Takhta Ballon d'Or Messi akan Lepas?
Kota Zurich, Senin (13/1/2014) akan menjadi saksi terciptanya sejarah baru
TRIBUNNEWS.COM – Kota Zurich, Senin (13/1/2014) akan menjadi saksi terciptanya sejarah baru. Saat itulah, siapapun yang akan meraih gelar Ballon d'Or bakal berstatus pencipta sejarah. Ada tiga kandidat utama yang saling berseteru, yakni 'sang juara bertahan' Lionel Messi, 'sang penantang reguler' Cristiano Ronaldo dan 'underdog' Franck Ribery.
Ketiga nama tersebut bersiap untuk membuat lembaran baru. Lionel Messi misalnya, jika menang akan membuatnya menjadi pemain yang berhasil mengoleksi lima gelar Pemain Terbaik Dunia. Sebelumnya, ia menjadi terbaik sejagad pada 2009, 2010, 2011 dan 2012.
Lain lagi bagi Cristiano Ronaldo. Jika menjadi pemuncak, dia akan mengobati rasa penasarannya, setelah enam kali berada di sana, tapi tak pernah sukses merengkuh gelar bergengsi secara individual tersebut.
Sementara Franck Ribery tercatat sebagai underdog yang paling memungkinkan untuk meraih prestasi mengesankan. Maklum, ia belum pernah masuk dalam jajaran tiga besar pemain yang akan beradu untuk menjadi yang terbaik.
Bukan rahasia lagi, pertarungan tiga kandidat tersebut sangat ketat. Proses voting yang berakhir pada 29 November lalu memberi banyak teka-teki. Begitu juga saat pengumuman berdasar hasil voting terbaru pada awal pekan ini, banyak pihak yang terus menduga.
Satu pertanyaan yang paling mengemuka tak lain adalah soal apa yang akan terjadi dengan Lionel Messi. Sosok Sang Messiah selalu memiliki magnet tersendiri. Ia selalu menjadi sorotan, meski tak bermain bagus sekalipun. Kualitas dan kapasitasnya sebagai pemain yang dianggap sumber nyawa Barcelona ini sudah tak bisa diganggu-gugat.
Sayangnya, ada beberapa pihak yang menganggap Lionel Messi sepanjang 2013 tak terlalu istimewa. Walhasil, semua itu membuat sederet pemain dan pelatih memprediksi, pemuda asal Argentina tersebut akan kehilangan takhta yang digenggamnya empat tahun beruntun.
Secara statistik, tanda-tanda ke arah sana sebenarnya sudah terlihat. Dilihat dari sisi manapun, baik produktivitas, menit bermain sampai akumulasi aksi teknis di lapangan hijau, justru membuka pintu baru bagi Cristiano Ronaldo dan Franck Ribery.
Hambatan cedera yang sempat menimpanya, menjadi titik lemah bagi Lionel Messi. Di sisi jumlah permainan dan menit bermain, Messi hanya mencatat 45 partai dan 3346 menit, terbilang jauh dengan apa yang dilakukan Cristiano Ronaldo (56 partai, 4542 menit) dan Franck Ribery (52 partai, 4018 menit). Hal itu selaras dengan jumlah gol, yang hanya didapat Messi sebanyak 42, bernaidng 66 milik Ronaldo.
Level akurasi tembakan yang biasa tinggi dari seorang Lionel Messi, juga mendadak melempem. Ia kalah dari Ribery yang mampu mencatat 60,9 persen, sementara sang Messiah cukup 59,6 persen. Hal itu terlihat dari 59 kali tembakan meleset alias tak tepat sasaran, sedangkan Ribery hanya 36 kali.
Soal assist dan mengkreasi peluang untuk menjadi gol juga Messi masih kalah. Level assist, Messi hanya sanggup mengoleksi 15, berbanding 18 milik Ribery. Kreasi peluang, Ribery mencatat 149 kali, Ronaldo 94 kali, sementara Messi hanya bisa 70 kali.
Kemampuan mengumpan juga tak seindah musim lalu. Kali ini catatannya (2136), kalah jauh dibanding Ribery (2903). Soal ketepatan sasaran juga sama, Ribery (85,7 persen) unggul dari Messi hanya hanya 84,5 persen. Semua itu berbanding lurus dengan umpan yang tepat sasaran. Messi hanya bisa mengkonversi 10 persen, sedangkan Ribery (27,59 persen) dan Ronaldo (16,5 persen).
