Manchunian Sebut Spanish Scholes, Liverpudlian Juluki The Next Xabi
Gelandang Real Betis, Benat sedang naik daun. Aneka pujian berhamburan untuknya, bahkan hingga dari seberang lautan
TRIBUNNEWS.COM – Gelandang Real Betis, Benat sedang naik daun. Aneka pujian berhamburan untuknya, bahkan hingga dari seberang lautan. Para pendukung Manchester United memujanya sebagai "Spanish Scholes". Pendukung Liverpool menggadang-gadang sebagai "The Next Xabi Alonso".
Man United, dan Liverpool memang adalah dua dari sekian banyak klub elite yang mengincar gelandang berusia 25 tahun tersebut. Di negaranya sendiri, Spanyol, ia kabarnya sudah dilirik oleh Barcelona, dan Real Madrid.
Aksi pemain yang bernama lengkap Beñat Etxebarria Urkiaga ini memang memikat. Ia ditengarai sebagai aktor utama dibalik melesatnya prestasi Real Betis hingga bisa bersaing di posisi lima besar klasemen sementara La Liga hingga akhir pekan ini.
Total, di ajang La Liga, ia bermain 14 kali, dan mengemas tiga gol, serta lima assist, plus 17 kali tendangan ke arah gawang lawan. Sebuah catatan statistik yang pastinya menggiurkan untuk posisi gelandang bertahan seperti dirinya.
Salah satu gol yang banyak diingat adalah gol semata-wayangnya ke gawang Real Madrid pada 25 November lalu. Ketika itu, dari luar kotak penalti ia melepaskan tendangan geledek yang tak bisa dihalau kiper nomor satu Spanyol, Iker Casillas.
Selain mencetak gol kemenangan, aksi Benat di partai itu sungguh memikat. Ia beberapa kali terlibat duel satu lawan satu melawan Xabi Alonso. Hasilnya, beberapa kali ia berhasil lolos dari kawalan Alonso, dan mengancam pertahanan Madrid. Sebaliknya, ia juga beberapa kali menahan laju Alonso saat masuk ke area pertahanan Betis. Konon kabarnya, setelah melihat aksi menawan pemain kelahiran Igorre, Spanyol 19 Februari 1987, pelatih Madrid, Jose Mourinho pun langsung terpikat.
Mengandalkan sepakan kaki kanan yang keras, Benat biasa beroperasi sebagai gelandang bertahan dalam formasi favorit pelatih Betis, Pepe Mel 4-2-3-1. Dari posisi itulah, bersama partnernya, Canas, mereka jadi pemain pertama yang menghadang serangan lawan. Dan jadi pemain pertama pula yang mengalirkan arus serangan.
Jika menilik pada hasil dari statistik secara keseluruhan, Benat terlihat tak terlalu istimewa. Sama seperti gelandang di La Liga lainnya, nilai umpannya rata-rata mencapai 80.9%, dengan rata-rata sekitar 48,7 persen di setiap pertandingan. Hasil statistik itu setara dengan para gelandang lain yang berada di sepuluh besar La Liga.
Namun, jika melihat statistik Betis secara keseluruhan, barulah terlihat betapa besar dampak dari kehadiran Benat. Secara keseluruhan Betis jarang mendapatkan bola, dan rata-rata penguasaan bola mereka musim ini hanya 45% tiap pertandingan. Sedang rasio umpan mereka pun hanya berkisar di angka 75%, yang membuat Betis berada di peringkat kedua terbawah dari 20 klub yang berkiprah di La Liga.
Nah, Benat sendiri menyumbang sekitar 12% dari umpan Betis secara keseluruhan musim ini, dengan rata-rata 1,9 % umpan di setiap pertandingan. Poinnya jauh lebih banyak ketimbang yang dilakukan Xabi Alonso atau Cesc Fabregas musim ini. Patut diingat pula, Xabi dan Fabregas leluasi beraksi lantaran ditopang rekan-rekannya yang merupakan pemain kelas dunia. Sedang Benat dibantu para pemain Betis yang levelnya belum mendunia.
Salah satu kelebihan Benat adalah kepandaiannya mencari posisi. Posisinya yang menyuruk ke dalam area pertahanan kerap membuat kubu lawan kecolongan. Dengan gerakan tak disangka-sangka, ia bisa muncul secara tiba-tiba di kotak penalti untuk menyambut umpan silang.
Namun yang lebih sering dilakukannya adalah melepas tendangan geledek dari luar kotak penalti. Persis seperti yang biasa dilakukan gelandang Man United, Paul Scholes.
Sayangnya, Benat juga ternyata mewarisi karakter temperamental seperti halnya Scholes. Tengok saja, dari sepuluh pertandingan ia sudah mengemas enam kartu kuning. Ditelisik lebih jauh lagi, ia telah melakukan 70 kali pelanggaran selama 10 kali bermain! Pastinya ini menjadi catatan serius karena menyangkut karakter seorang pemain yang bukan tak mungkin bisa memberikan kesulitan bagi tim.
Benat sendiri menyadari kelemahannya. Ia mengakui, tekelnya tak terlalu mulus. Sebagai catatan, situs Goal memberi nilai lima untuk tekel, dan disiplin untuk dirinya. "Saya paling tak suka ketika ada pemain lawan yang bisa melewati saya. Ketika ada pemain melewati saya, insting saya mengatakan untuk menahannya dengan segala cara hingga terjadilah tekel. sayangnya, tekel saya masih jauh dari sempurna," ujarnya.
Ia berkilah, saat ini dirinya masih muda hingga masih belum terlalu bisa menahan diri. "Saya masih berusia 25 tahun. Ada saatnya nanti dimana saya bisa bermain lebih sopan, dan mengendalikan diri. Semua ada waktunya," kata Benat yang musim lalu mengemas sebelas kartu kuning. (Tribunnews/den)