertama berakhir adalah kondisi lapangan San Siro yang dinilai kurang bagus dan menyebabkan laga berujung imbang tanpa gol. Tapi di leg kedua di Camp Nou, tim Catalan menang 3-1.
Hasil itu menjadikan Barcelona sebagai tim pertama yang lolos ke semifinal dalam lima musim berturut. Lionel Messi juga mencatat sejarah baru dengan memecahkan pencetak gol terbanyak di Champions. Tapi selesai pertandingan, sorotan semua orang justru tertuju pada satu orang yaitu wasit.
Keputusan wasit memberi penalti kedua kepada AC Milan setelah Alessandro Nesta menarik kaos Sergio Busquets dianggap kontroversi. Saat Busquets terjatuh di dalam kotak penalti, bola belum bergulir, namun keputusan wasit tak bisa lagi dihalangi.
Sejak Guardiola mengambil alih Barcelona pada tahun 2008 dan memimpin tim dengan kemenangan demi kemenangan, dari satu sukses ke kesuksesan lainnya, Blaugrana kerap dituduh selalu diuntungkan oleh keputusan wasit yang memihak pada mereka.
Awal dari kontroversi itu terjadi ketika Barcelona bersaing dengan Chelsea pada tahun 2009. Pada saat itu Mourinho dan Frank Rijkaard jadi pelatih di kedua belah pihak. Chelsea berhasil menahan imbang Barca 0-0 di leg pertama semifinal.
Pada laga leg kedua di Stamford Bridge, The Blues memimpin lewat gol Michael Essien. Tapi kemudian mereka tidak lolos karena gol Andres Iniesta yang membuat laga berujung pada skor 1-1. Bukan hasil itu yang diperhatikan banyak orang
Tapi adalah keputusan sangat kontroversial saat laga berlangsung, dimana wasit terlihat jelas memihak kepada Barcelona. Wasit tak pernah menghukum pemain Barcelona yang melakukan pelanggaran termasuk penalti yang seharusnya didapatkan Chelsea setelah Samuel Eto'o menghalau bola dengan tangan di dalam kotak penalti.
Selanjutnya terjadi pada tahun 2010. Barcelona tertinggal 3-1 pada leg pertama semifinal dari Inter Milan. Drama kemudian terjadi di leg kedua pada laga di Camp Nou. Busquets kembali jadi aktor pemicu kontroversi.
Berkat aksi teaterikalnya, Busquets yang hanya sedikit mengalami gesekan dengan Thiago Motta terjatuh, seoalah Motta menyentuhnya. Wasit Franck De Bleeckere yang memimpin laga ketika itu langsung memberi kartu merah ke Motta dan Inter pun harus bermain dengan 10 pemain.
Kejadian ini sangat memalukan, ketika Motta akan berjalan keluar lapangan Busquets tertangkap kamera mengintip melalui jari-jarinya untuk melihat apakah upayanya telah terbayar atau tidak oleh wasit. Aksi itupun sama sekali tak mengubah keputusan De Bleckere. Beruntungnya saat itu Inter meski dengan hanya 10 pemain unggul agregat 3-2 dan lolos ke fase selanjutnya.
Tim lain yang merasakan kepedihan dari tipu daya wasit adalah Arsenal di Champions musim 2011. The Gunners menang 2-1 pada leg pertama laga kandang. Tapi kemudian mereka dihancurkan di Camp Nou 4-3.
Kali ini yang jadi korban adalah Robin Van Persie. Wasit Massimo Busacca memberi kartu merah kepada Van Persie karena dinilai tidak mengindahkan peluit wasit saat terjadi offside. Van Persie mengklaim setelah pertandingan bahwa ia tidak bisa mendengar peluit karena penonton yang ramai.
Dan diapun menendang bola satu detik setelah Busacca meniup peluitnya. Tapi tak ada yang bisa menolong Arsenal saat itu, The Gunners dipaksa bermain dengan 10 pemain dan menyebabkan mereka tereliminasi.
Puncak kontroversi Barcelona juga terjadi musim lalu ketika Barcelona berhadapan dengan Real Madrid di semifinal. Kontroversi ini telah dimulai pada pertemuan leg pertama, di mana Real Madrid kalah 2-0 di kandang.
Barcelona menjaringkan dua gol melalui Messi, tetapi dua gol itu dicetak setelah Pepe diusir pada menit ke-61 karena pelanggaran terhadap Dani Alves. Tepuk tangan sarkastik Mourinho atas keputusan wasit Wolfgang Stark juga membuatnya mendapatkan diusir dari bangku cadangan.
Setelah pertemuan itu, Pepe dan beberapa rekan satu timnya di Madrid menuduh pemain Barcelona melakukan sandiwara dan menyatakan bahwa tidak ada kontak dibuat dengan Alves sebelum ia berputar lalu menginjak kakinya.
Saat konferensi pers usai pertandingan, Mourinho melanjutkan omelan dan mengendus adanya konspirasi. Dia menuduh UEFA, dan bahkan Unicef, bekerja sama dengan Blaugrana. Salah satu pernyataan pedas yang dikatakan Mourinho saat itu adalah, "Jika saya mengatakan apa yang benar-benar saya pikir dan merasa tentang UEFA, maka karir saya akan berakhir sekarang. Sebaliknya saya hanya akan mengajukan pertanyaan, yang saya berharap suatu hari untuk mendapat jawaban. Mengapa Ovrebo? Mengapa Busacca? Mengapa De Bleeckere? Mengapa Stark?," kata Mourinho menyebut nama-nama wasit yang telah membantu Barca.
Barcelona memang selalu lekat dengan kontroversi. Jika ini terus dilanjutkan maka Barcelona sendiri telah menodai asas dasar dalam sepakbola yakni sportifitas dan fair play. Bahkan buruknya lagi saat ini telah muncul suara-suara sumbang dari fans yang menuding adanya konspirasi antara Barcelona dengan UEFA.(Tribunnews.com/cen)