Di segmen dribel dan duel, Lionel Messi juga hanya sanggup menang dari Ribery. Total kesuksesan dalam dribel lalu memenangkan duel alias bisa melewati lawan sebanyak 52,5 persen, unggul dari Ribery yang hanya 45,5 persen, tapi kalah dari Ronaldo (54,6 persen).
Semua data-data pendukung tersebut memberi banyak indikasi kalau takhta Messi akan direbut dua kandidat lain, Ribery atau Ronaldo. Legenda Arsenal, Thierry Henry mengakui, meski dirinya menjagokan Messi, tapi secara natural, seharusnya pemain kelahiran Rosario tersebut gagal menggapai gelar ke-5.
"Fakta memang begitu, tapi setahuku semuanya tak berarti apa-apa jika yang melakukannya dengan model voting. Kans Messi masih sangat besar, meski kemungkinan untuk kehilangan gelar itu juga sama besarnya," katanya, di L'Equipe.
Gelandang Bayern Muenchen, Thomas Muller menegaskan, seharusnya Messi tak berpredikat terbaik lagi tahun ini. Pasalnya, konsistensi dan kontribusi terhadap tim, tidak lagi semenonnjol beberapa tahun lalu.
"Faktor ini yang seharusnya menjadi titik lemah Messi. Ribery dan Ronaldo unggul segalanya dalam hal kontribusi, bukan cuma aksi. Di mataku, justru Ribery yang punya peluang besar, meski Ronaldo juga punya kesempatan tak kalah luas," sebut Muller.
Lalu siapa yang layak menjadi yang terbaik, dua nama mengerucut, yakni Ronaldo dan Ribery. Pelatih Paris Saint Germain, Laurent Blanc, di Football France mengungkapkan, dirinya lebih yakin kalau Ronaldo akan menjadi yang terbaik. Dari unsur apapun, Ronaldo punya segalanya. Tidak hanya di dalam lapangan, kemampuan Ronaldo juga sudah terbukti sampai di luar arena.
"Ronaldo punya kharisma, dan itu tak dimiliki Ribery. Nama terakhir memang berasal dari negaraku, tapi setidaknya dari sisi fair, Ronaldo lebih baik. Tapi tetap saja, di sisi hati kecil, Ribery akan menjadi juara," tuturnya.
Sementara para kandidat justru terlihat santai dengan keriuhan yang terjadi di luar mereka. Sebut saja Franck Ribery. Gelandang Bayern Muenchen ini mengakui, justru sang istrilah yang sangat getol menunggu pengumuman itu, sementara dirinya hanya senyam-senyum saja ketika sang istri mencoba untuk menarik perhatian.
"Setiap kali berkumpul di ruang tamu, istriku selalu menyiapkan satu tempat khusus, yang akan diisi satu trofi kemenangan sebagai peraih Ballon d'Or. Saya mencoba untuk tak berpikir tentang itu, tapi istriku memang sangat bersemangat," ungkap Ribery.
Dukungan terhadap Ribery sebenarnya sangat besar., termasuk dari Josep Guardiola. Pelatih FC Hollywood ini sampai menyebutkan, tak pernah dalam sejarah karernya, menemui tipikal pemain seperti karakter Ribery. "Caranya untuk terus bersemangat, bertarung dan berlari sangat luar biasa. Sungguh, sebuah kehormatan bagiku untuk melatih Ribery," sebut eks entrenador Barcelona ini.
Begitu juga dengan mantan pelatih Die Roten, Jupp Heynckes. "Kalau ada pemain seperti Ribery di tim Anda, apapun strategi yang akan diterapkan, sudah pasti bakal berkembang dinamis di lapangan. Dia punya jiwa kreasi yang luar biasa, dan mampu bergerak dari posisi manapun, serta mau menjemput bola untuk secepat kilat sudah berada di area depan gawang lawan," sebut Heynckes, di Kicker.de.
Sementara dukungan Ronaldo datang dari Pelatih Timnas Portugal, Paulo Bento, gelandang Real Madrid, Asie Illarramendi dan legenda Brasil, Ronaldo Luiz Nazario da Lima. Nama terakhir mengungkapkan, kelayakan Ronaldo terletak pada atraksi, ketajaman, spirit bagi tim, kreasi, kecepatan, akurasi tembakan dan daya magis di luar lapangan.
"Dia seorang yang komplet, dan itu sudah ditunjukkannya pada 2013. Dia layak mendapatkan Ballon d'Or, dan memang ini sudah menjadi momentumnya," tutur si Gigi Kelinci, panggilan Ronaldo senior.