Hardimen Koto: Kemampuan Bahasa, Kendala Utama Pesepakbola Indonesia
Hamka Hamzah misalnya. Ia kini memperkuat PKNS. Begitu juga dengan Andik Vermansah yang bermain di Selangor, serta Patrich Wanggai bersama T-Team.
TRIBUNNEWS.COM,SENAYAN - Pengamat sepak bola sekaligus agen pemain nasional Hardimen Koto menyebut kemampuan bahasa seorang pemain bisa mempengaruhi perkembangan kariernya.
Hal ini justru tidak dimiliki pemain Indonesia sehingga pemain lokal cenderung sulit menembus kompetisi teratas benua Asia. Tetapi tidak halnya dengan pemain keturunan Indonesia yang sempat dipanggil bergabung dengan Timnas. Kemampuan berbahasa justru membawa mereka bisa mengembangkan karir di negara yang membutuhkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Seperti bomber berkepala plontos Sergio van Dijk yang merapat ke Sepahan Isfahan di Liga Iran. Begitu juga dengan Irfan Bachdim yang merumput di kompetisi teratas Liga Jepang 'J-League 1' bersama Ventforet Kofu.
"Kalau menurut saya problem utamanya adalah kemampuan berkomunikasi. Irfan percaya diri karena bahasa Inggrisnya memang bagus. Lalu ada Gavin yang berdarah Amerika Serikat. Ia juga terbiasa dengan percakapan internasional," kata Hardimen kepada Super Ball.
Berbeda halnya dengan pemain Indonesia lainnya yang justru tidak banyak berkiprah di liga teratas Asia. Hamka Hamzah misalnya. Ia kini memperkuat PKNS. Begitu juga dengan Andik Vermansah yang bermain di Selangor, serta Patrich Wanggai bersama T-Team. Ketiga pemain ini berkompetisi di klub-klub Malaysia yang mutu kompetisinya tidak berbeda jauh dengan Indonesia dan menggunakan Bahasa Melayu yang tidak jauh berbeda dengan Bahasa Indonesia.