Soccer Star
Benteke Jadi Pemain Hebat karena Dilatih Sang Ayah
Ayah saya punya pengaruh sangat besar dalam hidupku. Ia pelatih seumur hidupku.
TRIBUNNEWS.COM - Jean Pierre Benteke punya peran sangat besar yang membentuk Christian Benteke jadi seorang striker tangguh seperti sekarang.
Bukan hanya karena sang ayah yang merupakan tentara ini memilih meninggalkan Kongo dan terbang ke Belgia, membawa istrinya, Marie-Claire, dan Benteke yang saat itu baru berumur dua tahun. Tapi juga karena sang ayah sampai saat ini selalu jadi motivator terbaik untuknya.
"Andai ayah saya waktu itu tak memilih meninggalkan Kongo, entah bagaimana nasib kita kemudian," ujar Benteke mengenang masa kecilnya seperti dikutip dari The Independent beberapa waktu lalu.
Ketika itu Kongo dilanda perang horizontal pada masa rezim Mobutu Sese Seko. “Ayahku menilai rezim Mobutu terlalu berbahaya bagi ibuku dan diriku. Toh, faktor utama ayahku pergi bukan semata-mata karena perang di negara kelahiranku. Tapi, karena status ayahku sebagai seorang militer. Dia tak ingin mengambil risiko karena statusnya bisa membuatnya tersangkut dalam perang. Itu jelas membahayakan ibuku dan aku sendiri yang saat itu masih kecil,” kata Benteke.
“Perjalanan hidup memang tak ada yang tahu. Secara tidak langsung, perang telah menakdirkan diriku menjadi pesepak bola profesional. Aku berterima kasih kepada ayah dan ibuku karena memilih Belgia sebagai tempat tinggal tetap,” tuturnya.
Benteke mengaku beruntung memiliki ayah yang berkarakter keras. Jean-Pierre selalu mengajarkan kedisiplinan dan pantang menyerah dalam mencapai tujuan.
“Ayahku adalah orang yang sangat keras. Dia memberitahuku bahwa karier pesepak bola tidak lama sehingga aku harus benar-benar menjadi hebat. Dia pun berkata jika aku hanya menjadi sampah dalam permainan, tak usah berada di lapangan dengan sepatu. Ayahku memang tak berbasa-basi. Tapi, nasihat-nasihat kerasnya membawaku ke tempat yang lebih baik,” terang Benteke.
Salah satu momen lain yang paling diingat adalah masa-masa pertama membela Aston Villa, dimana ia harus hidup mandiri jauh dari orang-tuanya yang tinggal di Belgia. Ketika itu, ia harus menjalani masa adaptasi yang sulit dimana dari 12 laga pertama ia belum juga berhasil mencetak gol.
Faktor gaya permainan yang berbeda, serta cedera yang menghinggapi membuatnya sulit mengembangkan permainan. Tak tanggung-tanggung, di Premier League yang banyak mengandalkan adu fisik ini, ia menderita cedera di lutut, dan paha di laga-laga awal. "Kesalahan utama saya adalah saya terus memaksakan main kendati masih cedera," ujarnya mengenang.
Menurutnya, ia sempat harus absen sepuluh hari karena cederanya itu, dan ia pun pulang ke Belgia. Di sana ia mendapat pencerahan dari sang ayah.
"Ayah saya punya pengaruh sangat besar dalam hidupku. Ia pelatih seumur hidupku. Ia memberi begitu banyak motivasi yang membuat saya bangkit lagi untuk mencoba yang lebih baik. Bukan hanya ayah saya saja tentunya, tapi juga ibu dan keluarga lainnya berperan sangat besar dalam mendukungku," ujar Benteke.
Masa rehat 10 hari itu terbukti jadi batu loncatan terbaik untuk Benteke. Setelah itu ia pun melejit. Total, musim pertamanya bersama Villa langsung menuai pujian dimana dalam 34 laga Premier League musim 2012-13, dia mendulang 19 gol.
Torehan itu melewati rekor gol legenda The Villans, Dwight Yorke, dalam semusim pada 1995-96 dan 1996-97 dengan 17 gol. Di semua ajang, Benteke mengemas 23 gol. Dia menjadi pemain pertama The Villans yang mampu mengoleksi lebih dari 20 gol dalam semusim di semua ajang setelah penyerang Juan Pablo Angel pada 2003-04.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/christian-benteke-nyundulll_20150727_183110.jpg)